
Disekolah.
Axelle berdiri di dekat motor kesayangannya, menunggu kedatangan Marsha. Namun yang di tunggu belum juga datang, tapi Raymond dan Farel yang datang menghampirinya.
"Xell!" Sapa Raymond.
"yo." farrel mengangkat tangan nya untuk melakukan tos dan Axelle melakukannya.
" Lagi nunggu iapa?Ayo masuk" ajak Raymond.
"Kaian duluan sajalah,Aku masih ada urusan." Jawab Axelle sambil celinga celinguk mencari Marsha.
"Kau mencari siapa ,sih?" tanya farrel yang ikeut celingak celinguk juga.
"Kalian duluan saja,aku akan menyusul nanti." Axelle menatap kedua temannya dengan tatapan kesal.
"Terserah kau saja ." jawab Raymond lalu mengajak farrel masuk juga.
Axelle sepertinya tak peduli ddengan kedua temannya yang mmerasa kesal padanya.
setelah beberapa saat menunggu,Akhirnya dia melihat Marsha memasuki sekolah. Axeelle langsung berjalan mendekati Marsha yang sedang memarkirkan sepeda nya.
" Kenapa baru datang?" tanya Axelle yang membuat Marsha terkejut karena tak melihat kedatangan Axelle.
"Kau ini bikin kaget saja." kataMarsha.
"Kita harus bicara." Axelle terlihat serius.
"Ada apa?" Marsha ang polos tak mengerti sama sekali dengan sikap Axelle.
"Ayoo kita bicara di tempat lain saja." Ajak Axelle sambil menggenggam tangan Marsha.
Marsha yang melihat pak Iwan datang langsung menepis tangan Axelle.
"Nanti saja,ya. Aku harus bicara dengan Pak Iwan dulu." Katanya lalu berlari pergi meninggalkan Axelle.
Axelle mendengus kesal dan dengan tergesa-gesa berlari mengikuti Marsha. Sesampainya di depan pintu kelas, Axelle melihat ke dalam kelas. Namun Marsha tidak ada di dalam, saat Axelle hendak melangkahkan kakinya tiba tiba Raymond memanggil dan menghampirinya di ikuti Farel.
"Xell, kau mau kemana lagi sih?" protes Raymond.
"Apaan si? Bisa diam ga? Aku ada urusan." jawab Axelle melirik sesaat ke arah Raymond.
"Xell, Alby-!?" Farel tidak melanjutkan ucapannya, saat Axelle mengangkat tangannya.
"Xell!" panggil Raymond menatap punggung Axelle yang berlalu begitu saja meninggalkannya.
"Si Axelle kenapa si? Mondar mandir ga jelas, apa yang di carinya?" gerutu Raymond.
"Gak tau, ga jelas!" sahut Farel. "Udahlah kita masuk kelas lagi."
"Bentar, bentar," Raymond menahan tangan Farel.
"Apaan lagi?" tanya Farel terlihat kesal.
"Si Alby gimana?" tanya Raymond.
"Ntar pulang kita cari sekalian," jawab Farel.
"Mending kita cari sekarang." Usul Raymond.
"Kita cari kerumahnya." Raymond merangkul bahu Farel dan mengajaknya keluar dari kelas dengan paksa.
"Terus, sekolah kita gimana?" tanya Farel di sela langkahnya.
"Ah, sudahlah kita bolos saja hari ini." Raymond menjawab dengan asal.
Farel mengangguk, lalu mereka berdua memutuskan untuk mencari Alby di sekitar sekolah.
Sementara di depan ruangan guru BPK.
"Marsha!" panggil Axelle kepada Marsha yang baru saja keluar dari ruang BPK.
Marsha hanya diam mematung menatap Axelle.
"Sini, sini!" Axel meminta Marsha untuk mendekat, mau tidak mau gadis itu mendekati Axelle.
"Ada apa lagi?" tanyaa Mrsha terlihat kesal.
"Kamu itu gimanaa sih? aku belum selesai bicara." Kata Axelle.
"Aku lagi ada urusan, memangnya kamu mau bicara apa?" tanya Marsha tidak meemperhatikan Axelle.
"Aku ini pacarmu bukan?" tanya Axelle.
"Iya kamu pacar aku," jawab Marsha.
"Kalau aku pacar kamu, kenapa kamu mau saja di antar Haidar?" tanya Axelle keberatan.
Marsha menepuk keningnya sendiri.
"Astaga, kamu daritadi ngejar aku cuma mau mengataan itu?"
Axelle menganggukkan kepalanya.
"Astaga Axelle, kamu terlalu berlebihan. Haidar itu cuma teman, lagian kkamu tau sendiri, sahabat kamu terluka dan lebih membutuhkanmu,' jawab Marsha panjang lebar.
"Tapi-?" Axelle tidak melanjutkan ucapannya.
"Ah sudahlah, aku sibuk!" sahut Marsha lalu beranjak pergi meninggalkan Axelle.
"Ah sial!" gerutu Axelle.
Tanpa Axelle sadari, Farel dan Raymond sudah berdiri di belakangnya. Axelle berbalik badan menatap kedua sahabatnya, lalu ia mendorong bahu Farel dan Raymond dan beranjak pergi.
Raymond dan Farel saling pandang lalu melihat ke arah punggung Axelle.
"Apaan sih, ga jelas si Axelle!" gerutu Farel
"Entah, kenapa Axelle dan Alby semakin kesini semakin menyebalkan dan sibuk sendiri sendiri." Umpat Raymond.
"Yoi, dahlah kita healing saja gimana?" usul Raymond.
"Ayok!"
Tanpa mereka sadari, Haidar sedari tadi memperhatikan dan tersenyum sinis.
"Aku sudah tahu semuanya.." ucapnya pelan.