
Sementara di lain tempat, Farel dan Raymond sedang berada di depan sebuah rumah mewah, pintu gerbangnya terbuka lebar
"Sial!" rutuk farel seraya menendang ban motor miliiknya.
"Kita dorong sampai bengkel gimana?" usul Raymond.
"Apa kau sudah gila, bengkel masihh jauh," protes Farel lalu berdiri di samping Raymond, mereka berdua menatap ban motor milik Farel.
Tiba ttiba ponsel milik Raymoond berbunyi.
"Siapa?" tanya Farel sambl melirik ponsel di tangan Raymond.
"Axelle..." jawab Raymond seraya menggeser icon berwarna hijau lalu berbicara dengan Axelle.
Tak lama kemudian Raymond selesai bicara dengan Axelle, lalu ia memasukkan ponselnya ke saku celananya.
"Ada apa?" tanya Farel.
"Axelle mau menyusul kesini." Kata Raymond.
Selang beberapa menit kemudian, Axelle telah sampai. Ia bergegas turun dari atas motor, dan melepas helm nya lalu di letakkan diatas jok motor. Sesaat ia melihat ke arah rumahh mewah itu, laluu berjalann menghampiri kedua sahabatnya.
"Kalian ada masalah apa sih?" tanya Axelle.
"Maksudmu?" tanya Farel kedua alisnya bertaut menatap wajah Axelle.
"Kalian pergi meninggalkn sekolah, gak bilang bilang dulu," kata Axelle kesal.
"Apa sih, ga jelas." Farel tidak mengerti kenapa tiba tiba Axelle marah.
Axelle mendorong bahu Farel dengan kasar.
"Kalian ada masalah apa sama aku? kenapa kalian bersikap seperti ini?" Axelle kembali memprotes sahabatnya.
"Pikir sendirri," jawab Farel ketus.
Axelle yang sudah di buat kesal oleh Marsha, semakin kesal oleh sikap sahabatnya dan mennuduh mereka sudah tidak setia kawan lagi.
"Kalian mulai membelot'?" ucap Axelle.
Raymond yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara dan menengahi keduanya. Ia berdiri di samping Farel menatap tajam wajah Axelle.
"Kau tidak salah berucap?" tanya Ralymond tidak suka dengan tuduhan Axelle.
"Sadar ga sih? gara gara Marsha kau banyak berubah sekarang!" protes Farel lagi.
Axelle mendengus kesal mendengar pernyataan Farel. Tangannya di angkat hendak meninju wajah Farel. Namun Raymond menahan tangan Axelle dan menghempaskannnya.
"Tahan emosimu." Kata Raymond.
Axelle memalingkan wajahnya menatap ke arah rumah di depannya.
"Aku dan Farel, dari pagi berusaha mengajakmu bicara. Tapi apa, Kau sibuk mengejar Marsha. Salah, Kalau kami pergi tanpa memberitahumu?" jelas Raymond panjang lebar
Axelle melirik tajam ke arah Raymond, ia menyadari kesalahannya tadi pagi.
"Sorry..." kata Axelle.
"Kau tidak perlu minta maaf, kami paham. Lain kali, sebelum menuduh pikirlah terlebih dahulu." Pungkas Raymond.
Farel ikut merasa bersalah karena terbawa emosi. Ia mendekati Axelle dan merangkul bahunya di ikuti Raymond. Mereka berdua berdiri menghadap rumah mewah tersebut. Tatapan mereka berhenti di balkon kamar lantai dua.
Mereka melihat seorang gadis dari kejauhan melambaikan tangan ke arah mereka bertiga dan berteriak memanggil.
Namun detik berikutnya, gadis itu berlari ke arah pintu lalu menghilang.
Mereka terdiam sesaat mendengar gadis itu memanggil nama Axelle.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Farel kepada Axelle.
Axelle menggelengkan kepala pelan.
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya aku mengenal suara gadis itu" Kata Axelle.
Farel dan Raymon saling pandang.
"Bukankah suara gadis itu mirip Alby?" tanya Farel.
Raymond dan Axelle memandang ke arah Farel. Mereka baru menyadari, sepertinya apa yang di katakan Farel benar. Tetapi, detik berikutnya Raymond dan Axelle membantahnya.
Raymond memukul pundak Farel.
"Mana mungkin itu Alby, yang tadi itu seorang gadis. Memangnya Alby lagi cosplay ganti gender gitu?" celoteh Raymond.
Farel menggaruk kepalanya, sambil tersenyum.
"Aku jadi teringat sesuatu." Batin Farel.
Sementara gadis yang di lihat Farel, Raymond dan Axelle, tidak lain adalah Alana. Alana yang menangis dan memanggil Axelle dari balkon kamarnya.
"Kau kenapa menangis, dasar cengeng."
Alana mengusap air matanya dan menoleh ke arah Garry.
"Aku tidak apa apa."
Garry tidak percaya, ia melihat ke arah gerbang rumahnya. Nampak Axelle, dan dua sahabatnya masih berdiri di depan gerbang.
"Teman sekolahmu?" tanya Garry pada Alana.
"Kak!" Alana menarik tangan Gerry yang hendak melangkahkan kakinya keluar dari kamar Alana.
Gerry menghentikan langkahnya, menoleh seraya menyeringai.
"Bagaimana yah, kalau mereka tahu. Kalau kau ini seorang perempuan?"
Alana menggeleng cepat.
"Kak, aku mohon jangan katakan apapun." pinta Alana.
Gerry tersenyum puas menatap wajah Alana yang terlihat khawatir.
"Mungkin mereka akan menganggapmu penipu, bahkan membencimu."
Alana terdiam, menatap marah ke arah Gerry.
"Jangan lakukan itu!" bentak Alana.
Gerry tertawa terbahak bahak.
"Aku ga janji, Alana." Kata Gerry, lalu ia beranjak pergi meninggalkan kamar Alana.
Alana berlari ke arah balkon dan menatap ke arah pintu gerbang rumahnya. Namun, ketiga sahabatnya sudah tidak ada.
"Axelle..."