
Tubuh Alby tertarik ke belakang dan jatuh menimpa tubuh Haidar.
Alby sekuat tenaga mencoba bangun dan melihat siapa orang yang sudah menggagalkan tujuannya.
"Haidar!!"
Alby begitu terkejut melihat Haidar yang sudah berdiri di depannya sambil menepuk nepuk bajunya karena kotor.
"Mau apa lagi kau sekarang? apa lagi maumu?!!!" teriak Alby.
Haidar tak menjawab pertanyaan Alby dia hanya berdiri menatap Alby.
"Kenapa diam? apa yang kau rencanakan?" Alby mulai terbawa emosi karen haidar tak merespon pertanyaannya.
Haidar berjalan perlahan ke hadapan Alby yang sedang berusah menopang tubuhnya agar terus bisa berdiri walaupun dia merasa sangat lemas.
"Jangan pernah jadi orang bodoh!" ucap Haidar dengan wajah serius.
DEG..
Jantung Alby berdegup kencang saat mendengar perkataan Haidar.
Belum Alby menjawab apapun, Haidar langung pergi tanpa sepatah kata pun lagi.
Tubuh yang sedari tadi Alby tahan agar tidak jauh pun akhirnya ambruk ke lantai.
Bukan merasakan sakit karena tubuhnya tapi sekarang Alby merasa tertampar oleh perkataan Haidar.
Alby menundukan kepala dan mengepalkan tangannya. Dia menyadari apa maksud dari perkataan Haidar.
Benar! kenapa aku harus melakukan hal bodoh ?!
Penderitaan yang aku alami semua karena Papah dan Axelle.
Bukan aku yang harus terus mengalami penderitaan ini, tapi Mereka!!!!
Mereka harus mersakan apa yng sudah ku alami seama ini!
Aku harus membalas semua penderitaan yang mereka berikan padku!!
"Alana!"
Alby menoleh ke arah sumber suara, nampak Gerry dan dua suster berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
Gerry bergegas menghampiri Alby dan menarik tangannya supaya berdiri tegap.
"Ikut pulang dan rasakan akibat perbuatanmu yang selalu membuat susah,' ucap Gerry pelan.
Gerry langsung membawa Alby lpergi dari tempat itu dan meaksanya untuk pulang ke rumah. Gerry tetap bersikeras meski suster dan dokter melarangnya.
Sementara di tempat lain.
"Kau tidak tau bukan, kalau Alby di rawat d rumah sakit?" tanya Farel.
"Bahkan kau sama sekali tidak tahu kalau Alby mengidap kanker darah!" pekik Farel marah.
Axelle diam tidak menjawab sepatah katapun, dari lubuk hatinya yang paling dalam ia merutuki sikapnya sendiri dan ketidaktahuannya mengenai Alby.
Axelle juga menyesal telah membuat janji pada Marsha dan tidak mungkin ia ingkari.
"Kenapa kau diam!" seru Farel seraya mendorong tubuh Axelle hingga mundur ke belakang.
BUKKK
Satu pukulan telak di waah Axelle membuat Raymond terkejut dan menahan Farel untuk tidak berbuat kasar dan berusaha untuk menenangkannya.
"Persahabatan kita sudah hancur gara gara perempuan, kau lebih memilih perempuan yang baru kau kenal dari pada sahabatmu yang selama ini menemanimu di saat suka dan duka!!" protes Farel.
"Tenanglah, bukan seperti ini caranya!" ucap Raymond menenangkan.
Farel danRaymond menatap Axelle yang masih enggan menjawab apapun, mereka hanya diam saling tatap.
"Aku minta maaf..." ucap Axelle akhirnya angkat bicara.
"Simpan kata maafmu buat Alby," pungkas Raymond.
Axelle menganggukkan kepalanya, lalu balik badan memperhatikan jalan raya yang terlihat sepi kendaraan.
Tanpa mereka sadari, dua pasang mata memperhatikan mereka dari dalam mobil.
"Saatnya kita bergerak," ucap salah satu wanita yang ada di dalam mobil saat melihat Axelle hendak menyeberang jalan. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi mendekati Axelle.
Raymond dan Farel yang melihat mobil melaju kencang mendekati Axelle, membuat mereka berdua berlari menghampiri Axelle.
AXELLE!!" Pekik Farel sambil mendorong tubuh Axelle hingga terhuyung ke depan.
BUKKKKKK
Benturan keras mobil yang menghantam tubuh Farel membuat langkah Raymond terhenti dengan mulut menganga melihat tubuh Axelle melayang ke atas mobil lalu twrhemmpas jauh ke samping dan membentur aspal. Sementara mobil yang menabrak Farel melarikan dri.
"FARELL!!" Teriak Raymond dan Axelle bersamaan, lalu merekaberdua menghampiri tubuh Farel yang sudah bersimbah darah.
"Pergi!" pekik Ramond mendorong tubuh Axelle agar tidak menyentuh sahabatnya. Axelle mundur beberapa langkah, berdiri di belakang raymond memeluk tubuh Farel.
Axelle segera menghubungi ambulance dan meminta bantuan. Tak lama kemudian terdengar suara bunyi sirine dari keauhan, bala bantuan sudah datang, perlahan Axelle mundur menjauh dari kerumunan dan memperhatikan Raymond yang terus menangisi sahabatnya.
Axelle duduk di tepi jalan raya, memperhatikan darah yang menngenang di aspal tak lama kemudian jalanan kembali sepi, hany terlihat beberapa anggota polisi dan pejalan kaki yang berada di sekitar.
"Aku tau, aku salah. Tapi aku juga tidak bisa mengingkari semua janjiku pada Marsha..." gumam Axele hatinya terasa sakit dengan semua yang terjadi.