
Di sekolah.
Farel dan Raymond datang lebih awal, mereka berdua langsung menuju kantin tanpa lebih dulu menunggu Axelle dan Alby seperti biasanya. Mereka berubah sikap bukan tanpa alasan, semenjak Axelle menjalin hubungan dengan Marsha. Axelle sibuk dengan urusannya sendiri bahkan dari hari ke hari perubahan Axelle semakin terlihat dan tidak memiliki banyak waktu ntuk menikmati waktu bersama lagi.
Kerenggangan di antara mereka menjadi perbincangan hangat di antara semua siswa dan siswi di sekolah itu. Farel dan Raymond menyadari itu, di tambah Alby, di mata mereka sekarang ini terlihat aneh dari sikap dan semua uccapannya.
Saat mereka tengah asik berbincang, tiba tiba Haidar duduk di hadapan mereka tanpa di minta.
Farel dan Raymond menatap ke arah Haidar yang tersenyum dan Duduk santai sambil mengambil air mineral di botol kecil milik Raymond. Farel dan Raymond memperhatikan Haidar membuka tutup botol lalu meminumnya sampai habis setengah, lalu kembali menutup botol itu dan di letakkan tepat di hadapan Raymond.
"Bagaimana kalau kalian ikut gabung bersamaku?" tawar Haidar yang sudah mengetahui kerenggangan diantara mereka.
Farel dan Raymond hanya diam menunggu ucapan Haidar selanjutnya.
"Axelle sudah tidak perduli dengan genk nya juga kalian berdua"
BUK
Axelle dari arah belakang memegang bahu Haidar.
"Mimpi, mereka tidak akan ikut denganmu"
Haidar menoleh ke arah Axelle, lalu berdiri dan hanya tersenyum menanggapi pernyataan Axelle dan berlalu begitu saja dari hadapan Axelle.
Axelle megalihkan pandangannya pada Farel dan Raymond yang tengah menatap ke arahnya.
"Kalian tidak mungkin ikut genk nya Haidar bukan?" tanya Axelle.
Farel dan Raymond tidak menjawab pertanyaan Axelle, mereka bedua beranja pergi meninggalkan Axelle.
"Kalian mau kemana?!" seru Axelle, namun kedua sahabatnya tidak menggubrisnya, mereka berdua meninggalkan kantin.
Axelle duduk di kursi bekas Raymond duduk, dia bngung dengan sikap kedua sahabatnya yang berubah dingin dan tak sehangat dulu. Ia berrfikir kalau kedua sahabatnya mulai terpengaruh oleh Haidar.
"Ini tidak boleh terjadi, awas saja kau."Umpat Axelle dalam hati.
*****
Waktu terus berlalu, bel berbunyi tanda pelajaran telah usai. Farel dan Raymond memutuskan untuk bicara dengan Axelle mengenai hubungan persahabatan mereka dan tentang Alby yang sering tidak masuk sekolah.
Namun saat mereka berdua hendak menghampiri Axelle, tiba tiba Axelle berlari keluar kelas tanpa menoleh ke arah mereka berdua. Farel dan Raymond menduga kalau Axelle marah pada mereka.
"Sebaiknya kita susul Axelle sebelum masalah ini semakin membuat di antara kita sala paham." Usul Raymnd dan di setujui oleh Farel.
Mereka berdua keluar dari kelas dan menyusul Axelle. Sesampainya di parkiran sekolah nampak Axelle sedang kesal sendiri. Farel dan Raymon mendekati Axelle
"Xell kita perlu bicara," kata Raymond.
"Tidak sekarang!" sahut Axelle setengah membentak membuat Farel dan Raymond terdiam.
"Tapi ini pen-?" Farel tidak melanjutkan ucapannya karena mendapat tatapan horor Axelle.
Raymond mencoba untuk mengalah dan mengajak Farel uuntuk pergi saja, namun Farel tidak terima begitu saja.
"Xell, ada hal penting yang harus kita bcarakan mengenai persahabatan kita juga Alby!" seru Farel.
"Ada yang lebih penting,, ini tentang Marsha!" Balas Axelle.
Farel mendengus kesal, tangannya mengepal menaha emosi. Beruntung Raymoond lebih peka dengan situasinya, ia menyeret Farel dengan paksa.
Farell menolak ketika Raymond menyeretnya dengan paksa.
"Kejar terus, urus saja si Marsha. Sampai suatu harinanti kau akan menyesal telah kehilangan kami bertiga!" teriak Farel dengan kesal.
Axelle tidak memperdullikan ucappan Farel dan anak anak lainnya yang memperhatikan keributan diaantara mereka. Difikiran Axelle saat inii hanyalah Marsha. Ia tidak mengerti mengapa Marsha memilih pulang di antarkan Haidar tanpa izin darinya terlebih dahulu.
Axelle berrgegasmeninggallkann sekolah menggunakan motornya dan memutuskan untuk menemui Marsha di rumahnya dan minta penjelasan. Ditengah perjalanan saat ia melintas di depan sebuah kafe ia melihat ayahnya sedang berdiri di halaman kafe bersama seorang wanita dan yang pasti bukan bersama ibunya. Axelle memmilih untuk tidak mempedulikkannya dan terus melajukan motornya menuju rumah Marsha.
Sesampainya di rumah Marsha, Axelle harus menelan kekecewaan lagi. Rupanya Marsha belum sampai di rumah, dan nomer ponsel Masha pun tidak aktif. Axelle menunggu untuk beberapa saat, namun sampai satu jam lamanya, Marsha belum kembali. Akhirnya Axelle memutusan untuk pulang..
Di kediaman Toni Edgarsyah.
Axelle baru saja sampai di rumahnya dengan perasaan kesal, pikirannya penuh dengan praduga mengenai Marsha.
"Sayang, jam segini kamu baru pulang. Dari mana dulu?" tanya Eva.
Axelle menghampiri Eva, lalu mencium pipi Eva sekilas.
"Aku ada urusan sebentar mom, maaf sudah membuatmu khawtir." Kata Axelle, lalu engalihkan pandangannya pada Toni yang duduk di sofa memperhatikannya.
"Dad, sudah pulang?" tanya Axelle.
"Dad kurang enak badan makanya pulang cepat." Jelas Eva.
"Loh, bukannya tadi Dad ada di kafe?" tanya Axelle.
Eva terkejut mendengar perkataan Axelle.
"Mana mungkin, sayang. Dady mu dri tadi sudah pulang." Kata Eva.
"Dan untuk apa Dady mu pergi ke cafe. Iya kan, sayang?" tanya Eva seraya melihat ke arah Toni yang sedang beristrahat di sofa.
DEEG..
Seketika wajah Toni menjadi pucat dan dia terlihat gugup saat Eva menanyakan pertanyaan itu.
"Ah,i,,iya." Jawabnya singkat lalu mengalihkan pandangannya dari Eva dan Axelle.
"Mungkin aku salah lihat, Mom. Kalau begitu aku ke kamar dulu." Axelle sekali lagi mencium pipi Eva lalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
Axelle melirik ke arah Toni saat dia melewatinya. Dia meihat sikap Toni yang sedkit berbeda.
Eva duduk di samping Toni saat Axelle sudah masuk ke kamarnya.
"Sayang, kau tidak pergi kemanapun kan tadi?" tanya Eva yang mulai sedikit mencurigai Toni karena dia juga melihat sekilas sikap aneh Toni tadi.
"Memangnya menurutmu aku kemana?tentu saja aku langsung pulang." jawab Toni tanpa melihat ke arah Eva.
Eva terdiam sejenak sambil memandang wajah suaminya.
"Yang di katakan Axelle tadi..."perkataan Eva terhenti karena Toni bngun dari sofa dan memotong perkataannya.
"Sudahlah jangan pikirkan perkataan Axelle. Aku lelah dan mau istirahat saja." Toni langsung pergi meninggalkan Eva yang masih duduk terdiam .
Toni langsung masuk kamar begitu saja tanpa mengajak Eva ikut masuk dan tanpa mengatakan apapun lagi.
"Ada apa dengan mu..." Gumam Eva dengan wajah sedih.