
Di kediaman Dirga Dewangga.
Dirga tengah duduk di sofa di temani Gerry dan di kelilingi anak buahnya tengah mendengar kesaksian Angela tentang kejadian kemarin, di mana Eva dengan mudah menghabisi tiga pegawal terbaiknya.
"Penyerahan ketua tinggal menghitung hari, kita harus secepatnya bergerak." Kata Gerry.
Dirga menganggukan kepalanya mendengar semua penjelasan Gerry, setelah itu ia mendengarkan semua rencana yang sudah di jalankan Dani.
"Bagus, buat anak Toni menjadi lemah." Jawab Dirga.
"Wanita, sekuat apapun pria akan kalah dan bertekuk lutut di hadapan wanita yang di cintainya.'
"Kita harus gerak cepat," pungkas Gerry.
"Kau jangan gegabah, jangan sepelekan wanita iblis itu." Kata Angela mengingat beringasnya Eva.
"Kau benar," sahut Dirga membenarkan.
"Kelemahan Eva, bukanlah Toni. Tetapi putra nya itu yang jadi kelemahannya." Sela Dani.
Dirga membrenarkan perkataan Dani.
'Aku masih mencari tahu kebenaran tentang kabar miring tentang, Eva. Siapa yang sudah menyebarkan kbar itu dan tahu dari mana?' pikir Dirga.
Angela dan yang lain terdiam memikirkan cara melemahkan Eva yang selama ini di anggap lebih berbahaya di banding Toni.
Tanpa mereka sadari, Alby yang keluar dari kamarnya diam diam mendengarkan perbincangan mereka. Alby masih tidak mengerti, mengapa mereka membenci keluarga Axelle.
Alby semakin pusing mendengarkan perbincangan mereka dan mencoba mencerna alurnya.
"Ah sudahlah..." gumam Alby lalu beranjak pergi keluar dari rumahnya dengan mengendap endap.
Sesampainya di halaman rumahnya, saat hendak naik ke atas motor. Alby melihat sosok Haidar melintas tepat di depan pintu gerbangnya. Alby bergegas berlari mengejar Haidar yang memang belum jauh, Alby menarik bahu Haidar hingga mundur ke belakang.
Haidar menautkan kedua alisnya menatap wajah Alby.
'Kau..." ucap Alby menatap Haidar seperti kebingungan.
"Ada apa, kau seperti melihat orang asing saja," kata Haidar dengan santai.
"Sedang apa kau di sini, ada yang sedang kau cari?" tanya Alby.
"Apa hanya kau dan keluargamu yang boleh melewati tempat ini?" tanyaHaiidar balik sambil tersenyum.
Haidar menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum meledek, lalu melangkahkan kakinya. Namun Alby mencegah langkah Haidar dengan menarik kerah bajunya.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Alby masih tetap mencurigai Haidar.
Haidar membiarkan Alby melakukan apapun yang dia mau, termasuk mendesaknya untuk bicara jujur.
"Aku tahu, selama ini kau memperhatikanku, keluargaku termasuk Axelle."
"Oya?" sahut Haidar.
"Kau sedang merencanakan apa, siapa kau sebenarnya? gerak gerikmu mencurigakan,"kata Alby lagi.
Haidar menurunkan kedua tangan Alby, lalu membenarkan kerah bajunya. Setelah itu, ia hanya tersenyum pada Alby dan melanjutkan langkahnya lagi. Namun Alby sudah terlanjur di buat kesal karena tidak mendapatkan jawaban apa apa, Alby menarik bahu Haidar lalu meninju wajahnya hingga Haidr terhuyung kebelakang.
Haidar tersenyum dan melirik tajam ke arah Alby.
"Apa kau baik baik saja?' tanya Haidar
Pertanyaan Haidar semakin membuat Alby marah, ia mendekati Haidar dan mengepalkan tinju ke wajah Haidar. Namun reaksi Haidar sama saja, ia sengaja mendekatkan wajahnya ke rah Alby.
"Lakukan sepuasmu," kata Haidar.
Alby diam menatap wajah Haidar yang semakin terlihat mengesalkan. Perlahan ia menurunkan tangannya.
"Siapa kau sebenarnya, di sisi lain kau membantuku. Disisi lain kau seolah olah ingin menghancurkan hidupku." Kata Alby.
"Oh, jadi kau sudah tahu," sahut Haidar tenang.
"Siapa kau sebenarnya, dan apa maumu?" tanya Alby.
Haidar tersenyum meledek sambil menyeka sudut bibirnya yang meneteskan darah akibat pukulan Alby tadi.
"Sampaikan salam dari mama Wening Pramudya buat papa mu." kata Haidar.
"Siapa Wening?" tanya Alby.
"Simpan semua pertanyaanmu itu buat papa mu." Kata Haidar, lalu beranjak pergi dari hadapan Alby yang masih termangu di tempatnya dan menyimpan banyak pertanyaan di benaknya.
"Papa..." gumam Alby.