AXELLE

AXELLE
Bab 43



Dikediaman toni Edgarsyah.


Axelle yang sedang menemani ibunya makan malam, hanya diam memperhatikan ponselnya tanpa sedikitpun menyentuh makan malamnya. Tanpa menyadari kalau Eva bukannya sedang menikmati makan malamnya justru memperhatikan Axelle yang terlihat bingung.


"Ada apa sayang?" tanya Eva.


Namun Axelle tidak mendengarny hingga Evaaa harus menggebrak meja supaya perhatian Axelle teralihkan.


"Maafkan aku, mom.." ucap Axelle sambil meletakkan ponselnya di atas meja.


"Ada apa?" Eva mengulang pertanyaan yang sama.


Axelle menghela napas panjang lalu ia hembuskan perlahan.


"Alby, mom," ucap Axelle.


Eva diam dengan tatapan tajam, menunggu cerita Axelle selanjutnya.


"Alby, dia perempuan. Selma ini dia membohongiku dan yang lain," Axelle melanjutkan ceritanya mengenai kejadian tadi di sekolahnya.


"Apa kau sudah mendengarkan penjelasannya?' tanya Eva.


Axelle menggelengkan kepalanya, dan mengatakan pada Eva untuk tida berteman dengan Alby lagi.


"Kenapa, ftaalkah kesalahan Alby?" tanya Eva lagi.


lagi lagi Axelle menggeleng pelan.


"Aku sudah berjanji pada Marsha untuk tidak dekat dengan Alby lagi," jelas Axelle.


"Pikirkan baik baik keputusanmu itu, jangan sampai kau menyesal." Pesan Eva.


"Aku tidak tahu mom, apa keputusanku ini benar atau tidak. Tapi, aku merasa di bohongi Alby," jawab Axelle.


"Apa kau yakin, kalau Alby sedang membohongimu?" tanya Eva.


Axelle kembali terdiam, semua yang di katakan ibnya ada benarnya. Nmun, jnaji Axelle pada Marsha adalah sebuah komitmen yang hraus dia pegang teguh.


"Yakin?" Eva kembali mengulang pertayaannya.


"Ah, sudahlah mom. Momy tidak mengerti..." pungkas Axelle lalu berdiri dan beranjak pergi begitu saja.


"Axelle, aku belum selesai bicara!" seru Eva, namun Axelle sudah tidak mau membahas soal keputusannya itu dengan Eva.


Eva beranjak dari kursinya hendak menyusul Axelle ke kamarnya, namun langkah end terhenti saat melihat bayangan hitam di halaman rumahnya lewat kaca jendela.


"Axelle!" Eva berkali kali memanggil AXelle karen byangan hitam itu bukan hanya satu tapi makin lama makin banyak.


Eva terus memanggil putranya yang berada di dalam kamar, namun suara keras musik yang berasal dari kamar Axelle membuat suara Eva tak terdengar sama sekali.


Eva berlari ke kamar pribadinya dan mencoba menghubungi Toni yang maih bekerja. Eva mematikan ponselnya saat mengetahui yang mengangkat ponsel milik toni seorang perempuan yang tak lain adalah suara Angela.


"Sialan!" umpat Eva.


Eva bergegas mengambil senjata api di dalam lemarinya lalu di selipkan di balik pinggangnya. Eva berlari kebelakang pintu saat mendengar suara langkah kaki mendekati pintu kamarnya.


Saat pintu kamar terbuka, satu kepala menyembul dari balik pintu. Eva langsung menarik rambut pria tersebut lalu menendang wajahnya dengan kaki kanannya. di sambut dengan pukulan tangan kosong mengenai punggung pria itu hingga jatuh tersungkur ke lantai.


Belum selesai eva membereskan pria itu, satu pria lainnya muncul di ambang pintu, Eva menoleh bersamaan dengan kaki kanannya menendang pria itu tepat di perutnya hingga terjungkal dan menabrak tembok.


Pria tersebut mencoba bangkit namun belum sempat ia menyentuh Eva sudah lebih dulu menendang wajah pria itu hingga kepalanya membentur tembok.


BUKKK


Pria tersebut bersimbah darah tak sadarkan diri, lalu Eva berlari menghampiri seorang pria yang mencoba membuka pintu kamar Axelle.


BUKKK


Eva menendang punggung pria tersebut hingga membentur pintu kamar Axelle, seketika pintu kamar terbuka dan mengejutkan Axelle yang berada di dalam kamar. Eva berlari melangkahi tubuh pria yang tersungkur dii lantai menghamiri Axelle dan menarik tangannya keluar dari kmaar.


"Ada apa mom?" tanya Axelle panik.


"Simpan pertanyaanmu, kita dalam bahaya," kata Eva membawa Axelle menuruni anak tangga.


DORR


Satu tembakan meleset mengenai besi tangga, Axelle dan Eva tetap falling berpegangan tangan berlari bersama dan bersembunyi di balik pilar rumahnya mengintai musuh yang datang satu persatu masuk ke dalam rumah mereka.


"Kau tetap bersembunyi di sini, biar aku yang bereskan mereka semua. Setelah bicara seperti itu, Eva berlari sambil menembak salah satu pria yang tiba tiba menghadang langkahnya.


Sementara Axelle memperhatikan di balik pilar, ia khawtir melihat ibunya bertarung sendirian dan akhirnya ia keluar dari tempat persembunyiannya dan membbantu Eva meski sudah di larang.


Sementara itu di lain tempat.


Toni yang baru saja hendak pulang dari tempat kerjanya, tiba tiba ia teringat ponselnya yang ada di ruang kerjanya. Toni bergegas kembali ke ruang kerjanya dan mendapati Angela tengah memainkan ponselnya sambil duduk di kursi.


"Kembalikan ponselku," pinta Toni mengulurkan tangannya hendak mengambil ponsel di tangan Angela.


Namun Angela tidak langsung memberikan ponsel milik Toni. Ia berdiri dan menghampiri Toni.


"Tadi istrimu menghubungimu," kata Angela.


"Berikan!" Toni berusaha merebut ponsel di tangan Angela namun wanita itu malah mempermainkan Toni.


"Kau harus mengakui kalau anak yang ku kandung adalah putramu," kata Angela.


"Bermimpilah, aku tidak akan melakukan itu." Tegas Toni.


"Baik, kalau kau tidak mau mengakuinya. Aka kusebarkan video kita waktu di hotel," ancam Angela.


"Terserah!" Toni merebut ponsel di tangan Angela lalu bergegas pergi meninggalkan ruang kerjanya.


"Perempuan gila, kenapa aku harus berurusan dengannya lagi," umpat Toni.


Sepanjang perjalanan pulang, ia terus membayangkan wajah Eva, ia berpikir kalau Eva pasti salah paham. Namun, sesampainya di halaman rumahnya, Toni melihat ada yang tidak beres, ia bergegas masuk ke dalam rumah.


Toni terkejut melihat perban di kepala Eva, sementara Axelle putranya langsung pergi ke kmarnya saat melihat kedatangan Toni.


"Apa yang terjadi?" tanyanya lalu duduk di sofa di samping eva, memperhatikan raut wajah Eva terlihat sangat marah.


"Apa ada maling?" tanya Toni lagi, namun Eva tenggan menjawabnya dan memilih pergi karena masih kesal dengan Toni.


Toni diam memperhatikan setiap sudut rumahnya yang terlihat berantakan.


"Maling, rasanya tidak mungkin. Lalu siapa yang sufdfah menyerang keluargaku?" tanya Toni pada dirinya sendiri.