
Suasana di sebuah perusahaan besar, bernama Blood Moon, terlihat semua karyawan sangat sibuk mempersiapkan berkas berkas npenting untuk di serahkan kepada pemimpin utama prusahaan yang menaungi dua perusahaan besar lainnya.
Nampak di pintu utama Tony Edgarsyah dan di sisi lain Dirga Dewangga berdiri tegap di dampingi Gerry Dewangga. Mereka berdua tengah menunggu kedatangan pemimpin utama perusahaan Blood Moon.
Tak lama kemudian, nampak sebuah mobil mewah memasuki halaman perusahaan tersebut, di kawal ketat oleh beberapa bodyguard. eorang pria tinggi besar, berusia sekitar 60 tahun. Meski sudah tua, namun kharisma yang di miliki pemilik perusahaan besar tersebut masih terlihat berwibawa dan gagah.
Anggoro Sabastian, pria blastean pemimpinn utama perusahaan Blood Moon. Berjalan dengan gagah di kawal anak buahnya memasuki pintu utama gedung dan di sambut oleh Toni dan Dirga dan para staf lainnya.
Anggoro sabastian berdiri tepat di hadapan Toni dan Dirga. Tersenyum simpul dan sesekali menganggukkan kepalanya.
"Selamat datang ketua," sapa Dirga basa basi, seraya membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
Anggoro mengangkat tangan kanannya meminta Dirga untuk berdiri tegap seperti semula, lalu ia mengalihkan pandangannya pada Toni yang terlihat biasa saja menyambut kedatangannya.
Salah satu asisten pribadi Anggoro maju ke depan dan membisikkan sesuatu ke telinga pria tua tersebut, kemudian asisten tersebut mempersilahkan Anggoro untuk berjalan lebih dulu menuju ruang utama, di ikuti oleh Dirga dan Toni.
Sesampainya di ruang utama, masing masing duduk di kursi yang sudah di sediakan. Toni duduk di kursi sisi kanan sang ketua, dan Dirga duduk di kursi sisi kiri di dekat ketua tersebut, masing masing pihk yang terlibat dalam perusahaan besar tersebut duduk dengan tenang memperhatikan Anggoro Sabastian.
Asisten pribadi Anggoro Sabastian, berdiri di depan yang hadir di acara petemuan penting tersebut. Mereka yang hadir di pertemuan itu meenatap asisten itu dan sudah tidak sabar menunggu informasi yang akan di sampaikan.
"Hari saya akan menyampaikann informasi penting terkait, penerus perusahaan ini."
Asisten yang bernama David terdiam sesaat menatap satu persatu yang hadir di pertemuan itu.
"Tuan Anggoro, memutuskan untuk turun dari posisi ketua dan di gantikan oleh salah satu keturunan pemilik dari dua perusahaan yang di naungi oleh Blood Moon."
Dirga melirik tajam ke arah Toni, sementara Toni sendiri terlihat acuh tak acuh. Bahkan ia tidak tertarik dengan pengumuman tersebut . sangat berbeda dengan Dirga yang terlihat sangat Ambisius dengan pengumuman itu.
"Tuan Anggoro sendiri yang akan menilai siapa yang akan menjadi penerusnya nanti." Lanjut Asisten pribadi Anggoro sebastian.
"Dia akan menilai dengan cara yang biasa dia lakukan secara pribadi hingga dia tau siapa yang pantas menjadi penerus ." sambung nya.
semua orang yang berada di ruang rapat tampak mulai ribut membicarakan hal ini. Mareka tau persis siapa yang di bicarakan oleh Anggoro Bagaskara tersebut.
satu persatu para dewan Direksi melirik ke arah Toni dan juga Dirga karena hanya mereka dua orang pemimpin dari dua perusahaan besar yang di naungi oleh Blood Moon.
semua berdiri saat Anggoro Sebastian lewat dan meninggalkan ruangan. satu persatu dari paa Dewan Direksi keluar ruangan sambil terus membicarakan pengumuman tadi.
"Bukankah sudah pasti kalau yang akan jadi penerus anaknya Pak Toni?!" kata salah satu dewan.
"Ya sepertinya memang begitu." timpal dewan yang lain.
"Tapi..memenag Pak Dirga punya anak laki-laki?" tanya dewan yang lainnya.
Mereka terus bicara sampai keluar ruangan. Sepertinya mereka bicara tanpa menyadari kalau Toni dan Dirga masih ada di ruangan itu dan mendengar pembicaraan mereka.
Mendengar percakapan para Dewan Direksi, membuat hati Dirga semakin memanas.
Dia menatap Toni yang akan keluar ruangan dengan tajam seolah akan menusuk tubuh Toni.
Tapi Toni sepertinya tak terpengaruh dan tetap berjalan santai melewati Dirga. Bahkan Toni tersenyum ke arah Dirga saat akan melewatinya.
Namun sepertinya senyuman itu di salah artikan oleh dirga. Dia berpikir kalau Toni mengejek dan meremehkan nya.
"Lihat saja, aku pasti akan mendapatkan kedudukan itu." Kata Dirga sambil mengepalkan tangan nya.
"Aku harus benar-benar membuat Alana menjadi lelaki sesungguhnya apapun yang terjadi."
Sementara Anggoro Sabastian dan asistennya menuju ruangan lain dan bertemu dengan dua informan yang selama ini bekerja untuk menemukan seorang anak laki laki.
"Informasi apa yang kalian dapatkan?" tanya Anggoro Sabastian kepada dua informan tersebut.
"Anak yang tuan cari, ada di kota ini."
Mata Anggoro Sabastian melebar, antara percaya dan tidak percaya. Akhirnya, usahanya selama ini menemukan titik terang.
"Temukan dia, dan bawa kehadapanku."
Kedua informan itu mengangguk lalu mereka berdua beranjak pergi meninggalkan ruangan.