AXELLE

AXELLE
Bab 37



Sesampainya di rumah, Dirga langsung mengurung Alby di kamarnya. Setelh itu ia memanggil Dani, orang kepercayaannya untuk membicarakan rencana yang lebih besar lagi untuk menghancurkan keluarga Toni dan menghalangi putranya untuk menjadi ketua di perusahaan Blood Moon.


"Bagaimana perkembangannya?" tanya Dirga pada Dani.


"Sejauh ini sudah berjalan tujuh puluh persen, sisanya tinggal menunggu rencana siap di jalankan." Jelas Dani.


"Bagaimana dengan adikmu?" tanya Gerry.


"Tenang saja, Marsha bisa di atur." Kata Dani optimis.


"Bagus, bagaimana rencana kedua?" tanya Dirga.


''Rencana kedua pasti berjalan sesuai keinginan tuan, aku hanyaa butuh fasilitas lain selain uang," sahut Dani.


"Kau atur saja, soal itu biar urusanku." Dirga tersenyum puas pada Dani.


Dani menganggukkan kepala, lalu mereka membicarakan strategi lain seandainya rencana pertama dan kedua gagal, sebelum hari penyerahan posisi ketua di serahkan pada salah satu kandidat antara Axelle dan Alby.


Setelah selesai, Dani berpamitan pulang ke rumahnya untuk berbicara hal penting kepada Marsha dan memastikan kalau adiknya mengikuti semua perintahnya.


Sesampanya di rumah, Dani tidak menemukan keberadaan Marsha. Seharusnya jam satu siang, Marsha sudah pulang sekolah. Dani kesal di buatnya, dan dia berfikir kalau Marsha sedang bersama Axelle.


Apa yang di pikirkan Dani benar saja, Marsha sedang bersama Axelle. Dalam beberapa hari ini, Axelle semakin intens mendekati Marsha. Axelle tidak mau kalau Marshha di dekati pria lain termasuk Haidar.


Setiap hari, setiap jam, Marsha harus selalu memberikan kabar pada Axelle. Meskipun Marsha mau tidur sekalipun, tak jarang Marsha dan Axelle sering bertengkar perihal kabar.


Kedekatan Marsha dan Axelle, tidak hanya mengundang kekesalan Dani sekaligus mengundang kemarahan dan kecemburuan Alby terhadap mereka berdua.


Biasanya, Marsha di antarkan oleh Haidar. Tetapi sudah beberapa hari ini, Axelle yang selalu mengantarkan Marsha pulang.


"Kamu nggak boleh kemana mana tanpa seizinku,' pesan Axelle pada Marsha.


"Iya, aku ingat semua pesanmu dan laranganmu." Sahut Marsha seraya balik badan dan melambaikan tangannya pada Axelle.


Marsha bergegas masuk ke dalam rumahnya dan melihat Dani sudah berdiri di hadapannya langsung menarik tangan Marsha dan menyuruhnya duduk di kursi.


"Besok kamu tidak perlu ke sekolah dulu." kata Dani.


"Memangnya kenapa kak?" tanya Marsha tidak mengerti.


"Besok Rafka dan keluarganya datang kesini buat melamarmu," jelas Dani.


"Kak, aku tidak mau!" tolak Marsha lalu berdiri menatap kesal pada Dani.


"Buat apa kau sekolah tinggi tinggi, tugas perempuan itu mengurus suami dan keluarganya." Tegas Dani.


"Aku tidak mau!" bantah Marsha lalu berlari ke kamarnya.


"Aku yang merawatmu, dari kecil. Kau harus ikuti perintahku, Marsha!" seru Dani.


Suara pintu kamar di banting oleh Marsha tanda ia tidak setuju dengan kakaknya. Namun Dani tidak mau tahu, demi meluluskan keinginan Dirga yang selama ini menjadi majikannya. Dani harus rela mengorbankan adiknya dan membunuh masa depan Marsha.


Dani mulai menghubungi keluarga Rafka dan meminta mereka untuk segera datang dan mengatur rencana pernikahan.


Marsha yang mendengarkan dari dalam kamar mulai panik. ia menghubungi Tyas dan Haidar untuk membantunya keluar dari masalah perjodohaannya dengan Rafka.


Namun Tyas tidak dapat membantu Marsha karena, ia sendiri tidak tahu caranya apalagi waktunya sangat mepet. Berbeda dengan Haidar, ada sedikit harapan untuk Marsha bisa keluar dari pernikahan itu.


Haidar tidak berjanji bisa membantu, tapi ia berjanji akan berusaha semampunya untuk membantu Marsha.


****


Ke-esokan harinya, keluarga Rafka tiba di rumah Dani tepat waktu. Sementara Marsha, diam diam melarikan diri dari kamarnya lewat jendela. Ia berlari ke jalan raya dan menunggu Haidar menjemputnya.


Tak lama kemudian, Haidar datang menemui Marsha sesuai dengan janjinya. Ia menepikan motornya lalu mengajak Marsha meninggalkan tempat itu menuju sebuah taman untuk membicarakan langkah selanjutnya.


"Ayo cepat, nanti kakakku menyusul." kata Marsha ketakutan.


Haidar hanya tersenyum memperhatikan Marsha sambil memainkan ponselnya seolah olah sedang mengulur waktu.


"Kau tenang saja, jangan panik begitu." Kata haidar menenangkan sambil tersenyum.


Marsha mengangguk dan percaya pada Haidar bisa membantunya.


"Kita sudah lama ada disini, aku takut kakak menemukanku.' kata Marsha.


Lagi lagi Haidar terus menenangkan, lalu ia minta Marsha untuk duduk di tempatnya. Haidar berpamitan pada Marsha untuk menjemput teman perempuannya yang akan membantunya.


Marsha setuju dan tidak mencurigai apa apa, selang beberapa menit Haidar pergi. Marsha di kejutkan dengan kedatangan dani dan kedua temannya, tanpa banyak bicara mereka langsung menyeret paksa Marsha pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan Marsha terus berontak, namun usahanya sia sia. Sesampainyadi rumah, Dani meminta seorang wanita untuk merias wajah Marsha dan mengganti pakaiannya.


Selang satu jam, Dani masuk ke dalam ruangan menemui Marsha ang sedang menangis, Dani merasa kasihan tapi semua itu ia lakukan demi keselamatan adiknya juga.


"Kau jangan menangis, aku tidak mungkin menjerumuskanmu." Kata Dani.


"Aku punya permintaan, kalau kakak mengabulkannya. Aku akan mengikuti apa mau kakak," pinta Marsha.


"Katakan apa maumu.''


"Biarkan aku sekolah, dan jaga rahasia pernikahan ini. Jangan sampai teman teman aku tau sampai lulus sekolah." Jelas Marsha.


Dani terdiam cukup lama dan menimbang persyaratan dari Marsha.


"Baik, aku setuju." Kata Dani.


Marsha menyeka air matanya dengan tisu, lalu ia keluar dari ruanga mengikuti langkah Dani dari belakang. Marsha tidak dapat menolak keinginan Dani, jika pun bisa. Bagaimana dengan nasibnya nanti, makan dari mana dan biaya sekolah siapa yang mau membantunya. Mau tidak mau, Akhirnya pernikagan itu berlangsung dengan aman. Hari ini, Marsha resmi menjadi istri Rafka.