AXELLE

AXELLE
Bab 33



Di kantin.


Raymond, Farel dan Alby tengah berada di kantin menikmati makan siang. Saat mereka tengah asik, tiba tiba Axelle duduk di sebelah Raymond.


"Kalian lagi bicarakan apa?" tanya Axelle.


Alby menoleh dn tersenyum kikuk ke arah Axelle.


"Ini si Farel salah sebut nama cewek, saking banyaknya." Kata Raymond.


Axelle dan yang lain mentertawakan Farel yang terlihat malu malu.


"Eh kalian tau gak, Alby tadi juga malu maluin genk kita." imbuh Axelle.


"Malu maluin apa?'' tanya mereka berdua.


"Masa tadi di kamar mandi, nyobain rambut cewek." Kata Axelle.


"Masa, yang bener By?" tanya Raymond.


Alby mendapat tatapan dari ketiga temannya membuatnya salah tingkah.


"Eh, nggak kok...tadi itu..." Alby mulai panik.


Farel mengetuk ngetuk meja sambil tertawa melihat raut wajah Alby memerah.


"Aku jadi ingat, bukankah pernah ada seorang cewek yang manggil Axelle dan suaranya mirp Alby?"


Axelle, Raymond menatap Alby.


"Oh iya benar, aku ingat!" seru Raymond.


Alby mulai merasa terpojok, ia tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana harus menjelaskan andai mereka percaya kalau dirinya seorang perempuan. Raymond, Farel dan Axelle tertawa terbahak bahak melihat raut wajah bingung Alby.


"Hahahahaha, masa si Alby cewek!" seru Farel dan Raymond bersamaan lalu mereka kembali tertawa.


Alby menarik napas lega dan ikut tertawa meski terpaksa. Namun senyum Axelle memudar menatap ke arah Alby yang masih tertawa.


Fokus Axelle teralihkan saat melihat Marsha dan Tias masuk ke kantin lalu duduk di kursi setelah memesan makanan. Axelle berdiri, lalu berjalan menghampiri Marsha dan Tias.


Tanpa bicara sepatah katapun, Axelle langsung menarik tangan Marsha lalu membawanya menjauh dari kantin.


"Kamu kenapa lagi sih?" tanya Marsha.


"Kamu masih bertanya?" ucap Axelle menatap tajam Marsha.


'Maksud kamu apa sih, tiap ketemu marah marah," kata Marsha.


"Ya, apa?" tanya Marsha.


Axelle menarik napas dalam dalam mencoba mengendalikan diri untuk tidak marah marah. Axelle menurunkan suaranya.


"Aku terbaring di rumah sakit, kau sama sekali tidak perduli. bahkan bertanyapun tidak, apakah aku sudah sembuh atau belum. Sekarang aku ada di hadapanmu bahkan kau tidak menyapaku dan bertanya keadaanku pun tidak." Jelas Axellle panjang lebar.


"Aku, pikir dengan bertanya pada sahabatmu, itu sudah cukup," jawab Marsha.


"Jawab aku dengan jujur, sebenarnya kau menyukaiku atau tidak?' tanya Axelle.


"Aku menyukaimu, tapi bukan berarti kita harus sama sama terus," sahut Marsha.


"Sebenarnya maumu itu seperti apa?' tanya Axelle.


"Aku tidak tahu, aku yang harusnya bertanya maumu sebenarnya apa..." jawab Marsha.


Axelle menarik napas panang, sambil balik badan dan mengusap kepalanya kasar, lalu Axelle berbalik badan sambil mengepalkan tangan lalu meninju batang ppohon di samping Marsha.


BUKK


Axelle menatap wajah Marsha karena menahan emosi. Marsha nyalinya mulai menciut melihat Axelle terlihat marah. Detik berikutnya Axelle berlalu dari hadapan Marsha tanpa bicara apapun lagi.


Marsha hanya diam menatap kepergian Axelle.


"Dia itu kenapa siih?' gumam Marsha.


Axelle berjalan dengan penuh emosi menuju atap sekolah, Alby yang baru keluar dari kantin melihat Axelle yang terlihat berjalan dengan kesal kemudian Alby mengikuti Axelle menuju atap sekolah.


Saat Alby membuka pintu atap, ia melihat Axelle sedang mencengkram pagar atap sambil melihat ke bawah. Alby menghampirinya dam menepuk pundak Axelle pelan.


Axelle balik badan dan bereaksi berlebihan hendak memukul Alby, mengetahui itu adalah sahabatnya, Axelle menurunkan tangannya.


"Ada apa lagi?" tanya Alby.


Axelle tidak menjawab pertanyaan Alby. Tiba tiba, Axelle memeluk Alby dengan erat.


Mata Alby terbelalak mendapat pelukan dari Axelle.


"Su, sudah sudah." Kata Alby mendorong tubuh Axelle.


"Jangan seperti ini, kalau di liat yang lain kan ga enak." Kata Alby lagi sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu duduk di bawah.


"Ayo sini cerita, ada apa lagi dengan si Marsha?"


Axelle tersenyum lebar, lalu duduk di samping Alby. Ia tidak jadi cerita tentang Marsha tetapi balik membuly Alby karena sikapnya seperti perempuan. Tanpa mereka sadari, seorang siswa mengambil gambar mereka diam diam.