
Axelle yang baru saja sampai di pertigaan jalan. Tempt biasa, Axelle menurunkan Marsha karena hanya sampai pertigaan itu Axelle dapat izin.
"Apa tidak sebaiknya aku mengantarmu sampai kerumah?" tanya Axelle untuk pertama kalinya meminta izin kepada Marsha untuk mengantarkannya sampai depan rumah. Hal yang inin Axelle inginkan.
"Sampai rumah? jangan dulu. Aku takut kakakku tau kau mengantarkanku tiap hari." Marsha mencegahnya, karena ia takut Axelle tahu hal yang ia sembunyikan selama ini.
"Jadi, selama ini...kakakmu tidk merestui hubungan kita?" tanya Axelle.
Marsha terdiam sejenak mendapat pertanyaan tak terduga dari Axelle. Ia tidak menyangka jika pernyataanya justru menimbulkan pertanyaan baru dari Axelle.
"Bukan, bukan begitu.." jawab Marsha sedikit bingung harus memberikan alasan apa lagi.
"Lalu?" tanya Axelle semakin penasara dan menunggu jawaban Marsha selanjutnya.
"Lain kali aku ceritakan, sekarang aku buru buru. Takut kakakku sudah menunggu.' kilah marsha.
Axelle pun hanya bisa pasrah, ia tahu. Semakin memaksa jawaban dari marsha. Akan semakin banyak alasan yang tidak masuk akal. Apalagi akhir akhir ini, banyak pertanyaan di benak Axelle mengenai Marsha, namun Axelle memilih diam dan mencari tahu sendiri.
"Memang nya kapan kau akan siap?" tanya Axelle.
"Aku akan memberittahumu saat waktu nya tiba nanti." Marsha mencium pipi Axelle.
Sentuhan dan sikap Marsha seperti itu saja sudah membuat Axelle luluh dan tak mempertanyakan apapun lagi pada Marsha.
Marsha pun pergi setelah berpamitan dengan Axelle dan Axelle langsung memacu motornya untuk pulang kerumah. Saat akan berbelok, Axelle tiba tiba berpapasan dengan Rafka yang membawa motor nya menuju arah pertigaan jalan.
Axelle menghentikan motornya dan melihat ke arah mana Rafka pergi, dan ternyata dia pergi ke arah jaln pulang Marsha.
Axelle tau itu jalan umum dan siapapun bisa pergi ke arah sana. Namun entah kenapa rasanya ada yang mengganjal di hati nya setiap kali melihat Rafka.
Axelle merasa ada yang di sembunyikan Marsha tentang Rafka, atau memang itu hanya kebetulan saja mereka ada di jalan yang sama.
Axelle menyalakan motornya dan hendak mengikuti kemana Rafka pergi. Namun Axelle menghentikan nya saat dia menerima telpon dari Ayah nya.
"Dady?tumben dia menelpon." Gumam Rafka.
"Ya, Dad." Axelle mengangkat telpon nya.
" Kau ada dimana?cepatlah pulang, ada yang harus Dady bicarakan." kata Toni .
"Ah ya, aku sedang di perjalanan pulang." jawab Axelle.
Axelle menutup telpon dan sekali lagi melihat ke arah pertigaan jalan. Rafka sudah tak kelihatan lagi, Axelle bingung antara mengejar Rafka atau pulang ke rumahnya memenuhi panggilan Toni.
"Aku akan mencari tahu besok saja," gumam Axelle, lalu ia kembali melajukan motornya meninggalkan tempat itu.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja, Axelle sudah sampai di rumahnya dan langsung menemui kedua orang tuanya.
"Maaf ,Dad.Aku terlambat." kata Axelle.
"Duduklah,' ucap Toni.
"Mau Momy buatkan minuman dingin, sayang?" tanya Eva.
"Tunggu sebentar." Eva pun pergi ke dapur untuk membuat kan minuman dingin untuk Axelle.
"Ada apa, Dad. Tumben sekali menyuruh ku pulang cepat?" tanya Axelle .
"Sebenarnya Dady tidak ingin mengatakannya karena aku pikir kau tidak ingin tau." Toni memulai pembicaraan.
"Maksud Dady?" Axelle sama sekali tak mengerti .
"Tadi kakekmu sudah memanggil ku dan juga Paman mu bertemu."Jelas Toni.
Axelle memperhatikan dengan seksama.
"Dia mengatakan tentang kedudukan penerus yang selama ini di bicarakan."sambungnya.
"Dad. Aku kan sudah bilang, aku sama sekali tak tertarik dengan kedudukan itu." Axelle memotong pembicaraan Toni.
"Dady tau." Jawab Toni.
"Lantas?" Axelle terlihat tak menyukai pembicaraan nya dengan Toni.
"Ini peraturan baru yang di tetapkan kakekmu, mau tidak mau kau harus ikut pertandingan itu." Jelas tony.
"Pertandingan ? pertandingan apa maksudnya?" tanya Axelle.
"Taekwondo." Jawab Eva yang baru saja dari dapur membawa tiga gelas minuman dingin.
"Taekwondo? apa tidak salah?" Axelle tertawa.
"Apa hubungan nya posisi perusahaan dengan Taekwondo? membuatku tertawa saja." Axelle menyeruput minumannya.
"Dady tau kau akan berpikir seperti itu." Pungkas Toni.
"Aku juga tidak setuju kau ikut dalam pertadingan itu," sela Eva.
"Lakukan itu sebagai syarat, bukan keharusan." Sambung Toni.
"Alby pun sepertinya akan ikut." celetuk Eva.
"Uhuk,,uhuk,,uhukk." Axelle hampir tersedak saat mendengar Alby yang akan ikut prtandingan.
"Maksud Momy, Alana?" tanya Axelle.
Eva mngangguk.
"Tapi,,dia kan,,,"
"Dirga sudah gila, menjadikan putrinya sebagai boneka." Toni memotong perkataa Axelle.
Alby? mana mungkin.
Axelle terdiam dan terhanyut dalam pikirannya.