AXELLE

AXELLE
Bab 46



Dikediaman Dirga Dewangga.


Alby di siksa papanya dan kakak tirinya untuk kesekian kalinya tanpa belas kasihan. Di saksikan oleh ANgela dan anak buah dirga lainnya.


Alby meringkuk di sudut ruangan dengan wajah lebam dan darah segar mengalir di sudut bibir dan hidungnya.


Dirga Dewangga tanpa pearasaan terus menendang kaki Alby.


"Aku menyesal emiliki anak lemah sepertimu," kata Dirga.


"Seharusnya aku bunuh saja sejak kau masih bayi."


Alby tak mampu menggerakkan bibir dan tubuhnya, ia menerima apapun bentuk siksaan, bahkan Alby sudah siap menerima kematiannya.


"Sudah aku bilang, jangan kau menyukai Axelle. Mestinya kau bunuh saja." Kata Dirga.


"Asal kau tahu, mama meninggal gara gara Eva, ibu Axelle!" sela Gerry.


Alby sedikit mengangkat wajahnya menatap marah ke arah Gerry.


"Eva, adalah penyebab mama meninggal." Gerry mempertegas dan di benarkan oleh Dirga.


Antara percaya dan tidak, Alby hanya diam dan menundukkan kepalanya, ia sendiri bingung apakah harus mempercayai Gerry dan papanya yang selama ini menyiksanya sejak kecil.


"Kau tau rasanya kehilangan mama, sejak kecil kau tidak pernah merasakan pelukan mama bukan?"


Alby masih bungkam.


"Tidak seharusnya kau mencintai anak pembunuh, seharusnya kau membalaskan kematian mama." Gerry semakin gencar meracuni pikiran Alby.


Dirga dan gerry di buat marah oleh sikap diamnya Marsha, kemudian Dirga menyuruh Gerry untuk mengambil bukti bukti tentang kematian ibu kandung Alby adalah Eva.


Beberapa menit kemudian, Gerry kembali dengan membawa satu dokumen di tangannya lalu di lemparkan ke tubuh Alby.


"Cepat buka!" seru Gerry pada Alby seraya menendang kakinya.


Namun Alby masih tetap tak bereaksi apa apa, membuat Dirga marah. Dirga membungkukkan badannya lalu mencengkram rambut Alby dan menariknya supaya berdiri tegap.


"Kau jangan terlalu kasar padanya, kasihan anak itu," sela Angela yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.


"Bukan seperti itu cara memperlakukannya, biar aku yang melakukannya." kataAngela lagi, lalu ia berdiri dan menghampiri Alby dan meminta Dirga untuk melepaskan cengkramannya di rambut Alby.


"Sayang, ayo ikut bersamaku," ucap Angela merangkul bahu Alby dengan lembut.


Namun di luar dugaan, Alby menolak dan meludahi wajah Angela.


"Kau dan mereka, sama sama iblis," ucap Alby menatap tajam ketiga orang di hadapannya.


Dirga mengangkat tangannya hendak memukul wajah Alby, namun sebelum tangan Dirga menyentuh wajahnya. Alby menddorong tubuh Dirga sekuat tenaga lalu berlari keluar rumahnya. Gerry hendak mengejar Alby, namun di cegah Dirga.


"Biarkan dia pergi, nanti juga dia kembali," ucap Dirga.


Sementara itu Alby terus berjalan dengan langkah tertatih, ia tidak perduli dengan orang orang yang memperhatikannya sepanjang jalan. Luka lebam di wajahnya dan darah yang mengering di sudut bibirnya tidak ia perdulikanya lagi.


Alby berdiri tepat di jalan raya memperhatikan kendaraan yang berseliweran, yang ada di pikiran Aby saat ini adalah mati. Saat kaki kanannya hendak mulai melangkah dan siap menyeberang jalan, tiba tiba dri arah belakang satu teriakan membuyrkan lamunan Alby.


"Alby!"


Alby menoleh bersamaan dengan tangannya di tarik oleh Raymond lalu di peluknya dengan erat.


Sementara Farel yang berdiri di samping Raymond, matanya berkaca kaca melihat kondisi Alby yang mengenaskan.


"Kita ke rumah sakit," kata Raymond menoleh ke arah Farel.


Farel menganggukkan kepalanya lalu keduanya membawa Alby masuk ke dalam mobil dan membawanya ke rumas sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit Alby lngsung mendapatkan perawatan, Raymond dan Farel menunggu di ruang tunggu. Raymond berinisiatif menghubungi Axelle. Namun Axelle sama sekali tidak membalas pesan singkat atau mengangkat telepon dari Raymond.


"Aelle sibuk deengan kekasihnya, sudahlah jangan ganggu di lagi. Alby biar kita urus berdua," kata Farel kesal.


Raymond akhirnya setuju dengan ucapan Farel dan tidak akan menghubungi Axelle lagi jika terjadi apa apa pada Alby atau salah satu dari mereka berdua.


***


Dua hari Albby tidak pulang ke rumahnya karena ia harus di rawat di rumah sakit, hanya Raymond dan Farel yang tiap hari datang dan bergantian menunggu Alby selama di rawat.


Sepulang sekolah Raymond dan Farel mengunjungi Alby dan menunggu hasil tes kesehatan Alby yang akan di berikan siang ini.


"Bagaimana keadaanmu, Al?" tanya Raymond.


"Seharusnya kalian biarkan aku mati," kata Alby.


"Mati jangan di cari, kalau sudah waktunya mati sendiri," celetuk Farel mengundang tawa Alby.


"Aku mau mati cepat, biar ga ngerasain lagi pukulan papa." Balas Alby kesal.


"Gampang kok, tinggal kamu laporin ke polisi atau minggat saja dari rumahmu. Kau bisa tinggal drumahku, atau Raymond. Ga mungkin kita berdua membiarkan kau sengsara sendiri,' sahut Farel.


Alby melempar bantal ke arah Farel karena di buat kesal oleh setiap jawaban spontan Farel meskipun hati kecil Alby membenarkan perkatan sahabatnya itu.


"Axelle, bagaimana. Apa dia tau kalau aku di rawat?" tanya Alby pada dua sahabatnya.


Raymond melirik ke arah Farel, yang mengedipkan matanya. Raymond mengerti isyarat Farel.


"Al, kenapa kamu ga pernah cerita pada kami, tentang keadaanmu dan alasanmu menyamar?" tanya Raymond mengalihkan pembicaraan.


Alby menundukkan kepalanya dan meminta maaf pada mereka berdua, ia takut untuk berterus terang karena Alby begitu takut kehilangan sahabatnya terutama Axelle, sosok yang Alby kagum dan cintai diam diam.


Saat mereka tengah larut dalam curhatan Alby, pintu ruangan terbuka. Nampak seorang Dokter dan suster masuk ke dalam ruangan membawa berkas kesehatan Alby.


Dokter bertanya kepada mereka, di mana orang tua Alby. Alby memberikan pernyataan, kalau orang tuanya sudah tiada dan hanya di rawat oleh kedua kakaknya yaitu Farel dan Raymond, dan dokterpun mempercayainya.


Dokter meminta Raymond untuk membicarakan hasil kesehatan Alby. Namun Raymond dan Fareel meyakiinkan dokter kalau mereka lah yang bertanggung jawab atas diri Alby, kemudian dokter meminta Raymond untuk ke ruangannya.


Namun Alby mencegahnya, ia ingin tahu apa yang mau di sampaikan dokter mengenai kesehatannya dan akhirnya dokterpun menyetujui keinginan Alby.


Alby dan yang lain memperhatikan doter memberikan penjelasan Dokter dengan sekksama.


"Jadi, Alby sakit apa dokter?" tanya Raymond sudah tidak sabar.


"Kanker darah..." ucap Dokter.


Mata Farel dan Raymond melebar mendengar pernyataan sang dokter, lalu mereka berdua mengaihkan pandangannya paa Alby yang terlihat santai dan tertawa.


"Akhirnya, kematianku sudah dekat." Gumam Alby pelan namun terdengar oleh mereka semua.