
"Alby?!"
Alby berdiri di depan Marsha tanpa ekspresi apapun.
" Kenapa kau ketakutan begitu?seperti melihat hantu saja." Kata Alby.
"Tidak apa apa." jawab Marsha.
" Kau sedangg mengejar siapa sampai sampai hampir terjatuh begitu?" tanya Alby.
" Aku? tidak ada. Aku tidak mencari siapapun." Marsha terlihat gugup.
"Yasudah aku pergi dulu." Marsha laangsung berlari pergi meninggalkan Alby .
Alby masih berdiri dengan diam lalu senyum menyeringai tersungging di bibirnya.
"Kau pikir aku tidak tahu, tapi tenang saja. Aku tidak akan mengatakan apapun pada Axelle." Gumam Alby.
"Sepertinya kau sedang senang?!" ucapan Haidar membuyarkan senyuman Alby.
" Sepertinya ini bukan urusan mu." kata Alby dengan nada dingin.
Haidar tersenyum melihat sikap Alby.
"Ho..ho..sepertinya kau sudah banyak berubah." Haidar mendekati Alby dan memainkan rambut Alby dengan telunjuknya.
"Jangan pernah mencampuri urusanku." Alby menepis tangan Haidar lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Haidar tersenyum menyeringai setelah Alby pergi, namun tiba-tiba senyum nya hilang dan berubah menjadi raut wajah tanpa ekspresi apapun.
Sementara itu Marsha kembali ke tempat Axelle di kantin. Dengan sabar Axelle menunggunya disana.
" Kau baik baik saja?kenapa lama sekali?"tanya Axelle sekembalinya Marsha ke kantin.
"Ah maaf,tadi ramai sekali di toilet jadi harus mengantri sebentar." jawab Marsha.
" Kau sudah selesai makan?" tanya Marsha saat melihat makanan di piring Axelle sudah hampir habis.
" Ya karena kau lama sekali, jadi aku makan duluan tak apa apa kan?" jawab Axelle
Marsha pun mengangguk saja dan dia mulai makan makanan yang di pesan nya.
Saat Axelle sedang makan, Raymond dan Alby datang ke kantin berdua saja dan langsung duduk di tempat yang tak jauh dari Axelle dan Marsha.
"Ray, by !" panggil Axelle.
Axelle langsung terdiam karena sikap kedua sahabatnya yang begitu acuh padanya.
" Apa kau sangat ingin duduk bersama mereka?" tiba-tiba Marsha bertanya.
"Apa?"Axelle tak mendengar apa yang di tanyakan Marsha.
"Sepertinya kau ingin duduk bersama mereka. Bersama Alby?" wajah Marsha berubah cemberut.
"Tidak. Aku tidak apa apa." jawab Axelle namun sesekali dia melirik ke arah Raymond dan Alby.
"Bagaimana kabar Farrel?" tanya Alby.
" Dia sudah baikan. Besok mungkin dia bisa keluar rumah sakit." jawab Raymond sambil memakan kentang goreng yang di pesannya.
"Syukurlah. aku merasa lega." Ucap Alby.
" Tapi...kita masih belum tau siapa yang mencelakai Farrel, kan?" tanya Alby lagi, sekilas dia menatap ke arah Axelle dengan ujung matanya.
" Mungkin orang gila yang punya dendam dengan seseorang." Jawab Raymond.
DEG..
Jantung Axelle serasa berhenti mendengar perkataan itu dari Raymond.
" Yah,,karena seseorang, Farrel hampir saja mati. Padahal orang itu sama sekali tak peduli dengan siapapun." Nada bicara Raymond terdengar kesal, tapi dia sama sekali tak menatap ke arah Axelle sedikitpun.
Hati Axelle merasa tak nyaman mendengar perkataan Raymond. Axelle tau kalau dia salah namun Raymond tak seharusnya mengatakan itu.
Axelle mengepalkan tangannya dan bangkit dari duduknya untuk mendatangi Raymond dan Alby.
Namun Marsha langsung menggenggam tangan Axelle dan menyuruhnya kembali duduk.
"Kau mau kemana?jangan hiraukan mereka." kata Marsha.
Axelle manahan amarahnya dan kembali duduk.
" Marsha benar. Jika aku terbawa emosi, semua akan semakin buruk." pikir Axelle.
Alby yang duduk tak jauh dari Axelle dan Marsha memdengar percakapan mereka dan merasa muak melihat Axelle yang selalu menuruti Marsha.
"Kita lihat, sampai sejauh mana kau akan bisa mengendalikan Axelle." Kata Alby dalam Hati.