
Hari pertandingan pertama.
Di Aula perusahaan BloodMoon sudah di persiapkan untuk pertandingan. Para Direktur perusahaan sudah datang dan duduk di tempat yang sudah di sediakan.
Dirga Dewangga pun sudah hadir bersama dengan Gerry dan tentu saja Alby yng duduk di sebelah Dirga Dewangga. Haidar juga sudah hadir bersama paman nya disana. Namun dia tidak duduk di tempat para petnggi perusahaan.Haidar duduk di bangku penonton bersaa yang lain.
Pertandingn belum di mulai karena Ketua belum datang dan Axelle tak terlihat di Aula.
Alby yang datang lebih dulu melihat sekeliling dan masih belum menemukan Axelle, padahal pertandingan hampir di mulai karena ketua baru saja datang.
"Kau harus menang melawan Axelle, jika tidak. Aku sendiri yang akan membunuhmu." Ancam Dirga di telinga Alby.
Alby hanya diam dan tersenyum medengarkan ancaman dari papa nya sendiri.
"Haidar, kau juga harus bisa mengalahkannya. Jika tidak, hidupmu akan aku jaikan seperti neraka," ancam Dirga lagi.
Alby mengangguk, mesti hatinya menangis mendengar setiap ancaman dari papa nya.
Sementara ketua duduk di tribun paling atas yang khusus di sediakan untuk nya. Ketua melihat sekeliling, dahinya mengernyit karena tidak menemukan Toni dan Axelle.
"Dimana Toni dan Axelle?" tanya nya setengah berbisik pada Sekertaris Hans.
"Sepertinya mereka belum datang." Jawab Sekertaris Hans.
"Pastikan mereka untuk datang." Perintah ketua.
"Baik." Sekertaris Hans lalu pergi meninggalkan ketua untuk menelpon Toni.
Di kediaman Toni.
"Dad, Aku tidak ingin melakukan pertandingan bodoh ini." Axelle menolah pergi saat Toni mengajak nya.
"Kau yakin tak ingin pergi?sekali lagi dady bertanya, kau yakin?" tanya Toni.
"Apa Dady harus bertanya terus menerus padaku?" Axelle merasa kesal karena Toni terdengar sedikit memaksanya dengan terus bertanya padanya.
Eva hanya duduk menikmati Teh nya sambil melihat suami dan anaknya.
"Ya sudah kalau memang kau tak ingin pergi. Dady tak aan memaksa." Toni duduk bersama dengan Eva.
"Aku akan ke sekolah." Axelle bangun dan hendak pergi.
"Pak, anda dimana?" tanya Sekertaris Hans
"Ada apa?" tanya Toni.
"Ketua sudah menunggu, Pertandingan akan segera di mulai." kata Sekertaris Hans
"Sepertinya kami tak bisa datang. Kalian bisa memulai pertandingan tanpa kami." jawab Toni dengan santai nya.
Axelle yang akan berangkat sekolah menghentikan langkahnya dan mendengarkan percakapan Toni dengan sekertaris Hans.
"Ketua berpesan agar Kalian bisa datang secepatnya, atau pertandingan tidak akan pernah di mulai." Kata sekertarsis hans.
"Anda tau siapa saja yang datang dalam pertandingan ini. Dan kalau sampai pertandingan batal maka akan mempengaruhi perusahaan juga ketua." sambung sekertaris hans setengah mengancam.
Toni terdiam lalu menatap Axelle yang berdiri di dpannya. Axelle manarik nafas panjang lalu melempar tas nya di sofa.
"Baiklah,kita berangkat sekarang." kata Axelle.
Toni pun mengangguk dan bersiap siap untuk berangkat ke pertandingan.
Sementara itu di Aula pertandingan semua sudah menunggu pertandingan di mulai. Urutan pertandingan pun sudah keluar namun pertandingan masih belum di mulai. Semua orang yang hadir mulai resah karena menunggu cukup lama namun belum juga di mulai.
Alby terus menatap ke arah pintu masuk aula menunggu Axelle datang namun sepertinya Axelle belum juga datang.
"Apa dia sama sekali tak ingin datang ke pertandingan ini." Batin Alby.
Alby melihat ke arah Haidar namun sepertinya Haidar santai saja dan tak peduli jika Axelle datang ataupun tidak.
Tak berapa lama menunggu, Akhirnya Axelle datang bersama Toni. Alby terlihat senang melihat kedatangan Axelle. Hampir saja Alby melonjak kegirangan, tapi dia teringat kembali bagaimana sikap Axelle padanya kemarin.
Di dalam hati yang paling dalam, Alby sebenarnya tak membenci Axelle sedikitpun. Namun dia membenci sikap Axelle yang begitu menuruti Marsha. Padahal Marsha sudah membohonginya begitu besar. Namun karena cinta, Axelle sampai buta melihat semua kebenaran yang sudah ada di depan mata.
Akhirnya pertandingan pun dimulai karena semua peserta sudah lengkap. Para peserta di persilahkan mengganti pakaian taekwondo masing masing. Alby, Axelle dan Haidar pun melakukan hal yang sama.
Para peserta berkumpul di Arena untuk saling memberi hormat . Axelle menatap tajam ke arah Haidar yang di balas dengan senyuman sinis dari Haidar.
Sedangkan Alby membuang muka saat Axelle menatapnya. Axelle mnengepalkan tangan nya saat melihat sikap Alby, bukan karena dendam atau marah tapi lebih pada kasihan karena Alby harus menjadi boneka Papah nya yang haus akan kekuasaan.