
Di sekolah.
Teng tOng..
Bel berbunyi tanda sekolah sudah berakhir. Para siswa berhamburan keluar dengan senang nya.
Raymond Farrel dan Alby pun keluar bersama. Sementara Axelle bersama Marsha di belakang mereka.
Axelle selalu menatap ke arah para sahabatnya seolah dia sangat ingin bergabung bersama mereka, tetapi Axelle aselalu ingat dengan komitmen yang selalu pegang untuk tetap jadi anak baik sesuai permintaan Marsha.
Terlihat dari sorot matanya jika Axelle sangat merindukan kebersamaan bersama para sahabatnya itu, namun ia lebih mengutamakan perasaan marsha dari pada keinginannya itu.
Kadang Axelle merasa kesal dan menyesal sudah mengambil komitmen itu, mengingat usianya yang masih remaja. Namun hatinya langsung luluh saat dia merasa kalau Marsha yang selalu berada di sisinya dengan wajah bahagia.
Alby dan kedua sahabatnya berjalan sambil bercanda. Namun langkah Alby terhenti saat akan menuju tempat parkir.
Alby melihat Gerry sudah ada di sana menunggunya. Dengan segera Alby pun menghampirinya .
"Ada apa?kenapa datang kemari?" tanya Alby.
"Papa menyuruhku menjemputmu dan membawamu pulang segera." jawab Gerry.
"Memangnya ada apa?aku harus pergi dulu bersama temanku." kata Alby.
"Tidak bisa.Kau harus pergi bersama ku sekarang." Gerry mencengkram lengan Alby.
"Ada apa, By?" tanya Raymond .
"Ah tidak ada. Maaf aku sepertinya harus pulang sekarang." kata Alby.
"Kenapa?bukankah kita akan pergi?" tanya Farrel.
"Ya maaf semua. Papah menyuruhku pulang sekarang." jawab ALby dengan nada sedih.
"Baiklah jika Papa mu yang menyuruhmu. Kami tak bisa menahan mu." Kata Raymond menepuk pundak Alby.
Alby tersenyum lalu pergi bersama Gerry. Raymond dan Farrel memperhatikan ALby masuk ke dalam mobil, lalu meninggalkan sekolah.
"Aku lihat Alby sudah akur dengan kakaknya, aku harap begitu selamanya," kata Farel. Di jawab anggukan kepala oleh Raymond, lalu keduanya menoleh ke arah Axelle.
Raymond menepuk perut Farel pelan dan berbisik.
"Sudah, kita pulang. Biarkan Axelle bersama dunianya, kita ga ada hak mencampuri kehidupannya."
Farel mmenganggukkan kepalanya, lalu mereka berdua beranjak pergi meninggalkan sekolah di lepas oleh tatapan sedih Axelle dari kejauhan.
Sementara itu, Alby dan Gerry yang sudah sampai rumah langsung menemui Dirga Dewangga yang sudah menunggu sejak tadi.
"Papa memanggilku?"
Dirga Dewangga berdiri dan menghampirinya, lalu meletakkan tangannya di pundak Alby.
"Ya, aku memanggilmu untuk brerlatih."
"Berlatih? untuk apa?" tanya Alby.
"Perusahaan bloodmoon, mengadakan pertandingan untuk menentukan siapa yang berhak untuk menjadi pemimpin." jelas Dirga.
Alby menghela nafas.Dia merasa muak saat mendengar kata kata tentang 'Penerus dan "bloodmoon'.
"Pertandingan apa maksudnya?" tanya Alby.
"Taekwondo." Jawab Dirga.
"Taekwondo? apa hubungannya dengan Taekwondo? aneh sekali." Alby tersenyum sinis.
"Aku tak peduli itu terdengar aneh atau tidak." Dirga mulai serius menatap Alby.
"Yang aku pedulikan hanya posisi itu." Dirga mencengkram dagu Alby.
Alby menoleh, menatap tajam kedua bola mata dirga. Meski di dalam hatinya, ia masih memiliki trauma namun Alby berusaha untuk tenang.
"Baik, sesuai keinginanmu. Apapun aku lakukan termasuk nyawaku sendri akan aku berikan asalkan papa senang, jwab Alby menyindir.
Dirga langsung tersenyum dan mengusap kepala Alby. Namun, kata kata Alby menyentuh hatinya. Tetapi, ego dan haus akan kekuasaan sudah menutup nurani Dirga sebagai seorang ayah yang seharusnya menjaga anak perempuannya bukan malah menjadikannya tumbal demi memuaskan keserakahnnya.
"Bagus sekali, kau harus jadi anak yang berbakti," sambung Dirga.
"Mulai hari ini, kakakmu akan mulai melatih mu. Kau harus bersungguh sungguh agar kita bisa mencapai keinginan kita." Kata Dirga Dewangga penuh dengan nada bangga.
"Kita?' ucap Alby monohok. "Lebih tepat, kau..kau..papa." kata Alby penuh penekanan, setelah bicara seperti itu, Alby berlalu dari hadapan iblis berwajah manusia menurut pandangan Alby.
"Serahkan semua padaku , pah..." kata Gerry.
"Hahahahaha...Aku tau aku bisa mengandalkan mu kali ini," ucap Dirga tertawa terbahak bahak.
Gerry pun terlihat senang jika Dirga senang. Dia sudah seperti Anjing yang begitu setia terhadap majikannya, meski ia sendiri punya niat terselubung terhadap Dirga.
Alby yang melihat kedua iblis itu tertawa dari atas lantai dua rumahnya, hanya diam dan menunggu waktu yang tepat untuk mengakhiri semuanya.
Dia bertekad dalam hati jika kali ini dia akan benar benar menghancurkan impian Dirga Dewangga.