AXELLE

AXELLE
Bab 16



Ketua geng motor Rajawali mengalihkan pandangannya ke arah motor Axelle yang menghampirinya di ikuti ketiga sahabat Axelle. Mereka ber-empat turun dari atas motor lalu berjalan menghampiri ketua geng tersebut.


"Wow, lihat bocah ingusan ini rupanya datang mengantarkkan nyawa" ucap ketua geng motor yang berkepala plontos, tersenyum mengejek ke arah Axelle dan sahabatnya.


Axelle tidak terpengaruh oleh ucapan pria botak tersebut. Ia berjalan mendekati Marsha ddan berdir tepat di depannya untuk melindungi.


Pria botak itu tersenyum menyeringai seraya mengalungkan ranta besi di lehernya sendiri.


"Pergi dari sini atau aku akan membuat wajah tampanmu seperti martabak gosong," ancam pria itu.


Axelle massh diam denggan tatapan tajam tanpa bicara sepatah katapun. Namun detik berikutnya satu bogem mentah mendarat di wajah pria botak tersebut hingga terhuyung satu langkah ke bbelakang.


Pria tersebut mengalihkn pandangannya ke arah Axelle seraya mengusap pipi kirinya lalu tertawa mengejek. Pria itu malu sekaligus terkejut, baru kali ini ada bocah yang berani memukulnya.


"Berani sekali, rupanya kau belum tau dengan siapa kau berhadapan," ucap pria itu geram.


Lagi lagi Axele mengabaikan peringatan pria itu. Axelle kembali melayangkan tinjunya ke wajah pria itu, tapiii kali ini pria botak tersebut tidak bergeming sedikitpun meski tinju yang di layangkan Axelle cukup keras, membuat ketiga sahabatnya terkejut begitu juga Marsha.


Pria botak itu menatap tajam Axelle dan ketiga sahabatnya, lalu ia menyuruh satu gengnya untuk menyerang Axelle dan yang lain.


Tanpa menunggu aba aba lagi, ke lima pria botak itu menyerang Axelle menggunakan rantai besi.


Axelle, Raymond dan farel berpencar mencari posisi uuntuk menghadang serangan gerombolan genk motor tersebut. Sementara Alby hanya diam memmperhatikan Axelle yang menangkis setiap serangan mereka sambil melindungi Marsha yang ikut membantu Axelle.


Tak lama kemudiann Alby mulai geram dengan gerombolan genk motor yang berbuat curang, ia maju mendekati Axelle dan membantunya. Di pihak lain Raymond dan Farel tanpa ada rasa takut terus melawan genk motot tersebut.


Selang beberapa menit, nampak dari arah lain beberapa motor berhenti tepat di depan Raymond dan Farel. Nampak Haidar bersama kawan kawannya datang membantu dan melawan genk tersebut.


Alby merasa senang melihat kedatangan Haidar, setidaknya kehadiran Haidar bisa memisahkan antara Marsha dan Axelle.


Alby yang tengah fokus ke arah Haidar tiba tiba berlari ke arah Axelle dan mendorong tubuhnya hingga tersungkur ke lantai. Alby merelakan tangannya kena sabetan rantai besi.


"Marsha!" teriak Axelle seraya bangkit dan melindunginya.


Gerombolan genk motor semakin terdesak dengan kedatangann bala bantuan, ketua genk tersebut akhirnya memerintahkan anak buahnya untuk mundur.


Haidar tertawa melihat gerombolan tersebutmelarikan diri, lalu ia mengalihkan pandangannyapada Masha dan Axelle, ia berjalan mendekati mereka.


"Kau tidak apa apa?'tanya Haidar pada Marsha dan tidak perduli dengan Axelle.


'Aku tidak apa apa.' jawab Marsha.


"Aku antarkan kau pulang,' Haidar menarik tangan Marsha, Namun Axelle menepis tangan Haidar.


'Marha pacarku, jadi aku yang berhak mengantarkannya.' Tegas Axelle.


Haidar mengernyitkan dahi menatap Axelle, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Marsha dan mendekatan kepalanya tepat di wajah Marsha.


"Kau pulang denganku, biarkan dia megobati temannya yang luka." kata Haidar seraya melirik ke arah Axele.


Marsha mengangguk lalu megucapan terima kasih pada Axelle, setelah itu ia mengambil semua barang belanjaanny. Setelah itu ia berjalan mmengikuti Haidar begitu saja. Axelle hanya bengong melihat sikap Marsha.


Raymond dan Farel terdiam dan hanya Alby yang berani angkat bicara.


"lihat, apakah dia yang kau anggap pacar. Bisa menghargaimu?"


Axelle sedikit geram dengan perkataan Alby, ia melangkahkan kakinya dan memutuskan untuk menyusul Marsha dan Haidar.


Alby tersenyum sinis memperhatikan Axelle, seolah olah Marsha adalah segala galanya.


"By, kita pulang. Obatin lukamu." kata Farel.


"Tidak apa apa, aku terbiasa terluka." Sahut Alby lalu berjalan lebih dulu menuju motornya.


Raymond dan Farel saling pandang sesaat, mereka berdua tidak mengerti maksud ucapan Alby.