
Di kediaman Dirga Dewangga.
Dirga Dewangga duduk termenung di ruang kerjanya, ia memikirkan bagaimana caranya membuat Alana, putri satu satunya menjadi seorang anak laki laki.
"Peraturan ini sangat konyol, apa salahnya dengan anak perempuan?" gerutu Dirga Dewangga.
"Ketua tidak adil, sepertinya dia sengaja membuat peraturan konspirasi yang bermaksud menjatuhkanku," ucap Dirga geram.
Praduga Dirga semakin menguatkan kecurigaannya terhadap Toni. Ia merasa kkalau Toni dan Tuan Aggoro sudah bekerjasama. Dirga tidak mau kalah, di otaknya sudah tersusun rapi rencana jahat untuk menumbangkan Toni.
Dirga Dewangga tersenyum menyeringai, sudah terbayang di pelupuk mata akan kemenanganya. Lamunan Dirga buyar, saat mendengarsuara langkah kaki di luar ruangan mendekati pintu. Tak lama kemudian pintu terbuka lebar, nampak Gerry memasuki ruangan bersama Dani, orang kepercayaan Dirga.
"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Dani.
Dirga tertawa terkekeh seraya berdiri dari tempat duduknya mendekati Dani dan merangkul bahunya.
"Hancurkan keluarga Toni, terutama putranya," kata Dirga.
"Axelle?" tanya Dani kedua alisnya bertaut menatap wajah Dirga.
Dirga mengangguk cepat, ia mengalihkan pandangannya sekilas pada Gerry.
"Aku dengar, dia sedang jatuh cinta dengan adikmu." Jelas Dirga.
Dani semakin tidak mengerti dengan ucapan Dirga, mengapa ia harus melibatkan adiknya. Dirga mengerti kebingungan Dani, lalu ia meminta Gerry untuk menjelaskan rencana yang sudah di susun dengan rapi.
Gerry mengangguk, ia mendekati Dani lalu menjelaskan secara terperinci semua rencana Dirga Dewangga untuk menghancurkan Toni Edgarsyah. Dani mengangguk, tanda ia sudah mengerti alur rencana Dirga Dewangga.
"Kau paham?" tanya Dirga.
Danni mengangguk dan berkata, "iya pak, saya paham."
"Aku akan membayar lebih," kata Dirga lagi.
Dirga dan Gerry tersenyum puas menatap wajah Dani. Selama ni, kinerja Dai tidak di ragukan lagi, dia pekerja handal dan tida pernah gagal.
Sementara di kediaman Toni Edgarsyah.
Toni baru saja sampai di rumahnya dan langsung menemui Eva di ruang keluarga. Toni duduk di sofa seraya melonggarkan dasinya.
"Bagaimana pertemuannya, lancar?" tanya Eva seraya meletakkann majalah di atas meja.
Sebelum Toni menjawab pertanyaan Eva, mbok Karsih datang membawa segelas air putih lalu di letakkan di atas meja. Setelah mbok Karsih kembali ke dapur, Toni menceritakan pertemuan tadi siang. Eva mendengarkan dengan seksama penjelasan suaminya.
"Aku juga tida tertarik, putra kita masih anak anak." Pungkas Toni.
Saat mereka tengah asik mengobrol, Axelle datang dengan wajah kusutnya lalu duduk di samping Eva dan bergelayut manja di bahu Eva.
"hei, ada apa sayang, kenapa mukamu di tekuk seperti itu?" tanya Eva, tangannnya mengusap pipi Axelle dengan lembut.
"Mom...." ucap Axelle dengan raut wajah cemberut.
"Ada apa sayang?" tanya Eva menatap sayangg Axelle.
"Mom...aku?" Axelle tidak melanjutkan ucapannya, saat beradu pandang dengan Toni yang tengah menatapnya tajam.
"Ada apa?" tanya Eva seraya melirik ke arah Toni lalu tersenyum.
"Nggak jadi, mom..." ucap Axelle pelan dan beranjak dari sofa, hendak pergi menuju kkamarnya. Namun Eva menahan langkah Axelle dengan menarik pelan tangan putranya hingga kembali duduk di sofa.
"Kau tidak boleh pergi, katakan ada apa sayang?"
Axelle menundukkan kepala sambil mencuri pandang pada Toni yang memperhatikannya.
"Nggak ada apa apa Mom..." jawab Axelle pelan.
"Sepertinya putra kita sedang jatuh cinta," goda Toni.
"Benarkah itu?" tanya Eva menatap wajah Axelle yang tersipu malu.
"Ah mommy, apa yang di katakan Dad tidak benar," bantah Axelle.
"Terus, kenapa wajahmu cemberut. Kau ada masalah cerita padaku." Kata Eva.
Axelle tidak menjawab, ia beranjak dari sofa dan berlalu begitu saja.
Eva tersenyum dan menggelengkan kepala, melihat sikap Axelle.
"Dia mirip denganmu saat kau masih muda," ucap Eva pada Toni.
"Siapa bilang, dia manja seepertimu kalau di rumah, tapi garang kalau di luar rumah." Goda Toni.
Saat mereka tengah bercanda mengingat masa mudanya, tiba tiba raut wajah Toni berubah terlihat cemas setelah melihat satu nama di ponsel miiliknya yang ia genggam dengan erat.