
Disekolah.
Seperti biasa, Farel dan Raymond menunggu kedatangan Alby dan Axelle. Namun pagi ini ada yang tak biasa, mereka berdua melihat Alby datang ke sekolah tidak menggunakan sepeda motor kesayangannya. Terlebih yang menarik perhatian mereka, Alby terlihat kurang sehat dan lengan kanannya menggunakan perban.
"Al!" panggil Raymon seraya melambaikan tangannya.
Alby terlihat tersenyum samar dari kejauhan lalu mempercelat langkahnya mendekati mereka.
Hal pertama yang Raymond tanyakan adalah tangan Alby yang di perban.
"Tanganmu kenapa Al, kamu tauran lagi?" tanya Raymod dan Farel secara bersamaan.
Baru saja Alby hendak membuka suara, ia melihat Axelle dari arah lain. Alby menyembunyikan tangannya dan tersenyum pada Axelle yang tengah berjalan mendekati mereka. Alby semakin tersenyum mengembang saat Axelle semakin mendekat ke arahnya. Namun senyuman di wajanya seketikka mnghilang karena tatapan Axelle bukanlah tertuju padanya.
Axelle tengah fokus memperhatika Marsha, yang baru saja memasuki halaman sekolah.
"Axelle.." Sapa Marsha.
Namun Axelle sama sekali tidak mendengarnya. Ia berlalu darii hadappan Alby dan dua sahabatnya lalu mengikuti Masha karena ia melihat Haidar juga tengah mengikuti gadis itu.
Alby menundukkan kepalanya dan membuat Raymond dan Farel menjadi kebingungan. Mereka berdua ingin sekali mengikuti Axelle, namun mereka berdua tahu, kalau Alby sedang tidak baik baik saja.
"Eee.." ucap Farel sembari menggaruk kepalanya.
"Kita ke kelas, mungkin Axelle ada urusan dengan Marsha." Timpal Raymond.
Alby hanya diam, dan mengikuti langkah Raymond dan Farel menuju kelas.
Di dalam kelas, Alby terlihat murung. Farel dan Raymond mencoba untuk bertanya namun jawaban Alby hanya tidak ada apa apa.
Tak lama kemudian, nampak Axelle berjalan di belakang Marsha. Alby berdiri hendak mendekati Axelle.
Langkah Alby terhenti saat Axelle hanya melewatinya dan memilih duduk di samping Marsha.
Raymond dan Farel merasa ada yang ganjil terjadi pada Alby, namun mereka masih belum tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Seperti biasa, Farel lebih memilih menggoda siswi di kelas itu dan Raymond yang menjadi penghalangnya.
Alby hanya diam memperhatikan mereka dengan raut wajah murung, lalu ia berpura pura membaca buku pelajaran sampai pak Iwan masuk ke kelas.
****
Jam istirahat, semua murid berhamburan keluar dari kelas menuju kantin. Alby yang hendak pergi mencari Axelle tiba tiba di kejutkan dengan suara gaduh murid lainnya yang menuju lapangan sekolah.
Alby mengikuti mereka, bersamaan dengan Farel dan Raymond ikut berlari menuju lapangan.
Sebagian dari mereka bakal terjadi pertikaian seperti biasa, karena Haidar dan Axelle selalu bersaing dalam hal apapun.
Mereka semua menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sementara Haidar dan Axelle masih berdiri saling berhadapan dengan saling menatap. Haidar tersenyum mengejek ke arah Axelle seraya memegang erat tangan Marsha.
Menit kemudian, Axelle menepis tangan Haidar dan menarik Marsha lebih dekat padanya.
"Apa kau mau menjadi pacarku??" tanya Axelle pada Marsha dengan tatapan lurus ke arah Haidar.
"Hah?" hanya itu yang terucap dari bibir Marsha dan akhirnya Axelle mengulang pertanyaannya.
"Marsha, apakah kau mau jadi pacarku??"
Mata Marsha membulat sempurna, ia tidak menyangka bakalan dapat pertanyaan seperti itu. Sementara semua murid yang berada di lapangan menunggu jawaban dari Marsha.
"Apakah kau mau menjadi pacarku?!"
Tanpa di duga Marsha berucap.
"Mau!"
Haidar mengalihkan pandangannya pada Marsha dan tersenyum mengejek. Sementara Axelle tetap dengan wajah datarnya.
"Kau dengar? Sekarang Marsha pacarku. Sedikit saja kau mengganggunya. Tanggung sendiri resikonya." Ancam Axelle.
Haidar tetap menatap wajah Marsha dan sengaja membuat Axelle marah.
"Itu berlaku buat orang lain, tapi tidak untukku." Tegas Haidar seraya mengalihkan pandangannya kepada Axelle. Kemudian ia berbalik badan dan melangkahkan kakinya meninggalkan lapangan.
Axelle tersenyum penuh kemenangan, ia menoleh ke arah Marsha.
"Sekarang kau pacarku, kau aman dari Haidar."
Setelah bicara seperti itu, Axelle melangkah pergi meninggalkan Marsha yang masih terpaku di tempatnya.
Raymond dan Farel menatap tak percaya. Namun, apapun yang di putuskan Axelle, mereka tidak pernah protes.
Semua siswa dan siswi satu persatu meninggalkan lapangan. Sementara Alby, diam diam pergi meninggalkan lapangan tanpa memberitahu Raymond dan Farel.
"Kemana Alby?" tanya Raymond.
Farel hanya menggeleng pelan menatap sekitar lapangan namun Alby fidak ditemukan.