
Persaingan antara Toni dan Dirga semakin memanas. Apapun gerak gerik dan aktifitas Toni bagi Dirga, adalah sebuah ancaman. Dirga terus merencanakan hal buruk untuk Toni dan putranya, sementara Dirga sendiri terus memaksa putri semata wayangnya untuk menjadi seorang anak laki laki.
"Angela, aku membayarmu untuk menghanccurkan Toni. Bukan untuk main main." Kata Dirga memperhatikan wanita cantiik dan seksi di hadapannya.
Angela tersenyum miring, sambil membenarkan ikatan rambutnya yang panjang.
"Kau tidak perlu membayarku, sebeelum kau memintaku untuk melakukan itu. Sudah sejak lama aku berencana untuk merebut Toni dari tangan Eva, si perempuan sialan itu." Ungkap Angela penuh rasa percaya diri.
Dirga tersenyum puas, ia tidak perlu bersusah payah mebujuk wanita tersebut.
"Aku akan membantumu mendapakan Toni."
Angela berjalan mendekati Dirga dan berbisik di telinganya.
"Aku hanya butuh orang orangmu, kau tau bukan..Eva bukan perempuan yang bisa di remehkan.."
"Kau takut menghadapi, Eva?" tanya Dirga meremehkan.
"Hahahahahha!" Angela tertawa terbahak bahak, lalu ia menurunkan volume suara tawanya dan menatap tajam Dirga.
"Kau lupa, bagaimana Eva menghabisi komplotan Renggo. Bagaimana dia menghabisi Sela?"
Dirga terdiam mendengarkkan perkataan Angela, ia mengingat kejadian 5 tahun silam.
"Kau benar.." kata Dirga.
Angela tersenyum sinis sambil menepuk dada Dirga pelan.
"Tapi kau jangan khawatir, itu dulu. Sekarang Eva memiliki kelemahan, Axelle."
Dirga dan Angela tertawa bersama, kemenangan serasa sudah di depan mata. Dirga mengambbil gelas minuman di atas meeja lalu di berikan satu gelas untuk Angela dan mereka bersulang atas kemenangan yang akan mereka raih.
Di balik pintu, Gerry mmenguping pembicaraan mereka. Diam diam ia memiliiki niat terselubung, mengambil kesempatan di situasi yang Dirga ciptakan.
****
Di kediaman Toni Edgarsyah.
Eva tengahh dduduk santai di teras rumahnya menikmati secangkir kopi menunggu kedatangan putranya pulang sekolah.
Eva mengangkat cangkir kopi, namun tatapannya tertuju pada sebuah mobil hitam yang memasuki halaman rumahnya. Eva meletakkan kembali cangkir kopi di atas meja saat melihat seorang wanita yang sangat familiar keluar dari pintu mobil dan tersenyum ke arahnya dan berjalan menghampiri Eva.
Wanita yang tak lain adalah Angela, mengulurkan tangan ke arah Eva.
"Halo!"
Eva diam tak bergeming dari tempat duduknya, ia memperhatikan tangan Angela cukup lama dan tidak ada niatan untuk membalas uluran tangan wanita tersebut.
Angela tersenyum lalu meenarik tangannya lalu duduk di kursi tanpa di minta.
"Apa kabarmu?" tanya Angela lag8i, meski ia tahu tidak akan mendapatkan tanggapan apapun dari Eva.
Eva tetap diam, dengan tataopann tajam.
Angela tersenyum mengembang' memperhatikan wajah Eva yang menatapnya dengan tatapan wasspada.
"Axelle, sekolah di mana sekarang, pasti suda besar."
Eva mulai bereaksi saat Angela menyebut nama anak kesayangannya. Ia beranjak dari kursi lalu mendekati Angela. Tubuhnya sedikit membuungkuuk dan kedua tangan mencengkram bahu Angela kuat kuat.
"Aku tahu niat busuk di keppalamu, aku juga tahu maksud kedatanganmu. Kalau kau datang hanya untuk membangunkan macan yang sudah lama tertidur sebaiknya kau lari menjauh secepatnya atau kau akan menyesal." Ancam Eva tanpa basa basi.
Angela sedikit merinding mendengar ancaman Eva, namun ia kembali tenang. Angela tengadahkan wajah menatap Eva dengan senyuman.
"Tenang nyonya Eva, aku tidak akan menggganggumu. Aku hanya ingin bertemu Toni dan melihat Axelle, kenapa kau merasa terancam?"
Eva berdiri tegap, kedua tangannya bermain di leher jenjang Angela lalu menekannya.
"Tentu saja boleh, tapi tidak sekarang atau nanti. Sekali saja bau napasmu tercium di wajah putraku, maka...?
Eva tidak melanjutkan ucapannya tapi kedua tangannya mencekik leher Angela sebagai isyarat untuk tidak mendekati putranya.
Angela terbatuk pelan, lalu ia berusaha mellepaskann tangan Eva dari lehernya.
"Tennanglah, aku datang bukan mengajamu perang," kata Angela.
Eva menarik tangannya lalu membiarkan Angela berdiri seraya mengusap lehernya sendiri dann tersenyum.
"Kau tdak berubah, sama garangnya seerti dulu. Tapi anehnya, Toni begitu betah hidup bersama wanita kasar sepertimu."
Eva hanya diam, ia enggan membalas ucapan Angela.
"Awal pertemuan yang menarik, semoga harimu menyenangkan." kata Angela lalu beranjak pergi dari hadapan Eva.
Eva balik badan, memperhatiikan Angela masuk ke dalam mobil. Nampak Angela membuka kaca jendela dan tersenyum sinis ke arah Eva, dan mobilpun melaju meninggalkan halaman rumah.
Selang beberapa detik sepeninggal Angela, nampak motor milik Axelle memasuki halaman rumah. Eva memperhatikan Axelle turun dari atas motor lalu berjalan menghampiri Eva dan mencium pipinya sekilas.
"Mom, aku izin ke rumah Raymond sekarang," kata Axelle.
Eva menariik napas dalam dalam menatap wajah putranya.
"Mulai sekarang, kau tidak boleh main atu kelluar rumah tanpa seiinku." Jelas Eva.
"Mom, tapi kenapa?"
Eva tidak menjawab pertanyaan Axelle, ia berlalu dari hadapan Axelle.
"Mom!"