AXELLE

AXELLE
Bab 74



Di kediaman Dirga Dewangga.


Sejak pulang dari rumah sakit dan mendengarkan penjelasan dokter mengenai penyakit kanker yang di derita putrinya, Dirga tidak pernah lagi ke kantor bahkan ia cenderung lebih mengurung dirinya di kamar.


Semua urusan perusahaan di tangani oleh Gerry yang selama ini mengincar dan ingin menguasai seluruh harta milik Dirga. Kesempatan ini tidak di lewatkan Gerry untuk terus memp[engaruhi Dirga dan memutar balikkan fakta. Apa yang terjadi sama Alby murni kesalahan Dirga.


Tiga hari Dirga mengurung diri di kamarnya, ia keluar dengan raut wajah murung. Rambutnya berantakan dan masih menggunakan piyama yang sama seperti tiga hari lalu.


"Alana!" panggilnya berkali kali menatap pintu kamar putrinya yang tertutup rapat.


"Alana!"


Dirga membuka paksa pintu kamar, dan ia terdiam memperhatikan ranjang yang masih tertata rapi dan semua barang barang milik ALby.


Biasanya Dirga akan melihat raut wajah ketakutan Alby berdiri di tepi ranjang saat mendengar namanya di panggil.


Pelan pelan Dirga menutup kembali pintu kamar putrinya dan menuruni anak tangga, mencari keberadaan Alby.


Di ruang tamu, Dirga melihat Gerry tengah berdiri dan memperhatikannya.


'Di mana Alana?" tanya Dirga seakan akan lupa dan tidak terjadi apa apa.


Gerry memanfaatkan situasi Dirga yang mulai kacau, ia mendekati ayah angkatnya sambil tersenyum dan berbicara pelan di telinga Dirga.


"Papa lupa, kalau Alana saat ini terbaring di rumah sakit dan sebentar lagi akan mati karena papa?"


Dirga memalngkan wajahnya menatap ke arah Gerry.


"Jaga bicaramu, Alana pasti sudah berangkat sekolah.' jawab Dirga.


"Alana tidak ada di rumah atau di sekolah. Alana ada di rumah sakit, papa lupa? papa sudah menghabisinya, papa juga yang tidak pernah menerima Alana menjadi perempuan, biar aku bantu mengingatkan."


Gerry menarik tangan papanya lalu membawa ke ruangan di mana terakhir ia menyiksa Alana tanpa belas kasihan. Bahkan, alat alat yang di pakai untuk memukuli Alana masih ada di ruangan itu.


Gerry terus meracuni otak Dirga dengan mengingatkan semua kesalahannya terhadap Alana sejak kecil hingga remaja.


PLAKKK


Untuk pertama kalinya Dirga menampar wajah Gerry cukup keras, lalu ia mendorong tubuhnya dan berlari keluar rumah.


"Papa, kau mau kemana!" teriak Gerry menyusul Dirga. Namun sayang Dirga sudah masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju rumah sakit tempat Alana di rawat.


Sementara itu di rumah sakit.


Tuhan ketika aku kecewa, ketika aku lelah dengan semua perlakuan papa padaku..aku lebih memilih memendamnya sendiri dan memilih untuk menangis. Aku selalu berharap, ada di mana semua hal yang aku harapkan akan indah pada waktunya. Namun, apa yang aku inginkan semua itu hanyalah mimpi yang akan pernah aku dapatkan.


Perlahan tapi pasti, bulir air mata jatuh membasahi pipi Alby. Ia benci dirinya, benci dengan hidupnya yang tak seberuntung wanita lain. Ada keinginannya untuk mengakhiri hidupnya saat ini juga.


Perlahan Alby membuka mataya pelan pelan lalu menatap kesekitar ruangan yang sepi. Saat Alby berusaha untuk bangun, sudut matanya menangkap bayangan wajah papanya lewat kaca jendela, Alby mengurungkan niatnya dan memejamkan mata saat pintu ruangan di buka oleh Dirga lalu berjalan perlahan mendekati ranjang.


Dirga berdiri mematung, tatapannya sendu menatap wajah putrinya untuk pertama kali cukup lama. Tanpa ia sadari, terukir senyum di sudut bibirnya melihat wajah Alby.


"Kau mirip ibumu sewaktu masih muda, bibir dan hidungmu...semuanya..." ucap Dirga baru menyadari dan teringat akan mendiang istrinya.


"Kau cantik dan keras kepala, sama seperti ibumu.." sambungnya lagi.


Perlahan tangannya terulur, dengan gemetaran berusaha untuk menyentuh pipi Alby dengan penuh cinta. Sementara ALby mendengarkan semua kata kata papanya, untuk pertama kali ALby dengar setelah sekian lama yang Dirga ucapkan hanya kalimat cacian dan penolakan atas dirinya.


Namun, semua itu tidak membuat Alby hatinya tersentuh. Baginya, apapun kata penyesalan yang Dirga ucapkan sudah terlambat dan tidak akan merubah apapun.


Dirga terus membelai wajah Alby dan di saat bersamaan, Axelle, Raymond dan Farel masuk ke dalam ruangan. Axelle yang salah paham langsung berlari mendekati dirga dan menarik tangannya dan mendorongnya ke belakang supaya menjauhi Alby.


"Kau mau apa, paman?" tanya Axelle sambil melirik ke arah Alby yang masih memejamkan matanya.


"Kau jagan jadi anak kurang ajar." Balas Dirga marah.


"Aku papanya, hanya aku yang berhak menentukan siapa yang boleh menjenguk putriku!" sambungnya dengan nada tinggi.


"Apa, putrimu? sejak kapan paman mengakui Alby adalah putrimu? bukankah selama ini paman tidak mau mengakuinya?" sindir Axelle.


Dirga menatap tajam wajah Axelle, sorot matanya liar seakan ingin menghabisi Axelle saat itu juga.


"Diam, dan jaga mulutmu. Kau anak kemarin sore, tidak perlu mengajariku apalagi meninggikan suaramu!!"


"Aku sudah melaporkan semua kejahatanmu terhadap Alby, sebentar lagi paman akan mendekam di penjara." Sahut Axelle tak kalah marah.


"Berainya kau!!" bentak Dirga, maju mendekati AXelle hendak memukul wajahnya namun Raymond dan Farel menahan Dirga.


"Hentikan.."


Dirga dan yang lain menoleh ke arah suara lemah milik Alby yang sudah bangun dan duduk di ranjang menatap ke arah mereka semua.


"Alana..." ucap DIrga maju selangkah mendekati ranjang namun di tahan oleh Alby.


"Jangan mendekat, aku tidak sudi melihatmu lagi. kau bukan papaku, aku tidak memiliki siapa siapa di hidupku.." jawab Alby pelan namun terd3engar oleh semua orang.


"Maafkan papa..." ucap Dirga sedih, matanya berkaca kaca menatap wajah putrinya.


"Pergi...dan jangan pernah temui aku lagi...pergilah aku mohon..." pinta Alby dengan tatapan kosong.


"Paman, pergilah. Biarkan Alby beristirahat." kata Raymond mendekati DIrga dan menarik pelan tangannya.


"Alana...maafkan papa , nak..." ucap Dirga berkali kali dan menolak untuk pergi, namun raymond terus memaksa supaya Dirga memberiokan Alby ketenangan dan waktu untuk berfikir. Mau tidak mau,. akhirnya dIrga keluar dari ruangan dengan perasaan sedihy, ia hanya bisa memperhatikan putrinya lewat kaca jendela ruangan.