AXELLE

AXELLE
Bab 45



Sepulang sekolah, Alby tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia jalan jalan di sekitar lapangan basket di dekat taman kota.


Ia mengingat semua kenangan sewaktu masih menyamar. Ia merasa begitu dekat dengan Axelle, menghabiskan waktu bermain basket berdua terkadag di temani Raymon dan Farel.


DUKK


Bola basket menggelinding dan berhenti tepat di kaki Alby lalu mengambilnya dan memperhatikan dua anak laki laki tengah memperhatikannya dan meminta bola basket di tangan Alby.


Alby tersenyum samar lalu melemprkan bolbasket itu ke arah dua anak lki laki tersebut, kemudian Aby melanjutkan langkahnya dan duduk di bangku yang adadi pinggir lapangan memperhatikan dua anak laki laki itu.


"Hatiku sakit saat melihat kau bersamanya..." gumam Alby memikirkan Axelle.


"Sebisa mungkin, aku akan tetap menyayangimu meski harus melihatmu bersama yang lain."


Disini, di tempat itu Alby terbiasa menemani Axelle bermain basket. Bersama Axelle, Alby merasa di sayangi dan di cintai yang tidak pernah ia dapatkan dari ayah dan kakaknya.


Alby menundukkan kepalanya, tubuhnya bergetar dan bulir air mata jatuh membasahi rok seragam yang di kenakannya.


Dulu ia tegar, mampu menahan setiap rasa sakit yang di berikan papanya, setiap pukulan yang di berikan Gerry. Ia mampu melewati itu semua, karena ia mendapatkan perhatian dan rasa sayang dari Axelle meski itu sebatas sahabat.


Kini, ia merasa sangat lemah bahkan setiap pukulan dan makian dari papanya dan Gerry terasa sangat melukainya semakin dalam.


Alby mengangkat kepalanya dan menyeka air mata di pipinya, lalu menoleh ke arah belakang.


Mata Alby melebar saat melihat Gerry membawa alat pemukul, rupanya Gerry sedang mencari Alby. Gerry mendapat perintah dari papanya untuk memukul dan menyeret Alby kapan saja apabila melihat Alby berkeliaran menggunakan pakaian perempuan.


Alby bergegas berlari ke arah lain namun anak buah papanya sudah menghadangnya, Alby mundur ke belakang namun Gerry sudah ada di belakangnya.


"Pulang!" seru Gerry seraya memukulkan tongkatnya ke perut Aby dengan keras.


BUKKK


Tubuh Alby terhuyung dan darah segar mengalir di sudut bibirnya. Ia tidak menyerah begitu saja, dengan langkah terhuyung Alby berlari ke arah berlawanan sekuat tenaga sambil menyeka darah di sudut bibirnya.


Mata Alby berbinar saat melihat sosok yang ia kenal sedang berdiri di tepi jalan raya.


"Axelle..."


"Al?" sapa Axelle menoleh ke arah Alby lalu mundur selangkah menjauh dari Alby.


"Kau kenapa?" tanya Axelle memperhatikan Alby mengatur napas sambil memegng perutnya.


"Aku...?" Alby tidak melanjutkan ucapannya karena Axelle sibuk dengan ponselnya membaca pesan dari Marsha.


"Al, aku pergi dulu. Marsha membutuhkanku," ucap Axellle lalu berlari menjauh dari Alby.


"Aku juga membutuhkan bantuanmu, Xell..." ucap Alby hatinya semakin hari semakin di buat sakit oleh sikap Axelle namun Alby selalu memaafkan dan selalu mrenyayanginya.


"Ayo pulang!'


"Aw, sakit kak!' pekik Alby saat tangan kkekar Gerry mencengkram rambut Alby lalu menyeretnya kembali memasuki taman tersebut dan di bawa pulang ke rumahnya.


Sementara itu Axelle sudah sampai di persimpangan jalan menuju rumah lama tempat Marsh tinggal. Axelle sedang menenngkan marsha dan mengobati luka d tangan Marsha.


"Siapa yang melakukannya?" tanya Axelle.


"Kakakku, dia memukuliku setiap aku melakukan kesalahan," jelas Marsha.


"Kakakmu?' ucap Axelle antara percaya dan tidak.


Marha menganggukkan kepalanya dan meyakinkan Axelle kalau kakakya lah yang sering memukulinya karenma hal hal kecil.


"Ini tidak bisa di biarkan, kau harus melaporkannya," tegas Axelle.


"Jangan, dia kakak ku satu satunya, aku tidak mau melihat kakakku mendekam di penjara," pungkas Marsha.


"Kalau begitu kita ke rumah sakit, terus aku antar kamu pulang," bujuk Axelle.


Namun Marsha tetap meolak, ia hanya mau di temani Axelle sampai malam menjelang, baru marsha mau ikut pulang. Dalam hati, marsha merutuki kebohongannya sendiri. Marsha terlalu takut untuk mengakui kalau yang telah memukulinya adalah suaminya sendiri.


Axelle bersedia menemani marsha, di hatinya yang paling dalam, ia meminta maaf pada Alby karena berulang kali menyakitinya. Namun janjinya pada marsha harus tetap ia pegang teguh meski harus mengorbankan persahabatannya dengan Alby.