AXELLE

AXELLE
Bab 76



Dikediaman Toni.


Eva dan toni mendatangi kamar Axelle yang baru saja pulang dari rumah sakit, setelah membersihkan diri ia bersiap siap untuk pergi ke rumah sakit lagi untuk menjaga Alby meski sudah di larang namun Axelle tetap akan berada di sisi Alby.


"Kau mau kemana lagi, nak?" tanya Eva memperhatkan Axelle mengemasi baju seragamnya ke dalam tas.


Axelle menghentikan aktifitasnya lalu berdiri tegap menghadap ke arah orang tuanya.


"Aku mau ke rumah sakit, menjaga Alby." Kata Axelle, lalu kembali melanjutkan kemas kemas bajuya.


"Tapi kenapa kau membawa seragammu?" tanya Toni.


"Aku mau berangkat kesekolah dari sana, dad.." sahut Axelle dan kembali berdiri tegap menghampiri orang tuanya dan mengenggam tangan kedua orang tuanya.


"Dad..Mom..izinkan aku menemani ALby untuk menebus semua kesalahanku, aku tau...Alby membutuhkanku meski ia melarangnya." Ungkap Axelle dengan mata berkaca kaca.


"Selama yang kau butuhkan, kau boleh menemani Alby tanpa harus meminta izin," ucap Eva seraya mengusap puncak kepala Axelle.


"Terima kasih..." Axelle mencium tangan Eva dan Toni bergantian, lalu balik badan mengambil tasnya.


"Aku pergi dulu..' sambungnya.


Eva mengangguk, lalu mereka berdua mengantarkan Axelle sampai teras rumah dan berpesan untuk sekolah jangan sampai ia terlambat kesekolah.


***


Sesampainya dirumah sakit, ternyata Raymond dan Farel sudah datang lebih awal, mereka menunggu duduk di kursi luar ruangan Alby.


Axelle melihat Alby dari kaca ruangan, terlihat Alby sedang tertidur dan semua alat alat medis terpasang di tubuhnya.


Axelle menghampiri kedua sahabatnya dan bertanya pada mereka.


"Apa yang terjadi dengan Alby?"


Raymond dan Farel berdiri lalu mereka bertiga memperhatikan Alby dari kaca ruangan.


"Tadi Alby sempat kritis, untung Alby bisa melewatinya." Jelas Farel.


Axelle dan kedua sahabatnya menatap sedih, mereka tidak di izinkan masuk oleh suster.


"Kalian sedang apa?"


Axelle dan dua sahabatnya menoleh ke arah sumber suara, terlihat Haidar sudah berdiri di belakang mereka.


Axelle yang sudah menanti pertemuan dengan Haidar langsung mencengkram kerah bajunya.


"Dari awal kau tau semuanya, tapi kau bersikap misterius tidak mau mengatakan semua kebenaran tentang Alby!"


"Apa kau punya waktu bicara denganku baik baik? Bukankah kau selalu curiga dan cemburu padaku?"


"Tapi ga begini konsepnya!" balas Axelle dengan nada tinggi.


"Kau punya banyak kesempatan untuk memberitahuku, tapi kau malah bersikap seakan akan tidak tahu!" katanya lagi.


"Marsha, bukankah selama ini yang kau dengar hanya perkataan Marsha? Kau hanya memprioritaskan dia? Bahkan kau memilih untuk menjauhi Alby demi Marsha, apa kau lupa?" jelas Haidar.


Namun Axelle tidak mau tahu, ia terus mencengkram baju Haidar dengan tatapan marah.


"Aku pamanmu, apa kau bisa lebih sopan sedikit?" Haidar mengingatkan sambil menepis tangan Axelle, namun Axelle malah menghajarnya.


Bukkk


Haidar terhuyung dan mundur selangkah sambil memegang pipinya.


"Aku tidak perduli kau pamanku atau bukan, kau dan kakek ikut andil atas apa yang terjadi dengan Alby!" tuduh Axelle.


"Hentikan Axelle!" seru Raymond saat Axelle hendak memukul haidar lagi bersamaan dengan suara batuk batuk dari dalam ruangan Alby.


Axelle dan yang lain langsung berebut berdiri di depan kaca ruangan melihat Alby bangun dan batuk batuk bersamaan dengan darah segar mengair dari lubang hidungnya.


Axelle bverlari memasuki ruangan di susul Haidar dan Raymond, sementara Farel langsung menekan tombol memanggil dokter.


"Alby bertahanlah!" ucap Axelle dan Haidar bersamaan dan mereka semua panik menunggu datangnya dokter.


Tak lama kemudian, dokter da suster masuk ke dalam ruangan. Mereka di minta untuk menunggu di luar.


Axelle bersandar di dinding, matanya terpejam. Ia mengingat semua hal yang telah mereka lewati sejak pertama kali mereka bersahabat. Axelle me mbuka matanya, ia menatap gelang hitam di pergelangan tangannya pemberian Alby dulu sebagai tanda persahabatn mereka tidak akan terpisahkan kecuali maut. namun nyatanya, Axelle sudah mengkhianati persahabatn mereka dan ia pun menyesalinya.


"Tuhan, berikan kesempatan untukku dan sembuhkan penyakit Alby..." batin Axelle.


Haidar memperhatikan dokter dan suster lewat kaca jendela bersama Raymond dan Farel. Mereka berdoa untuk kesembuhan Alby hingga tak terasa air mata hampir jatuh mebasahi pipi.


Namun tidak bagi Haidar, ia sama sekali tidak terlihat sedih.


"Al, berjuang...setidaknya untuk dirimu sendiri..' gumam Haidar.


Selang beberapa menit, dokter keluar dari dalam ruangan bersama suster dan memberitahu mereka untuk membiarkan Alby istirahat dan jangan membuat keributan.


"Dok, bagaimana dengan Alby?' tanya Axelle dan Haidar bersamaan, lalu saling pandang sesaat.


Dokter terdiam, menatap satu persatu anak remaja di hadapannya lalu ia meminta mereka untuk mendatangkan orang tua Alby.