
Raymond dan Farel berdiri saling berhadapan dengan Axelle dan saling menatap tajam.
"Kalian sudah tahu, tapi menutupinya dariku." Tuduh Axelle.
Raymond maju selangkah dan mendorong bahu Axelle pelan.
"Kamu bicara apa?"
Raymond tidak terima Axelle menuduhnya dan Farel telah menutupi kebohongan Marsha.
"Kalian tahu, tapi kalian sama sekali ga mau bicara!" ucap Axelle dengan nada tinggi.
"Hei!!" seru Farel menunjuk wajah Axelle.
"Kau lupa, Xel? selama ini kau yang menjauh dari kami. Duniamu hanya marsha! hanya Marsha! jangan lupakan itu!" pekik Farel, dan ucapan Farel membungkam mulut Axelle.
"Marsha adalah prioritasmu, sampai kau lupa punya tiga sahabat yang selalu ada buatmu! bahkan kau tidak mau tahu tentang Alby hanya karena janji konyolmu pada Marsha!!"
Farel kembali membuat Axelle terdiam dan menyadari kesalahannya.
"Alby yang selalu mendukungmu, dia tidak bersalah. Tapi kau membencinya seoalah olah ia sudah merugikanmu!"
Farel mengungkapkan semua kekesalannya pada Axelle sampai puas, lalu terdiam sambil mengusap wajahnya menarik napas panjang untuk meredakan emosinya.
"Aku dan Farel bukan tidak mau memberitahumu. Tapi aku mau, kau tahu sendiri." Pungkas Raymond.
Axelle menatap wajah kedua sahabatnya, lalu ia balik badan dan berlari meninggalkan kedua sahabatnya. Axelle ingin mengetahui dari mulut Marsha langsung dan memilih meninggalkan tempat pertandingan dan menemui Marsha di rumahnya. Sementara Raymond dan Farel kembali masuk ke dalam aula pertandingan untuk memberikan suport pada Alby.
Sementara Alby dan Haidar yang sudah bersiap bertarung untuk memenangkan kursi ketua di perusahaan Blood Moon. Haidar nampak tenang, menatap ke arah Alby.
Haidar berjalan lebih dekat dengan Alby dan mengucapkan sesuatu dengan pelan dan hanya Alby yang mendengarnya.
Alby menatap Haidar tanpa berkedip, kedua tangannya mengepal lalu di angkat siap menghadapi Haidar. Wasit memberikan aba aba dan meminta mereka untuk bersiap.
Alby langsung menyerang Haidar dan berhasil mendapatkan poin hingga Dirga dan Gery tersenyum puas melihat Alby berhasil memenangkan poin berkali kali. Raymond dan Farel terus memberikan support meski mereka berdua tahu, resikonya apabila Alby menang ataupun kalah.
Di babak pertama, Alby mendapatkan beberapa poin dan semakin memberikan harapan besar p[ada dirga kalau putrinya yang akan memenangkan kursi ketua.
Saat mereka berdua sedang istirahat sebelum melanjutkan babak yang kedua, Dirga dan Gerry menghampiri Alby di ikuti raymond dan Farel.
"Kau harus menang, jika tidak. Aku sendiri yang akan membunuhmu." Ancam Dirga.
Alby hanya diam mendengar ancaman Dirga yang sudah biasa ia dengar, bahkan siksaan yang biasa ia terima pun sudah membuat ia mengambil keputusan yang fatal.
Alby mengalihkan pandangannya pada dua sahabatnya. Mereka memang tidak saling bicara, namun sahabat mampu mengerti sesuatu yang tidak bisa di mengerti sekalipun.
Raymond menggeleng gelengkan kepala pada ALby sebagai pertanda kalau Raymond dan Farel tidak setuju dengan keputusan Alby. ALby hanya menjawab dengan anggukkan kepala, bahwa semuanya akan baik baik saja.
Tak lama, pemandu acara mengumumkan bahwa babak kedua akan segera di mulai. ALby bergegas naik ke atas ring, sementara Dirga dan yang lain kembali ke tempatnya masing masing dan memperhatikan jalannya pertandingan.
Di luar dugaan DIrga dan yang hadir di aula tersebut, mereka berfikir kalau Alby yang akan memenangkan pertandingan itu. Ternyata, di babak kedua Alby menyuguhkan drama yang tak terfikirkan oleh Dirga.
Hanya dengan dua pukulan saja, haidar berhasil mengalahkan Alby. Nyatanya, Haidar tidak benar benar memukul ALby dengan serius. ALby sengaja mengalah demi membalaskan dendam terhadap papanya. Dirga yang melihat Alby Ko, membuat dia berdiri dengan sorot mata marah menatap ke arah Alby yang tersungkur ke lantai sambil memegang lengannya dan tak mampu untuk berdiri lagi sampai wasit mengumumkan kalaun Haidar adalah pemenangnya.
Pemandu acara naik ke atas ring dan meminta ketua untuk mengumumkan hasilnya siapa yang pantas untuk menjadi ketua menggantikannya. dI luar dugaan, pertandingan itu di menangkan Haidar. Sekaligus memberitahu semuanya kalau Haidar adalah putra tunggalnya yang hilang sejak 17 tahun yang lalu, dan Dirga harus menelan pil kekalahan sekaligus rahasia yang tidak ia ketahui. Kalau Haidar adalah adik tirinya hasil pernikahan ketua dan istri pertamanya dan Haidar lah satu satunya penerusnya sebagai ketua.
"Seret Alana, dan bawa dia pulang." perintah Dirga pada Gerry.
Gerry mengangguk, lalu ia bergegas naik ke atas ring dan membawa Alby pergi dari tempat itu, sementara Dirga naik ke atas ring setelah Alby di bawa pergi. Dirga merasa kalau ketua sudah mempermainkannya dan menganggap ketua sudah tidak adil padanya. Dirga merasa kalau dia juga punya hak di perusahaan Blood Moon, meski ia sebagai anak dari istri ketiga ketua. Berbeda dengan tony, ia masih putra ketua hasil hubungannya dengan istri kedua, namun tony tidak serakah atau memiliki ambisi untuk mendapatkan posisi terbaik di perusahaan Blood moon.