AXELLE

AXELLE
Bab 49



Bab 49


Ambulance tiba di rumah sakit dan Farrel lagsung di bawa ke ruang IGD. Langkah Raymond terhenti di depan ruang IGD karena Farrel akan segera di tangani dokter.


Raymond menunggu dengan gelisah di luar ruangan. Dia duduk sambil menudukkan kepala dengan menggenggam erat kedua tangan nya sendiri.


"Dasar sial!!!!"


BUKKK,,


Raymond memukul tembok di belakangnya. Dia merasa kesal dengan apa yang terjadi.


Axelle! semua gara-gara dia! Rutuk Raymond.


Karena tengaggelam dalam kekesalannya, Raymond tak menyadari jika Axelle berjalan mendekatinya.


" Ray." Panggil Axelle.


Raymond langsung berdiri saat melihat Axelle di depannya. Matanya sontak memerah karena menahan amarahnya.


" Untuk apa kau kamari?" tanya Raymond.


" Bagaimana keadaan Farel?" tanya Axelle.


BUKK...


Satu pukulan keras mendarat di pipi Axelle dan membutanya terhuyung.


" Kau pikir kau masih pantas menunjukan wajahmu pada kami?!!!!" Raymond mencengkram kerah baju Axelle.


"Lebih baik sekarang kau pergi sebelum aku kehabisan kesabaran ku." Ancam Raymond lalu mendorong Axelle .


Axelle melihat kalau Raymond sepertinya sedang dalam keadaan marah. Dia tau jika dia bersikeras bicara, maka tidak akan baik.


Axelle pun perlahan berjalan pergi meninggalkan Raymond yang berdiri membelakanginya. Sekilas dia melihat ke arah ruangan IGD yang masih tertutup .


Dalam hati Axelle berdoa semoga Farel baik-baik saja.


Saat berjalan keluar, wajah Axelle langsung berubah serius.


" Aku harus menemukan siapa orang yang ingin mencelakaiku. Aku harus membalas kesakitan Farrel!" batin Axelle.


Sementara di kediaman Dirga Dewangga.


Alby berdiri di depan meja kerja Dirga yang sedang duduk membelakanginya. Sementara Gerry duduk di sofa sambil melihat ke arah Alby.


"Apa lagi yang kau lakukan sekarang?" tanya Dirga tanpa membalikan badan.


"Seperti biasa ,Yah. Dia selalu membuat masalah dan merepotkan semua orang." sahut Gerry .


Dirga Dewangga membalikan badan dan berdiri. Dia berjalan perlahan mendekati Alby yang masih berusaha menguatkan diri .


" Sampai kapan kau akan menyadari kesalahanmu?" tanya Dirga saambil mencengkram rambut Alby hingga Alby menahan sakit.


"Kau tau posisi kitaa saat ini gara-gara dirimu?!!!" Dirga berteriak lalu medorong Alby hingga Alby tersungkur ke lantai.


Gerry yang sudah biasa melihat keadaan itu hanya tersenyum puas. Sepertinya dia menikmati setiap penderitaan dan penyiksaan yang di alami oleh Alby.


" Kau dengan santainya berkeliaran dan membuka dirimu sebagai perempuan. " Dirga terlihat sangat marah.


Dirga kembali menarik lengan Alby agar dan memegang nya dengan kencang .


"Apa yang harus aku lakukan padamu sekarang?" tanya Dirga dengan tatapan setajam pisau ke arah Alby.


Alby sama sekali tak melihat ke arah Ayahnya sedikitpun.Dia terus menundukan kepalaya yang membuat Ayahnya semakin keesal.


Tiba -tiab Gerry berdiri dan langsung menjabak rambut Alby dengan kencang dan membuat wajah Alby terangkat hingga bisa melihat Dirga.


" Tatap wajah Papa jika dia sedang bicara!" Ucap Gerry.


Tapi kali ini Gerry terkejut saat melihat wajah Alby. Tak ada sedikitpun airmata yang mengalir di wajahnya ataupun raut ketakutan.


Raut waajah Alby tanpa ekspresi apapun . Dan matanya mulai mmemerah tapi bukn karena bekas airmata.


" Sekarang apa yang akan kau lakukan untuk mempertanggung jawabkan semuanya?" tatap Dirga.


Alby tetap diam. Dirga dan Gerry mulai kesal dengan diam nya Alby.


Gerry sudah sangat kesal dan berniat menyiksa Alby dengan memukulnya. Tapi Gery tiba-tiba di kejutkan oleh perkataan Alby.


"Aku kan melakukan apapun yang Papah inginkan." Ucap Alby dengan tatapan tajam ke arah Dirga.


Sontak Dirga dan Gerry terkejut dengan ucapan Alby.


Alby yang sedari tadi tampak lemah dan tidakk berdaya langsung berubah tegas dan tak takut sedikitpun.


Senyuman bangga terlihat di bibir Dirga dewangga.


" Akhirnya kau mengerti apa tugas da tnggung jawabmu sekarang." Dirga memeluk Alby.


Untuk pertama kalinya Alby merasakan pelukan Papahnya, namun kali ini tak ada perasaan apapun yang dia rasakan. Tatapan ALby terlihat masih penuh dengan kebencian.