AXELLE

AXELLE
Bab 29



Semalaman Axelle tidak pulang ke rumah, ia beristirahat di markas bersama teman temannya. Pagi pagi buta Axelle bergegas pulang ke rumahnya sebelum matahari terbit.


Axelle memacu motornya dengan kecepatan tinggi di jalanan yang sepi yang biasa dia lewati. Karena fajar belum terbit dan jalanan masih sangat sepi di sertai kabut yang masih menyelimuti, Axelle tidak terlalu melihat dengan jelas jalan di depannya.


Sementara itu di persimpangan jalan, sebuah mobil sedan hitam menunggu kedatangan Axelle yang akan melewati jalan tersebut.


BRMMMM...


Suara motor Axelle terdengar semakin dekat, lalu setelah memastikan bahwa itu adalah suara motor Axelle, mobil hitam itu pun menyalakan mesin mobil dan melaju ke arah Axelle dengan kecepatan tinggi.


Karena pandangan Axelle yang kurang jelas, dia tidak menyadari jika ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya. Axelle menyadari ada mobil yang melaju tepat ke arah nya karena melihat kedua lampu mobil tersebut yang menyilaukan matanya.


Axelle menutup mata dengan lengannya untuk melihat mobil di depannya, namun dia menjadi sangat terkejut karena mobil terebut sudah di depan matanya.


Dengan reflek, Axelle mendadak menghentikan motornya namun sudah terlambat karena motor Axelle tidak dapat menghindari dari tabrakan.


Sekuat tenaga yang Ia bisa, Axell membanting setir untuk mennghindari tabrakan langsung .


SREEEEETTTT....


Motor Axelle tergelincir bersama dengan tubuhnya yang terbawa motor. Disaat yang sama lewat sebuah mobil besar dari arah berlawanan, motor Axelle Terbentur mobil dan masuk ke bawah mobil hingga terlindas.


BRUUKKK..


GUBRAKKK...


Tubuh Axelle yang terpental hingga ke atas kap mobil pun terjatuh hingga terguling ke pinggir jalan.


Mobil besar bersama dengan sedan hitam pun pergi begitu saja setelah melihat Axelle tergeletak tak berdaya dengan darah yang keluar dari kepalanya.


Axelle berusaha meraih kesadaranya, ia mengangkat tangan untuk meminta tolong. Lalu antara sadar dan tidak, Axelle melihat seseorang mendekatnya dan meraih tangannya.


Axelle sepertinya mengenal sosok itu, namun saat dia berusaha untuk melihat dengan jelas, penglihatannya semakin kabur dan gelap . Suasana jalan raya yang awalnya lengang tak lama kemudian terjadi kemacetan, suara sirine mobil Polisi dan ambulance terdengar semakin dekat.


Matahari terbit dar timur semakin tinggi, sementara itu di sekolah. Raymond, Farel dan Alby sudah berkumpul di kantin menunggu kedatangan Axelle. Tba tiba, ponsel milik mereka bertiga berbunyi bersamaan.


Mereka secara bersamaan memeriksa ponselnya dan mendapatkan satu pesan singkat dari nomer yang tak dikenal.


"Kecelakaan?!!" ucap mereka bersamaan.


Alby matanya melotot, menatap kedua temannya.


"Axelle kecelakaan tadi pagi, sepulang dari markas. Itu tidak mungkin, pagi pagi buta dia mau kemana?" Alby masih tidak percaya dengan pesan singkat yang di kirim nomer tak di kenal.


"Ah iya, semalam aku di kasih tau Edo, kalau Axelle tidur di markas setelah balapan liar dengan Haidar." Jelas Raymond.


"Benar aku semalam hendak menemani Axelle, tapi dia melarangku karena balapan liar itu menyangkut Marsha." imbuh Farel.


Raut wajah Alby berubah masam saat mendengar keterangan dari Farel. Ia merasa sejak Alby mengenal Marsha, semuanya berubah termasuk persahabatan mereka.


"Kita kerumah sakit sekarang, bagaimana?" usul Raymond.


Farel dan Alby menyetujui usul Raymond untuk memastikan kabar berita dari pesan singkat tersebut. Mereka bolos sekolah dan bergegas menuju ke rumah sakit di mana Axele berada.


****


Eva berrdiri di depan ruangan menatap ke dalam ruangan melalui kaca jendela, memperhatikan Axelle yang terbaring di ranjang rumah sakit tak sadarkan diri.


Terdengar suara langkah dari lorong rumah sakit, Eva menoleh ke arah lorong dan berharap suaminya yang datang. Namun, yang datang bukanlah Toni, melainkan ketiga sahabat putranya.


"Tante, benarkah Axelle?" tanya Alby langsung.


Eva mengangguk pelan sambil mengusap air matanya menggunakan tisu.


"Lalu, bagaimana keadaan Axelle," tanya Raymond.


Eva tidak langsung menjawab, ia terus mengusap air matanya yang tidak mau berhenti mengalir. Alby yang berada di samping Eva, berusaha untuk menenangkan. Raymond dan Farel melihat ke arah dalam ruangan melalui kaca jendela kamar.


Raymond teringat pada seseorang yang mengirim pesan singkat yang memberitahu kalau Axelle mengalami kecelakaan. Kemudian Raymond memberanikan diri untuk bertanya pada Eva, namun Eva tidak tahu menahu soal pesan singkat yang di tanyakan Raymond.


Saat mereka tengah berbicara serius, Toni terlihat berjalan cepat di lorong rumah sakit menghampiri Eva dan langsung menanyakan kabar mengenai kecelakaann Axelle. Namun, Eva bukannya menjelaskan keadaan putranya, namun hal pertama yang Eva tanyakan adalah kemana perginya Toni semalam sampai tidak pulang ke rumah. Hingga Axelle lepas dari pengawasan, dan terjadi kecelakaan.


Toni terdiam sejenak, ia melihat ke arah ketiga sahabatnya Axelle.


"Kita bicarakan itu nanti, sekarang kita fokus ke Axelle."


"Ini semua gara gara Marsha, Axelle kecelakaan!" seru Alby.


Eva dan Toni terkejut mendengar pernyataan Alby, terutama Raymond dan Farel, tidak menduga kalau Alby akan mengatakan seperti itu.


"Marsha, siapa Marsha?" tanya Eva.


"Maaf tante, bukan siapa siapa..." kata Raymond seraya menarik tangan Alby. "Kau ini bicara apa, kau tidak berhak ikut campur,"


"Marsha pacarnya Axelle, tante!" seru Alby kesal dan mengabaikan nasehat Raymond.


"Pacar?" ucap Eva dan Toni menatap ke arah Alby.


"Ya tante, Marsha yang selama ini membuat Axelle berubah dan persahabatan kami menjadi renggang. Marsha membawa pengaruh buruk tante!"


Farel dan Raymond menarik paksa tangan Alby dan membawanya menjauh dari Eva dan Toni. Alby terus memberontak dan terus berteriak menyalahkan keadaan Axelle pada Marsha, hingga akhirnya mereka berhasil membawa Alby keluar dari rumah sakit.


"Lepas!"


Alby menghempaskan tangan kedua sahabatnya, pertengkaran diantara mereka tidak terelakkan. Raymond dan Farel tetap tidak setuju dengan cara Alby yang ikut campur tanpa di minta.


Sementara Alby merasa perlu untuk mngatakan itu semua pada orang tua Axelle supayaa hal buruk lainnya bisa di cegah, namun Raymond dan Farel tetap tidak membenarkan cara Alby.


Alby tetap bersikukuh dengan pendapatnya, Alby merasa dia lebih memahami Axelle dari pada kedua sahabatnya dan orang tua Axelle sekalipun.


Alby harus mencegah hubungan Marsha dan Axelle, karena ia merasa bahwa hubungan mereka akan mebawa dampak buruk di kemudian hari, namun Raymond dan Farel menganggap Alby terlalu berlebihan, dan apa yang menjadi pemikiran Alby terlalu dewasa buat mereka cerna.


Alby merasa kecewa terhadap kedua sahabatnya, ia merasa kalau Raymond dan Farel lebih mendukung Marsha ketimbang dirinya. Perlahan Alby berjalan mundur menatap marah kedua sahabatnya.


"Kalian bukan sahabatku lagi, aku akan menjaga Axelle dengan caraku sendiri."


Raymond dan Farel terdiam, merekka bingung dengan sikap Alby yyang lebih mirip dengan perempuan yang sedang cemburu.