
Selama mereka ujian, Haidar dan Axelle begitu juga dengan Raymond dan Farel menjaga Alby di rumah sakit.
Selama itu pula, sikap Axelle terhadap Marsha tidak lagi sehangat dulu. Axelle lebih banyak menghindar dan bersikap dingin padanya dan bahkan kebiasaan dulu yang Axelle tunjukkan tidak lagi terlihat, membuat Marsha bertanya tanya mengapa Axelle berubah meski dari hatinya yang dalam, ia mengakui semua perubahan Axelle karena kebohongan yang ia sembunyikan.
Di jam istirahat, Marsha sengaja mengajak Axelle bertemu di taman belakang sekolah.
"Ada apa?" tanya Axelle, sambil memalingkan wajahnya.
"Kau kenapa, sikapmu berubah dan terlihat canggung?" tanya Marsha balik.
"Kau masih bertanya, aku kenapa?" tanya Axelle lagi membuat Marsha diam sejenak dan menundukkan kepala.
"Aku tau salah, sudah membohongimu. Aku juga sudah menyembunyikan statusku, kau pantas marah." Jawab Marsha.
Axelle menatap raut wajah marsha seperti tanpa dosa, tapi hati siapa yang tahu. Di balik raut wajahnya yang tidak menunjukkan rasa bersalah, dalam hatinya menyimpan rasa sesal.
"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini, aku tidak mau mengganggu hubunganmu dengan Rafka."
DEG
"Aku tidak mau!" tolak Marsha tegas.
"Tapi aku tidak bisa, Sha."
Marsha menarik tangan Axelle dan menggenggamnya erat.
"Aku tidak mencintainya, dan kau tahu dia sering berbuat kasar padaku," ucap Marsha coba menahan Axelle.
Axelle diam cukup lama, mengingat semua kebohongan di balik ceritanya yang membuat Axelle percaya.
"Aku dan Rafka menikah karena terpaksa, aku juga tidak mau. Aku terpaksa Xell..."
"Kalau memang kau tidak mencintainya, kenapa dari awal kau tidak menolaknya?!" tanya Axelle dengan nada tinggi.
"Itu di luar kendaliku!" sahut Marsha.
"Lalu aku harus apa? tetap bertahan denganmu sementara kau sudah menikah dengan Rafka. Apa yang harus aku lakukan Sha?" Axelle menepis tangan Marsha.
"Aku tidak tahu..." jawab marsha pelan.
"Sampai kapan?!" tanya Axelle mulai kesal.
"Aku tidak tahu!" seru marsha mulai bingung.
Axelle mengusap kasar wajahnya dan menarik napas panjang.
"Kau mau hidup bersamaku?" tanya Axelle dan Marsha menjawab dengan anggukkan kepala.
"Kau mau aku tetap bersamamu?" lagi lagi di jawab dengan anggukkan kepala.
"Kalau begitu ikut aku, kita pergi bersama dan tinggalkan suamimu sekarang juga." Tegas Axelle sambil menarik tangan marsha dan mengajaknya untuk pergi.
Namun marsha menahan tangan Axelle dan menolak untuk ikut, Axelle berbalik menatap wajah Marsha.
"Kenapa?" tanya Axelle.
"Jangan sekarang, aku tiodak bisa meninggalkan mereka begitu saja. bagaimana dengan kakakku, bagaimana dengan Rafka."
"Sampai kapan?" tanya Axelle untuk kesekian kalinya.
"Aku tidak tahu, aku mau kau tetap di sini bersamaku!"
"Kau sudah gila, kau memintaku untuk bnbertahan denganmu sementara kau setiap hari setiap malam menghabiskan waktu d3engan Rafka!" bentak Axelle.
"Tidak, tidak seperti itu!" bantah Marsha.
"Aku pikir kau selingkuh, ternyata aku lah selingkuhanmu." pungkas Axelle lalu bergegas pergi meninggalkan marsha yang terus memanggilnya.
"Axelle!!"
"Axelle!!"
Namun AXelle mengabaikan panggilan Marshja, sudah banyak yang ia korbankan untuk perempuan yang ia cintai hingga mengorbankan persahabatannya. Demi cintanya yang tulus pada Marsha, hingga ia mengabaikan cinta tulus Alby untuknya.
Axelle merasa kesalahan Marsha sudah tidak bisa di maafkan lagi, ia memilih untuk pergi meski sulit dari pada bertahan tapi sakit.