AXELLE

AXELLE
Bab 24



Hari ini Alby pulang sekolah hatinya sangat senang, ia mengingat kejadian di taman. Secara tidak langsung Alby merubah sudut pandangnya dan merubah caranya untuk lebih dekat dengan Axelle.


tap


tap


tap


Alby melangkah menaiki anak tangga dengan riang gembira.


"ALANA!!!"


Alby berhenti melangkah, lalu ia membalikkan badannya menatap ke bawah. Nampak Dirga Dewangga dan Gerry berdiri menatap penuh kebencian.


"Ya Tuhan...jangan lagi," batin Alby.


"Turun!" perintah Dirga Dewangga.


Alby akhirnya kembali menuruni anak tangga dan berdiri tepat di hadapan Dirga Dewangga.


"Plakk!'


Satu tamparan keras mendarat di pipi Alby, hingga tersungkur ke lantai dan duduk meringis kesakitan memegang pipinya.


"Bangun!" Gerry menarik paksa tangan Alby supaya berdiri.


"Sudah berapa kali aku katakan, jangan pernah kau jatuh cinta dengan siapapun!" bentak Dirga Dewangga.


''Apa maksud papa?" tanya Alby.


Gerry maju selangkah mendekati Alby dan menggenggam erat pergelangan tangan Alby.


"Kau pikir kami tidak tau?" Gerry tersenyum menyeringai.


"Ingat Alana, kau anak laki laki. Bukan anak perempuan." Tambah Dirga.


Alby memberanikan diri untuk membela diri, meski ia tahu apa resikonya nanti.


"Pa, sampai kapan papa akan terus seperti ini. Kenyataannya aku bukan laki laki, Pa!"


"Berani kau melawanku!"


Plakk


Dirga Dewangga semakin di buat marah, ia meminta Gerry untuk menyiksa Alby sampai tidak ada keberanian lagi untuk Alby melawan.


"Beri pelajara anak sialan ini," perintah Dirga.


Gerry dengan senang hati mengikuti perintah Dirga Dewangga, dengan paksa ia menyeret tubuh Alana menuju ruangan lain untuk di siksa. Baik Gerry dan Dirga, sama sekali tidak ada rasa kasihan mendengar Alby menjerit, memohon ampunan hingga suaranya berganti dengan teriakan kessakita dari ruangan lain. Menit berikutnya, Dirga tidak lagi mendengar suara jeritan Alby di ruangan itu.


Dirga beranjak pergi meninggalkan rumah setelah melihat Gerry keluar dari ruangan setelah puas menyiksa Alby.


Sementara di dalam ruagan, Alby meringkuk di lantai. Darah segar mengalir di hidung dan sudut bibirnya. Wajahnya lebam, dan di sekujur tubuhnya. Pintu rungan terbuka, nampak mbok Minah masuk ke dalam ruangan menghampiri Alby sambil membawa obat dan air es di dalam wadah.


"Non..."


Mbok Minah meletakkkan wadah dan obat di atas lantai, laluu mencoba membalikan tubuh Alby. Mbok Minah setengah kaget melihat darah dan luka lebam di wajah Alby.


"Mbok..." ucap Alby lirih namun matanya terpejam.


"Apa salahku, mbok..."


Mbok Minah hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Alby, kemudian ia membantu Alby supaya duduk.


"Tahan ya non, mungkin ini sedikit perih dan sakit." Mbok Minah mulai membersihkan darah di sudut bibir Alby dan hidungnya.


"Luka ini ga bikin aku sakit mbok, yang sakit itu hatiku mbok..." ucap Alby tersenyum.


Mbok Minah terdiam sejenak, menatap senyuman yang tersungging di bibir Alby. Hatinya ikut perih, selama ini mbok Minah yang merawat Alby sejak bayi karena papa nya tidak menerima kehadiran Alby.


"Papa ga menginginkan aku, buat apa aku hidup mbok."


"Non, jangan bicara seperti itu." kata Mbok Minah


"Kenyataannya seperti itu, mbok.." ucap Alby seraya mmeneppis tangan mbok Minah lalu berdiri dan berjalan tertatih keluar dari ruangan. Mbok Minah berdiri, lalu mengejar Alby.


"Non!" panggil mbok, tapi Alby terus berlari keluar rumah.


"Non!"


Mbok Minah terus mengejar Alby hingga teras rumah, namun Mbok Minah tidak menemukan Alby.


"Non!"


Mbok Minah terus memanggil Alby, karena khawatir ia kembali masuk ke dalam rumah dan menghubungi Gerry supaya mencari Alby.


Sementara Alby terus berjalan tertatih menuju sebuah jembatan tak jauh dari jalan raya. Seragam yang ia kenakan nampak kotor terkena tetesan darah, rambut palsunya terjatuh di rumahnya hingga rambutnya yang sebahu tergerai.


Alby terus berjalan hingga ia sampai di jembatan yang di tujunya. Ia berdiri di tepi jembatan menatap ke bawah.


"Buat apa aku hidup jika tidak di inginkan..." batin Alby.


Kaki kanannya mulai diangkat ke pembatas jembatan, di susul kaki kiri. Alby menguatkan diri untuk mengakhiri hidupnya. Alby memejamkan matanya dan mulai mengitung dari angka satu sampai tiga.


"Grepp!"


Alby membuka mata, sebuah tangan melingkar di pinggangnya dan tiba tiba tubuhnya tertarik ke belakang.


"Lepaskan aku!!" teriak Alby mencoba melepaskan pelukan seseorang dari belakang.


Alby menoleh ke belakang, nampak Haidar tersenyum tipis menatap wajah Alby.


"Haidar?" gumam Alby langsung membuang mukanya dan balik badan membelakangi Haidar.


"kau tidak perlu bunuh diri dengan cara seperti itu." kata Haidar dengan santai.


"Bukan urusanmu!" bentak Alby.


"Memang bukan urusanku, aku hanya memberitahumu. Percuma kau mau bunuh diri terjun ke sungai. Karena sungai itu ga dalam dan jembatannya tidak terlalu tinggi, jadi percuma saja." Jelas Haidar panjang lebar.


Alby tidak percaya dengan ucapan Haidar, lalu ia berjalan mendekati jembatan lagi. Dan ternyata benar, setelah di teliti jembatan itu tidak terlalu tinggi. Alby menoleh ke belakang, nampak Haidar tersenyum lalu berlari meninggalkan Alby sendirian di jembatan.


"Semoga Haidar tidak mengenaliku..."gumam Alby.