
Dirga Dewangga berdiri dekat kaca jendela menatap ke arah taman bunga di samping rumahnya. Ia tengah memperhatikan seorang gadis yang tengah menghiirup aroma wangi bunga yang tengah mekar.
Alana, andai saja kau terlahir sebagai anak laki laki tentu hari ini, kau adalah anak yang bisa aku banggakan..." gumam Dirga Dewangga.
Pria setengah baya itu menarik napas dalam dalam, pikirannya menerawang jauh pada masa silam 18 tahun yang lalu. Matanya memiciing, raut wajahhnya berubah masam menatap ke arah gadis yangg bernama Alana. Seketika urat lehernya menegang, ggi gerahamnya saling beradu dan mengepalkan tangan.
"Garry!!' teriaknya tanpa mengalihkkann pandangannya pada Alana.
Terdengar suara langkah tergesa gesa mengghamprinya.
zxq
"Papa memanggilku?" tanya Garry, kakak kandung Alana.
"Seret Alana kemari!!" perintahnya.
Tanpa menunggu perintah selanjutnya, Garry bergegas menghampiri Alana yang berada di taman. Dibalik kaca jendela, Dirga Dewangga bisa melihat putra pertamanyya menyeret paksa Alana masuk ke dalam rumah dan di bawa ke hadapannya.
BUKK
Suara tubuh Alana beradu dengan lantai cukup keras, bersamaan dengan Dirga Dewangga berbalik badan menatap tajam Alana dan menghampirinya. Ia berdiri tepat di hadapan Alana dan menginjak tangan gadis tersebut tanpa belas kasihan.
Alana menjerit kesakitan bersama dengan derai air mata mengalir dengan deras. Ia tahu, apa yang bakal papanya lakukan terhadap dirinya.
"Ampun paaa....!"
Namun Dirga Dewangga menatapnya dengan liar dan buas, seolah anak perempuannya itu adalah musuh besarnya. Lalu ia melepas ikat pinggangnya dan mengayunkannya ke atas.
Alana menarik tangannya yang di injak dengan sekuat tenaga, lalu ia berusaha untuk bangkit dan menghindar. Namun Garry, sang kakak justru menahan bahu Alana dan memaksanya untuk bertekuk lutut di hadapan Dirga.
Alana tengadahkan wajahnya menatap dengan harap, bahwa papanya mau melepaskannya.
"Ampun pa, salahku apa..." ucapnya lirih.
Namun Dirga Dewangga yang sudah seperti kerasukan tak perduli dengan permohonan Alana. Ia mengayunkan ikat pinggangnya ke tubuh Alana.
"Sakit paaa!" Alana terus memohon seraya memegang kedua kaki Dirga Dewangga.
"Cetar!!"
"Pa, ampun pa.."
Dirga terus memukulkan ikat pinggangnya ke tubuh Alana, ia sama sekali tidak punya rasa kasihan meski putrinya sudah meringkuk di lantai dan menerima setiap rasa sakit dari pukulan yang harus di terima tatkala Dirga Dewangga marah.
Alana sendiri tidak tahu, mengapa Dirga Dewangga begitu membencinya. Kakak satu satunya yang seharusnya jadi sandaran Alana. Justru sering membuly bahkan membiarkan papa nya berlaku kasar pada Alana.
"Anak pembawa sial, seharusnya kau tidak terlahir ke duania ini!!"
"Apa salahku pa...apa salahku.." tanya Alana di sela tangDisnya yang semakin tidak bersuara lagi.
Dirga Dewanggga perlahan menghentikan aksinya saat melihat tubuh Alana tidak bergerak lagi, lalu ia memerintahkan Garry untuk membawa tubuh Alana ke kamarnya.
Garry langsung mendekatii tubuh Alana dan membopongnya ke kkamar pribadi Alana, setelah itu ia memanggil asisten rumah tangga untuk Membantunya mengobati tubuh Alana.
Setelah memastikan Alana sadar, dan di obati oleh mbak inah. Garry, beranjak dari kamar Alana.
"Non..." panggil mbok Inah menatap iba wajah Alana.
"Sakit mbok.." rintih Alana.
Mbok Inah menitikkan air mata, dan menganggukkan kepalanya. Perlahan ia membantu Alana membuka pakaiannya dan mulai mengobati luka lebam di tubuh Alana.
Selang satu jam, mbok Inah selesai mengobati Alana. Lalu ia kembali ke dapur untuk membuatkan makan malam keluarga tersebut.
Sementara Alana meringkuk di balik selimut, air mata tak berhenti mengalir. Bukan pukulan sang papa yang membuatnya sakit hati, karena ia sudah kebal. Tetapi kebencian papa dan kakaknya yang sering memaki dan menganggapnya anak pembawa sial.
Perlahan Alana bangun dan mengambil ponselnya, Alana berniat untukmenghubungi sahabatnya. Namun, ia kembali mengurungkan niatnya. Tubuhnya gemetar menahan sakit dan kebingungan pada siapa ia harus mengadu.