
Bel berbunyi pertanda jam pelajaran telah selesai, semua siswa dan siswi berhamburan keluar dari dalam kelas. Marsha beranjak dari kursi dan melangkahkan kakinya namun tangannya di tahan oleh Axelle.
"Ada apa?" tanya Marsha menoleh ke arah Axelle.
"Kau lupa, bukankah tugasku mengantarkanmu sampai rumah dengan selamat?" jawab Axelle.
"Ah iya, aku lupa. Ayok!''
Axelle menganggukkan kepalanya, lalu mereka berjalan bersama keluar dari kelas sambil berbincang tentang keinginan Axelle untuk tunangan dengan Marsha dan ingin menikahinya setelah lulus sekolah nanti. Marsha mendengarkan semua keinginan Axelle yang tiba tiba mengajaknya tunangan hingga tak menyadari, kalau Alby, Raymond dan Farel mengikuti mereka dari belakang sambil mendengarkan pembicaraan mereka.
Sesampainya di halaman sekolah, Marsha terdiam menatap keluar gerbang. Nampak seorang pria duduk di atas motor sedang menatap ke arahnya.
"Rafka..." gumam Marsha dalam hati.
"Ada apa?" tanya Axelle menatap wajah Marsha yang terlihat bingung.
"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan, bagaimana kalau Axelle tau..." batin Marsha.
"Hei, malah bengong!" seru Axelle mengibaskan tangannya di wajah Marsha.
"Maaf, adayang ketinggalan di dalam kelas." kata Marsha langsung balik badan dan berlari ke arah koridor sekolah.
Axelle kebingungn melihat sikap Maarsha yang tiba tiba terlihat panik dan meninggalkannya. Namun, saat ia hendak mengejar Marsha. Raymond dan Farel menahan tangan Axelle.
"Xell, sebucin ini terhadap Marsha?" celetuk Raymond.
"Sahabat sendiri udah kaya hantu, ga di anggap sama sekali." Tambah Farel.
Namun Axelle tidak menjawabnya, ia menepis tangan Raymond dan mengejar Marsha.
"Huh, segitunya yang lagi jatuh cinta. Dunia terasa milik berdua, yang lain ngontrak," sahut Farel kesal.
"Berisik, kaya emak emak kurang belanja," rutuk Alby sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.
Sesampainya di rumah, Marsha langsung menemui Dani dan menyampaikan semua kekesalannya.
"Kakak sudah berjanji padaku untuk merahasiakan pernikhanku, tapi kenaa kakak biarkan dia menjemputku ke sekolah!" protes Marsha.
"Marsha, kau sudah bersuami. Jelas suamimu yang harus menjemputmu, bukan laki laki lain!' kata Dani.
"Aku tidak menginginkan pernikahan ini, kakak yang memaksaku!" teriak Marsha sementara Rafka hanya diam mendengarkan pertengkaran diantara kakak dan adik.
"Jangan menangis, kita pindah rumah," kata Dani.
"Kenpa harus pindah rumah?" tanya Marsha sambil menyeka air mata di sudut matanya.
Dani mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Marsha.
"Kau tidak mau kalau Axelle datang ke rumah dan mengetahui kalau kau sudah menikh bukan?"
Marsha terdiam, apa yang di katakan kakaknya ada benarnya juga. Akhirnya Marsha menyetujui keinginan kakaknya untuk pindah rumah. Setelah mereka sepakat, akhirnya mereka mulai berkemas dan pindah ke rumah baru yang sudah di sediakan Dani.
***
Malam hari, Marsha menyingkirkan barang barang Rafka dari kamarnya. Ia meminta pada suaminya untuk pisah kamar, karena pernikahan diantara mereka bukan atas dasar suka sama suka tapi karena sebuah paksaan.
Namun di luar dugaan, Rafka yang terlihat diam dan tidak banyak bicara apabila di depan kakaknya ternyata berbeda sikap ketika kakaknya Marsha tidak ada di rumah.
Sikap Rafka berubah kasar dan ringan tangan pada Marsha. Marsha tidak terima dengan perlakuan Rafka dan mengadukan sikap suaminya pada Dani. Lagi lagi, tanggapan Dani biasa saja, ia menganggap kalau sikap Marsha terlalu ke kanak kanakan. Dani meminta Marsha untu menuruti suaminya dan bersikap baik.
Sejak saat itu, kehidupan Marsha bagaikan di neraka. Setiap hari ia haus menghadapi sikap suaminya yang kasar dan baik di depan Dani. Marsha berusaha bertahan sampai lulus sekolah, itu harapan Marsha.
Marsha tidak lagi mengeluh pada kakaknya, dan diamenyembunyikan setiap luka yang di berikan suaminya ketika ia tidak mau menuruti keinginan Rafka untuk berhubungan layaknya suami istri, ketikaMarsha menolak maka kekerasan yang ia dapatkan.