
Alby baru saja melangkahkan kakinya memasuki rumah. Langkahnya terhenti tepat di depan Dirga Dewangga dan Gerry. Perasaan Alby mulai tidak enak, ia tahu apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya.
PLAKKK
Tiba tiba saja Dirga Dewangga menampar wajah Alby tanpa menjelaskan terlebih dahulu apa kesalahannya.
Alby memegang pipinya yang terasa sangat panas dan kupingnya berdengung, menatap wajah papanya.
"Pa, ada apa lagi?" tanya Alby.
Dirga hanya dia menatap marah pada putrinya, lalu Gerry mau kedepan dan melemparkan beberapa lembar poto ke wajah Alby.
Alby diam menundukkan kepalanya dan mengambbil salah satu poto.
"Aku sudah peringatkan, jauhi Axelle!" seru Dirga Dewangga marah.
"Tapi kenapa, pa?" tanya Alby tidak mengerti.
PLAKKK
Bukan jawaban yang Alby dapatkan tapi satu tamparan lebih keras lagi membuat tubuh Alby tersungkur ke lantai. Sebelum Alby bangun, Dirga Dewangga lebih dulu menarik rambut Alby lalu berkali kali menampar wajahnya tanpa ampun.
"kau harus ingat, bahwa kau seorang anak laki laki," kata Dirga Dewangga.
Alby yang terlihat sangat lemah, berusaha untuk membela diri.
"Kenapa ayah tidak pernah bisa menerimaku sebagai anak perempuan, jelaskan padaku papa," kata Alby.
BUKKKK
Tanpa rasa kasiha, Dirga Dewangga memukul wajah Alby berkali kali hingga darah segar mengalir dari mulut dan hidungnya. Alby bangkit dari lantai dan mencoba berdiri dengan tegap menatap marah pada Dirga Dewangga dan Gerry.
"Dari pada kalian menyiksaku seperti ini, kenapakalian tidak membunuhku saja!" pekik Alby dan darah segar menetes dari mulut Alby ke lantai.
Gerry Dewangga menghampiri Alby dan menyeret paksa tubuh Alby ke kamarnya. Sesampainya d kamar, Gerry menghempaskan tubuh Alby ke lantai.
"Pikirkan lagi, apa yang sudah kau perbuat Jauhi Axelle kau seorang anak laki laki," ucap Gerry lalu beranjak pergi meninggalkan Alby di kamarnya.
Alby menatap pintu yang tertutup rapat, hatinya hancur bukan karena tamparan papa nya.
Alby berusaha berdiri tertatih menuju kamar mandi yang ada di kamarnya, meskipun terasa sangat perih, Alby mulai membersihkan darah di sudut bibir dan hidungnya.
Alby menatap bayangan wajahnya di cermin. Nampak luka lebam menghiasi wajahnya.
Alby tersenyum lalu tertawa terbahak bahak. Matanya merah menyala, menyimpan rasa sakit yang teramat dalam.
"Apa yang teradi padaku, sungguh aku bisa gila..." batin Alby.
"Sungguh ini sangat menyakitkan, aku sudah tidak sanggup lagi..."
Alby mengusap air mata di pipinya lalu keluar dari kamar mandi dan mulai mengemasi pakaiannya ke dalam tas ranselnya. Diam diam Alby meninggalkan rumahnya dan memutuskan untuk tinggal jauh dari papa nya.
Ditengah jalan, Alby masih bingung harus pergi kemana dan tinggal di kota mana. Namun ia juga tidak ingin keluar dari sekolah apalagi harus jauh dari Axelle. Di sebuah hlte, Alby duduk termenung memikirkan nasibnya yang tak seberuntung orang lain, meski bergelimpangan harta namun hidupny tidak bahagia.
Tiiiiittttttt
Lamunan Alby buyar karena terdengar bunyi klakson mobil yang memekakkan telinganya. Alby menoleh ke arah mobil yang menepi tepat di sampingnya.
Nampak Eva keluar dari dalam mobil dan menghampiri Alby. Eva terkejut melihat wajah Alby penuh dengan luka lebam lalu duduk di sampingny.
"Alby?" sapa Eva.
"Tante," sahut Alby menundukkan kepalanya.
"Kau baik baik saja, nak?" tanya Eva seraya menyentuh pipi Alby dengan sangat hati hati.
"Aku bak baik saja tante, anak laki laki biasa tante," jawab Alby.
"Kau mau ke rumah sakit, biar tante antarkan." Tawar Eva sambil melihat tas ransel di punggung Alby.
Alby menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih tante," tolak Alby dengan sopan.
"Tapi kamu terluka, dan itu pasti sakit banget. Bagaimana kalau tante antarkan kau pulang?" tawar Eva terlihat sangat khawatir.
Alby diam sejenak, ia tidak tahu harus bagaimana harus memberikan alasn pada Eva.
"Tidak perlu tante, aku bisa pulang sendiri." Tolak Alby, namun Eva tidak membiarkan Alby pulang sendiri. Ia tetap bersikeras untuk mengantarkan Alby sampai rumahnya.
Alby mulai kebingungan, karena Ev memakanya untuk pulang ke rumah, jika Alby menolaknya maka Eva akan menghubungi papanya. AkhirnyaAlby terpaksa berbohong dan memberikan alasan kalau papa dan kakaknya prgi keluar negeri. Ia takut untuk tidur di rumah sendirian dan berniat menginap di rumah sahabatnya.
Namun di luar perkiraan Alby, Eva tidak mengizinkan Alby untuk menginap di rumah sahabatnya dan Eva memaksa Alby untuk ikut ke rumahnya dan menginap di rumah dengan alasan supaya ada yang bisa merawat luka di wajah Alby.
"Tapi tante," kata Alby.
"Tidak ada tapi, tapian kau harus ikut ke rumh tante," jawab Eva.
Alby tidak dapat menolaaak lagi keinginn Eva, akhirnya ia ikut bersama Eva ke rumahnya.