
Sementara di sekolah, Raymond dan Farel yang mengetahui kalau hari ini akan di adakan pertandingan. Mereka berdua berdiri di gerbang sekolah kebingungan antara bolos atau pergi mengikuti jalannya pertandingannya. Pasalnya, mereka mengetahui rencana Alby terhadap Axelle, tapi mereka juga bingung bagaimana caranya bisa masuk ke pertandingan itu.
"Ray, biar bagaimanapun Axelle tetap sahabat kita. Alby juga, aku tidak mau karena sikap diam kita malah bikin semuanyasemakin kacau." kata Farel.
"Kau benar, meski aku masih kesal dengan sikap Axelle. Aku pikir apa yang kau katakan semuanya benar." Raymond membenarkan.
"Kita yang salah, ga sepantsnya kita meninggalkan Axelle di saat dia butuh dukungan." Sambung Raymond.
"Ayo, kita ke pertandingan apapun caranya kita harus bisa." Ajak Farel.
Setelah keduanya sepakat, dan menyadari kesalahan masing masing. Raymond juga Farel memahami arti sahabat, tidak meninggalkan satu sama lain dalam situasi apapun.
Raymond dan Farel tidak jadi masuk ke sekolah, mereka kembali naik ke atas motor berboncengan dan Raymond melajukan motornya meninggalkan sekolah menuju pertandingan.
Disaat bersamaan, di pertandingan.
Alby lebih dulu naik ke atas ring, melawan satu persatu peserta yang sudah di tunjuk oleh ketua. Alby menunjukkan kebolehannya bukan kepada ayahnya, tetapi pada Axelle yang kemarin sempat meragukan kemampuannya.
Dirga Dewangga bertepuk tangan paling kenceng dan tersenyum bangga, ia semakin optimis dapat merebut kekuasaan menjadi orang nomer satu di perusahaan Bloodmoon.
Alby tersenyum ke arah Axelle yang memperhatikan setiap gerakannya. Axelle membalas senyuman Alby dengan manis. Saat pemandu acara mengumumkan Alby pemenangnya dan lawan selanjutnya adalah Axelle. Semua orang menoleh ke arah Axelle yang terlihat ragu untuk melawan Alby di atas ring.
Evamenganggukkan kepalanya, sebagai bentuk dukungan kepada Axelle untuk tidak melawan Alby, karena ia tahu kalau putranya tidak menginginkan posisi ketua.
Axelle naik ke as ring dan berhadapan dengan Alby dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Sementara di saat bersamaan, Raymond dan Farel berhasil masuk ke dalam ruangan dan berdiri di barisan paling belakang karena tidak ada kursi yang kosong.
Raymond dan Farel berjalan mendekati ring, namun di halangi oleh para penjaga. Raymond dan Farel memohon kepada para penjaga itu untuk di izinkan mendekati ring. Namun penjaga itu tetap melarang karena mereka berdua masih menggunakan seragam, sampai akhirnya Eva melihat mereka berdua dan berbicara kepada para penjaga untuk mengizinkan raymond dan Farel.
Eva mengajak mereka untuk duduk di kursi, namun Raymond dan Farel menolaknya, mereka memilih untuk berada di tepi ring dan ingin berbicara dengan Axel. Tetapi sayang, pertandingan akan segera di mulai dan mereka tidak di izinkan berbicara dengan Axelle.
Raymond dan Farel berdiri di tepi ring memperhatikan Axelle dan Alby, sementara di ata ring, berbeda dengan yang mereka lihat.
"Kau harus melawanku," ucap Alby pelan sambil berjalan mengelilingi Axelle.
"Jangan harap, pukul saja, aku tidak akan melawanmu," jawab Axelle yang hanya Alby yang mendengar.
"Aku harus kalah, apapun akan aku lakukan. Terserah kau mau menilaiku seperti apa..." batin Alby, lalu mengepalkan tangannya dan memasang kuda kuda.
"Kau tahu, kalau kau tak mengalahkanku sekarang. Itu artinya, kau membiarkan aku hidup dan membunuh marsha untuk membalaskan rasa sakitku karena telah merebut kau dariku." Ungkap Alby.
"Kau bercanda bukan?" tanya Alby mulai bergerak dan memasang kuda kuda dan menatap waspada ke arah Alby.
Alby tersenyum sinis dan berkata.
"Kau sama bodohnya dengan ibumu,"
Axelle bereaksi mendengar Alby menghina ibunya.
"Jangan hina ibuku!" sahut Alby dengan nada tinggi.
Raymond dan Alby yang memperhatikan, mulai mengerti ada yang tidak beres saat Axelle mulai menyerang Alby, dan berali kali membuat ALby terjatuh.
Raymond dan Farel bisa melihat dengan jelas kalau Alby sama sekali tidak melawan dan hanya membiarkan Axelle berkali kali memukulnya.
"Kau bodoh, ibumu bodoh!" seru Alby hingga terdengar oleh yang lain.
Axelle semakin marah saat Alby terus mengatakan kalau ibunya Axelle bodoh. Axelle berusaha untuk menjatuhkan Alby hanya dengan satu gerakan. Namun, hal itu terbaca oleh Raymond.
"Axelle, hentikan! apapun yang ALby katakan itu hanya untuk memancingmu!" teriak Raymond berkali kali hingga menyadarkan Axelle kalau Alby sama sekali tidak melawannya.
Axelle dia saat Alby mulai menyerangnya dan membiarkan Alby menjatuhkannya dan berpura pura tidak bisa bangun lagi.
Alby berdiri menatap wajah Axelle yang masih telentang di lantai ring dan tersenyum pada Alby.
"AKu kalah.."
Alby langsung balik badan, lalu mennggalkan ring saat pemandu acara mengatakan kalau Alby pemenangnya.
Alby melirik tajam pada Raymond dan Farel dengan tatapan mrah karena sudah mengacaukan rencananya.