AXELLE

AXELLE
Bab 63



Sepulang dari kafe, Axelle langsung pergi ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dan coba menghubungi marsha melalui pesan singkat. Respon dari marsha sangat cepat, dan membalas pesan singkat Axelle seperti biasa.


Axelle terdiam dan sedikit sedikit coba bertanya pada Marsha, kemana saja dia hari ini. Namun jawaban Marsha selalu sama dari awal kenal sampai sekarang. Jawaban Marsha selalu ada di rumah dan tidak pernah kemana mana.


Axelle mulai kesal karena setiap jawaban Marsha tidak memuaskannya. Axelle memilih menyudahi chat singkat dengan Marsha dan meletakkan ponselnya di atas kasur.


"Apa yang harus aku lakukan supaya marsha mengakui, rasanya aku sudah kehabisan akal." Gumam Axelle.


"Aku seperti orang bodoh di hadapan Marsha..."


Tok


Tok


Tok


Suara pintu di ketuk dari luar, terdengar suara Eva memanggil namanya.


"Axelle, buka pintunya!"


Axelle bangun dengan malas, lalu turun dari atas ranjang.


"Ada apa lagi.." ucap Axelle pelan, mendekati pintu dan membukanya lebar lebar.


"Kau tidak apa apa?" tanya Eva.


"Aku baik baik saja, mom." jawab Axelle tak bersemangat kembali ke tempat tidur nya.


Eva memperhatikan anaknya yang sepertinya sedang banyak pikiran. Eva kemudian menutup pintu kamar dan menghampiri Axelle duduk di sampingnya.


"Boleh Momy tanya sesuatu?" tanya Eva dengan pelan agar Axelle merasa nyaman bicara dengannya.


"Tanya apa, Mom?" tanya Axelle.


"Apa kau akhir akhir ini sedang banyak pikiran, sayang?" Eva menggenggam tangan Axelle dan menatap lembut kedua bola mata Axelle.


"Nilai sekolah mu turun dan kau sepertinya tidak bersemangat melakukan apapun sekarang. Apa karena pertandingan itu?" tanya Eva.


"Bukan, Mom. Bukan karena itu." kelit Axelle.


"Lalu?karena apa? Kau tidak mau cerita pada Momy mu ini?" Eva menatap Axelle dengan lembut.


Axelle terdiam sejenak. Dia berpikir apa harus menceritakan tentang kegundahan hatinya mengenai Marsha atau tidak.


Tapi mungkin dengan bercerita pada Ibu nya akan mengurangi sedikit beban pikirannya tentang Marsha.


"Marsha? pacarmu? ada apa dengan nya?" tanya Eva yang serius memperhatikan anaknya.


"Aku tidak mengerti dengan sikapnya sekarang. Rasanya terlalu banyak yang dia sembunyikan dari ku, Mom.' kata Axelle.


"Sembunyikan apa?" tanya Eva, kedua alisnya bertaut menunggu jawaban Axelle selanjutnya.


"Itulah yang aku tak mengerti. Setiap kali aku tanya, jawabannya selalu berbelit belit dan tak masuk akal." Gerutu Axelle.


"Lama lama membuatku kesal dan frustasi, mom." Sambungnya lagi dengan raut wajah cemberut.


Eva menundukkan kepala dan tersenyum tanpa sepengetahuan Axelle, sebenarnya ia sudah tahu apa yang sedang di alami putranya. Namun ia tidak mau ikut campur sebelum Axelle yang mengizinkan.


"Aku memintanya untuk bertemu dengan keluarganya, tapi dia selalu menolak ku. Selalu jawaban yang sama karena dia takut kakak nya marah jika aku bertemu dengan nya." jelas Axelle.


"Lalu selama ini aku di anggap apa, Mom?" bicara Axelle mulai meninggi karena merasa kesal jika mengingat sikap Marsha yang tak pasti terhadapnya.


"Apa kau seserius itu terhadap Marsha?" tanya Eva.


"Apa aku terlihat sedang bercanda, mom?" Axelle balik bertanya.


Eva tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tapi mengingat kau maih remaja dan masa depanmu panjang. Bukan berarti mom melarangmu untuk serius dengan hubunganmu. Sebaiknya kau cari tahu sendiri tentang Marsha. Jangan sapai kau salah paham dan akhirnya menyesal di kemudian hari." Jelas Eva panjang lebar.


"Kau jangan dulu berpikiran yang tidak tidak." sambung Eva.


"Bagaimana aku tidak berpikiran jelek, mom. Dia saja sikapnya seperti itu." potong Axelle.


"Kalau begitu, kau cari tau saja sendiri kenapa dia bersikap seperti itu dan apa yang dia sembunyikan." Usul Eva membuat Axelle terdiam.


Axelle merasa apa yang di katakan ibunya benar. Jika memang Marsha tak bisa mengatakan jawaban apapun, maka Axelle sendiri lah yang harus mencari tau kebanarannya.


Saat mereka tengah berbincang, Toni mengetuk pintu kamar lalu menghampiri mereka berdua dan memberikan kabar baru tentang pertandingan.


"Ketua, mempercepat pertandingan yang akan di gelar tiga hari lagi."


Axelle dan Eva saling pandang sesaat, lalu keduanya menatap penuh tanda tanya ke arah toni.


"Pertandingan ini tidak harus di lakukan karena tidak ada hubungannya dengan pemilihan ketua di perusahaan. Aku merasa ada yang aneh dengan peraturan yang baru, seolah olah ia sudah tahu siapa yang akan menjadi pemenangnya." Ujar Eva.


"Benar sekali mom.." bela Axelle, membenarkan ucapan ibunya.


"Aku sendiri tidak mengerti, ketua pastoi sudah tau kalau aku tidak menginginkan kekuasaan itu, tapi kenapa ia terlalu memaksakan diri." Pungkas Toni.