AXELLE

AXELLE
Bab 64



Ke-esokan harinya di jam istirahat.


Axelle membawa Marsha ke taman sekolah, untuk meminta penjelasan gadis itu mengenai Rafka yang selama ini sangat mengganggu pikirannya. Semua sikap dan alasan yang di ucapkan Marsha terkesan di buat buat untuk menutupi suatu hal yang besar. Axelle berdiri berhadapan dengan Marsha di bawah pohon yang rindang.


"Siapa Rafka?" tanya Axelle tanpa basa basi, membuat Marsha kaget.


"Katakan, ada hubungan apa kamu dengan laki laki itu?" tanya Axelle lagi.


"Kamu kenapa sih, tiba tiba bertanya seperti itu?" tanya Marsha balik, namun perubahan sikapnya jelas tertngkap mata Axelle


"Jelaskan, ada hubungan apa kamu sama dia!" Axelle menarik napas panjang, sedikit menekan emosi di dalam dadanya.


"Rafka itu temanku, teman kamu juga." Jawab marsha.


"Itu aku tahu, tapi kenapa akhir akhir ini aku sering melihat kalian bersama." Ungkap Axelle.


"Itu hanya kebetulan," sahut marsha menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap wajah Axelle.


"Kebetulan? apa di kafe juga kebetulan?" tanya Axelle.


"Hah? kafe?" Marsha terkejut bukan main, namun ia berusaha untuk menyembunyikannya dengan memalingkan wajah sambil tertawa.


"Jelaskan!" suara Axelle semakin meninggi membuat Marsha mengalihkan pandangannya dan membalas tatapan Axelle.


"Aku sudah bilang itu hanya kebetulan, aku di suruh kakak membeli sesuatu di kafe. Tidak sengaja bertemu Rafka dan dia ngajak aku bicara sebentar. Apa aku salah!" bentak Marsha.


Axxelle menggeram kesal sambil mengusap wajahnya kasar.


"Arrrrgh!" teriak Axelle kesal.


"Kebetulan, kebetulan terus, apa tidak ada alasan lain!" seru Axelle kesal.


"Memngnya aku harus kasih kamu jawaban apa, memang begitu adanya." Balas Marsha.


"AAAAH!"


"Bukan itu jawaban yang aku mau, ada hubungan apa kamu sama dia!" tanya Axelle dengan nada tinggi.


"Aku tidak ada hubungan apa apa!" pungkas marsha, lalu beranjak pergi meninggalkan Axelle yang mulai marah tapi tetap berusaha untuk tidak berbuat kasar.


Melihat Marsha pergi meninggalkannya tanpa memberikan jawaban yang memuaskan membuat Axelle semakin kesal dan yakin kalau Marsha menyembunyikan sesuatu darinya.


"Kau pasti penasaran, apa yang sedang di sembunyikannya."


Axelle menoleh ke arah sumber suara, nampak Haidar sudah berdiri di belakangnya.


"Jangan ikut campur," ancam Axelle.


"Lepaskan saja Marsha, biar dia jadi pacaku saja." Celetuk Haidar.


BUKKK


Axelle yang sedang dikuasai amarah langsung memukul wajah Haidar. namun haidar tidak membalas, ia tersenyum lebar sambil mengusap pipinya.


"Marsha lebih cocok denganku, dari pada kau," ucap Haidar lagi seakn akan sengaja membuat hati Axelle semakin panas.


BUKKK


Axelle memukul wajah Haidar lagi, ia tidak terima dengan ucapannya.


"Aku lebih baik darimu, kenapa tidak?" sambung haidar lagi.


AAAAAARRGHHHH


Haidar berada di atas tubuh AXelle dengan tangan mengepal, siap menghajar wajah Axelle sambil tersenyum mencemooh.


"Satu pukulan ini sangat berharga, aku akan memukulmu di pertandingan supaya kau sadar," ucap Haidar lalu berdiri dan membenarkan seragamnya, setelah itu ia beranjak pergi meninggalkan taman.


Axelle bangkit dan berdiri tegap hendak mengejar Haidar, namun seseorang menahan tangan Axelle dari belakang.


"Sudah, hentikan." Alby memegang lengan Axelle dan menahn nya untuk mengejar Haidar.


"Lepaskan ! jangan ikut campur urusan ku." Axelle menatap tajam ke arah Alby yang masih memegang lengan nya.


"Sebaiknya selesaikan urusan mu saat pertandingan nanti, jangan di sini." Kata Alby.


"Memangnya apa peduli mu?" tanya Axelle.


"Aku memang tidak perduli, apapun yang terjadi padamu aku tidak pernah perduli bukan?" jawab Alby tersenyum samar lalu melepaskan tangan Axelle.


Axelle terdiam memperhatikan Alby perlahan berjalan mundur ke belakang.


"Saat kau terbaring lemah di rumah sakit, aku hanya jadi penonton. Saat kau menangis karena sikap Marsha, aku hanya tertawa. Saat kau butuh teman dan tempat berkeluh kesah, aku ga pernah ada di sampingmu. Saat kau terjatuh, aku tidak pernah ulurkan tangan bahkan aku tidak pernah anggap kau sebagai sahabatku, bukankah begitu?" ungkap Marsha dengan nada bergetar menahan sesak di dada.


"Bukankah yang selama ini ada dan terlihat di matamu hanya marsha?" sambungnya lagi.


"Alby!"


Alby mengangkat tangannya pada Raymond dan Farel sebagai tanda kalau dia baik baik saja dan jangan ikut camppur.


"Katakan, jangan cuma diam!" bentak Alby pada Axelle.


"Al, bukan maksudku begitu..." jawab Axelle.


"Aku memang sudah menipumu, dengan berpura pura menjadi laki laki. Tapi bukan hakmu untuk menilai apalagi menghakimiku!" teriak Alby hingga terdengar oleh teman temannya yang lain, yang berada di sekitar taman.


"Jika kebohonganku tidak kau maafkan, baik...aku mengerti..aku telah salah menilaimu." Air mata yang sedari tadi Alby tahan akhirnya mengalir deras di pipinya.


"Aku, aku mencintaimu dengan tulus. Selama ini, aku pikir kau adalah rumah yang tidak pernah kudapatkan dari keuargaku sendiri, ternyata kau sama saja!"


"Alby, kau salah paham.." Axelle coba menenangkan Alby, namun rasa kecewa di hati Alby sudah terlalu dalam.


"Jika aku, jadi penghalangmu dengan marsha. Jangan anggap aku sahabatmu lagi. Mulai sekarang kita adalah musuh!" pekik Alby, seraya mengusap air matanya lalu balik badan dan meninggalkan taman.


Axelle merasa bersalah terhadap Alby, dan memanggil namanya berkali kali.


"Alby, tunggu!"


Saat Axelle henda mengejar Alby, kedua sahabatnya menghadang Axelle.


"Biarkan Alby tenang, sudah cukup kau buat dia menangis," kata Raymond.


"Kau bukan Axelle si anak cerdas, populer dan di takuti. Tapi sekarang kau tak lebih dari si Axelle yang bodoh." Timpal Farel dengan nada cemooh.


Axelle menatap tajam Farel.


"Apa, faktanya kau memang terlihat bodoh setelah mengenal marsha." Sambung Farel, lalu menarik lengan raymond menjauh dari Axelle.


ARRRGGGGGHHH


Axelle berteriak kencang dan menendang kursi yang ada dii sampingnya membuat anak anak yang memperhatikannya menjauh dari tempat itu.


"Aku benci situasi ini!!!"