
Pertandingan kedua.
Ketua dan yang lain sudah duduk di kursi yang sudah di sediakan. Begitu juga Dirga Dewangga, Gerry dan Alby yang sudah siap dengan pakaian taekwondonya.
Toni dan Eva, Axelle terlihat tidak antusias dengan pertandingan itu. Mereka hadir dan mengikuti acara pertandingan hanya mengikuti peraturan yang di buat ketua dan menghormatinya saja.
Tapi, kali ini ada yang berbeda. Haidar berada di jajaran kursi kerua, bahkan duduk di sampingnya. Membuat Toni dan Dirga bertanya tanya, siapa Haidar dan mengapa ada di kursi paling penting.
Axelle dan Haidar bergegas menuju ring dan bersiap siap untuk bertanding. Haidar menatap Axelle dengan senyuman meledek, namun Axelle tidak ada niatan untuk bertarung dengan Haidar.
Haidar mengerti apa yang ada di dalam pikiran Axelle, ia sudah menyusun rencana jauh jauh hari supaya Axelle mau bertarung dengannya.
Haidar mulai memasang kuda kuda, melebarkan kakinya. Kedua tangan di kepalkan dengan tatapan tajam ke arah Axelle yang masih terlihat santai.
Suara peluit di tiup pertanda pertandingan di mulai.
"Kemarilah..." ucap Haidar mengacungkan jempolnya ke bawah, membuat Axelle tergerak untuk melawannya.
Alby yang berada di berada di barisan kursi yang kedua memperhatikan Axelle dan Haidar yang mulai saling menyerang. Dalam hati, ia berharap Axelle memenangkan pertandingan dan bisa menjadi ketuap BloodMoon.
Namun, Alby merasa ada yang aneh di setiap pergerakan Axelle terlihat tidak seimbang. Axelle seperti di kuasai amarah dan kebencian terhadap Haidar.
Namun di sisi lain, Haidar seperti kewalahan menghadapi Axelle.
"Apakah Haidar mengatakan yang sebenarnya tentang Marsha?" batin Alby.
"Jangan sampai Haidar memberitahu Axelle di saat sedang bertanding." Batinnya lagi.
Raymond dan Farel yang duduk di belakang Alby, memperhatikan jalannya pertandingan dengan khawatir. Mereka berdua takut kalau Axelle dapat di kalahkan oleh Haidar.
"Semoga Axelle menang," ucap Farel di jawab anggukan kepala oleh Raymond.
Namun sayang, Axelle melakukan pelanggaran. Ia memiting batang leher Haidar, dan di saat bersamaan Haidar mengucapkan kalimat.
"Kau mau tau kebenaran tentang Marsha? Asal kau tahu, Marsha dan Rafka sepasang suami istri."
Wasit memberikan aba aba untuk kal- yeo atau break. Namun Axelle tidak mau melepaskan Haidar.
"Kau tertipu oleh kepolosan Marsha..hahahahaha!" sambung Haidar.
Wasit menarik tangan Axelle supaya melepaskan Haidar, dan usaha wasit tidak sia sia.
"Kau berbohong."
Haidar tersenyum lebar.
"Ada keuntungannya buatku?" tanya Haidar, bersamaan dengan Axelle melepaskan cengkramannya.
Axelle menatap marah, matanya merah tapi berkaca kaca. Dadanya sesak, panas dan jantungnya berdetak lebih kencang. Haidar hanya tersenyum sambil mengusap lehernya sendiri.
Akhirnya, wasit menentukan Haidar sebagai pemenang karena Axelle melakukan banyak pelanggaran dan mengurangi nilainya. Setelah itu, wasit mengumumkan pertandingan selanjutnya Haidar melawan Alby sebagai penentu siapa yang berhak menjadi ketua.
Axelle bergegas meninggalkan aula pertandingan, di ikuti Raymond, Farel dan kedua orang tuanya karena mereka berdua khawatir.
Namun Eva dan Toni menghentikan langkahnya tepat di halaman gedung, membiarkan kedua sahabatnya berbicara dengan Axelle.
Axelle duduk di atas rumput menundukkan kepalanya, keringat bercucuran di wajahnya bercampur dengan air mata.
"Kenapa kau membohongiku, kenapa kau menipuku Sha.." ucap Axelle suaranya terdengar serak.
Raymond dan Farel duduk di samping kiri dan kanan Axelle. Mereka membiarkan Axelle tenang dulu sebelum mereka mengajak bicara.
"Aku sudah menduganya, kalau kau menyembunyikan sesuatu. Tapi entah mengapa aku berusaha untuk tidak mempercayai apa yang aku pikirkan."
"Tega sekali kau membohongiku Marsha..." ucap Axelle, tubuhnya bergetar.
Raymond dan Farel kini mengerti, mengapa Axelle melakukan kesalahan. Ternyata dugaan mereka benar, Haidar memberitahu kebenaran di saat yang kurang tepat.
Raymond merangkul bahu Axelle, di ikuti Farel. Mereka berdua memeluk Axelle tanpa harus memberikan komentar atau menghakimi saat keadaan sedang kacau.
Ketiganya larut dalam kesedihan Axelle. Hari ini, terungkap arti sebuah persahabatan.
Matahari tak pernah bosan, menyinari matahari meski kehadirannya terkadang tidak di inginkan.
Betapa hangatnya sebuah persahabatan, ikatan kuat yang terjalin begitu hebat. Dimulai dari kata kata ejekan, kata kata pedas hingga membuat menangis, tertawa dan kata kata manis. Tetapi sahabat, orang yang berdiri di depan, ketika sahabatnya terluka.
Axelle berdiri dengan tiba tiba lalu menatap kedua sahabatnya yang ikut berdiri.
"Kalian sudah tahu, kalau Marsha dan rafka?" tanya Axelle.