
Ke-esokan paginya Haidar berniat untuk menjemput Dirga di kediamannya. Namun Dirga datang lebih awal dengan rambut dan raut wajah lusuh, terlihat seperti tidak pernah lelap tidur.
Mereka semua menatap ke arah Dirga yang langsung menghampiri jendela kaca melihat putrinya dengan tatapan penuh penyesalan.
Bersamaan dengan seorang dokter menghampiri dirga lalu memintanya untuk ikut ke ruangan dokter tersebut.
Dirga mengikuti langkah dokter tersbut tanpa bicara sepatah katapun, sementara Haidar dan Axelle mengikuti mereka dari belakang dan ikut masuk ke dalam ruangan Dokter.
Di dalam ruangan hening seketika, semua yang ada di dalam ruangan menatap serius ke arah dokter menunggu penjelasannya.
Dokter menarik napas dalam, menatap wajah Dirga lalu mulai me3njelaskan penyakit kanker leukimia yang di derita Alby, selama ini tidak mendapatkan perawatan hingga mencapai keparahan tinggi.
"Putri bapak, hanya punya kesempatan hidup beberapa hari. Saya harap, di sisa hidupnya, bapak memberikan yang terbaik untuk putri bapak." Jelas dokter, membuat Dirga tidak mampu berkata kata lagi.
'Tidak mungkin dok, usia manusia bukan dokter yang menentukan!" ucap Axelle dengan nada tinggi.
"Saya tahu..." jawab dokter, kemudian menjelaskan lagi mengenai penyakit Alby secara detail.
Dirga yang lain diam mendengarkan dengan serius.
"Itu yang terjadi dengan putri bapak," ucap dokter di akhir kata.
Dirga perlahan bangkit dari kursinya, lalu berjalan perlahan keluar dari ruangan dengan kepala tertunduk di ikuti oleh Axelle dan Haidar.
Ketika mereka sudah sampai di depan pintu ruangan, Eva dan Toni sudah ada di sana dan langsung menghampiri dirga dan memapahnya untuk duduk di kursi.
Untuk pertama kalinya, Dirga yang ambisius, pemarah dan sombong. Meangis di bahu toni, dari bibirnya mengalir kata kata penyesalan untuk putrinya.
Toni berusaha menenangkan dengan cara jadi pendengar yang baik. Permusuhan antara mereka sejak dulu, hanya karena Dirga yang terlalu berambisi. Kini, yang duduk di sampingnya hanyalah seorang ayah yang meratapi kesalahannya dan berharap putri semata wayangnya sembuh seperti sedia kala.
Sementara Eva berdiri dan mendekati Haidar dan Axelle.
"Terima kasih kak," ucap Haidar lalu beranjak pergi meninggalkan rumah sakit, di susul Axelle dan dua sahabatnya, Eva kembali duduk di samping Toni.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi terus meratapi bukan satu satunya jalan keluar, kau harus tunjukkan sikapmu dan berikan kebahagiaan yang selama ini kau ambil dalam hidup Alby." Ungkap Eva.
Dirga mengangkat wajahnya, menatap ke arah toni dan Eva.
'Aku minta maaf, selama ini sudah memusuhi kalian. Karena keserakahan dan ambisiku, aku telah mengorbankan putriku.'
"Masuklah ke dalam, temani ALby. Biar kami yang mengurus semua keperluan,' ujar Toni.
"Terima kasih.." Dirga berdiri, lalu masuk ke dalam ruangan Alby.
Lankah Dirga perlahan dan berdiri mematung di tepi ranjang, menatap wajah pucat Alby.
Ia teringat semua perlakuan buruknya hingga kata kata kasar yang di lontarkan. Kini, anak perempuannya terbaring lemah tak bersuara lagi, tak terlihat senyuman lagi, tidak lagi memanggilnya 'papa'
Dirga menarikkursi besi lalu duduk, tangannya terulur menggenggam tangan Alby. Kata kata permintaan maaf, dan doa, meluncur dari bibir Dirga. Doa pengharapan supaya Alby sembuh, janji terukir di sudut hatinya yang paling dalam akan merubah sikapnya dan menyayangi Alby.
Tanpa Dirga sadari, Alby mendengarkan meski matanya terpejam.
Terima kasih pernah memaki.
Terima kasih sudah meneriaki.
Terima kasih atas semua penyiksaan.
Terima kasih atas semua caci dan segala benci.
Bulir bening di sudut mata Alby mengalir, membuat Dirga semakin terpuruk dalam penyesalan.