AXELLE

AXELLE
Bab 79



Sepulang sekolah, Axelle langsung menuju rumah sakit dan memasuki ruangan Alby. Raymond dan Farrel yang masih setia menunggu Alby menyambut kedatangan Axelle dengan menepuk pundak Axelle.


"Bagaimana?apa kau sudah menyelesaikan urusan mu?" tanya Raymond.


Axelle mengangguk, walaupun dia terlihat baik baik saja namun dalam hatinya terdapat penyesalan yang sangat besar karena selam ini mata nya telah di butakan oleh cinta yang membuat nya melupakan segalanya bahkan sahabat sahabat yang sebenarnya selalu ada untuknya.


"Kami ke kantin sebentar." kata Farrel.


"Baiklah, biar aku yang menjaga Alby sekarang." Axelle mempersilahkan sahabatnya pergi karena dia tau pasti kedua sahabatnya pun merasa lelah seharian menunggu Alby.


Axelle masuk ke ruangan Alby yang masih dengan segala peralatan medis di tubuhnya. Dia duduk di samping Alby sambil menatap sendu wajah Alby yang terbaring tak berdaya di atas tempat tidurnya.


"Aku sudah memutuskan hubungan ku dengan Marsha." ucap Axelle sambil menunduk.


"Aku tau harusnya aku melakukan hal ini dari dulu. Tapi entah kenapa semua rasanya selalu benar saat bersamanya." Axelle menutup wajah dengan kedua tangan nya.


"Rasanya ada sesuatu yang besar mengganjal di hatiku, By...."


"Jujur berat hati ini melepaskannya, tapi jika aku tidak mengambil keputusan maka aku akan selalu menjadi orang paling bodoh di dunia ini." axelle mengepalkan tangan nya menahan emosi di hatinya.


"Kalau saja aku mendengarkan kata kata kalian dari dulu, mungkin sakit hati ku tak akan sebesar ini."


"By, kau mendengarkan ku kan?" Axelle menggenggam tangan Alby.


"Maafkan aku, sungguh aku memang orang yang sangat bodoh. Aku tak melihat orang yang begitu tulus di depanku." Axelle menggenggam erat tangan Alby.


"Karena cinta dan obsesi yang bodoh, aku buta dan tak bisa membedakan mana orang yang tulus dan tidak padaku."


"Aku benar benar menyesal. Aku sadar sekarang ternyata kau adalah orang yang selama ini ada di sampingku yang selalu mendukung dan menenangkan kan ku dengan tulus, By...." Air mata mulai menetes di pipi Axelle.


"Apakah aku sudah terlambat jika aku menyadari nya sekarang?" Axelle kembali menatap wajah Alby yang masih tak bergerak sedikitpun.


"Aku benar benar minta maaf. Tolong maafkan aku." Axelle mencium tangan alby yang sedari tadi dia genggam dengan erat dan tak melepaskannya.


"Kau pasti mendengarkan ku kan, By? Aku menyayangi mu." sekali lagi Axelle mencium tangan Alby cukup lama hingga dia memejamkan mata agar apa yang dia rasakan bisa sampai pada Alby.


Axelle begitu terkejut ketika dia membuka mata dan melihat wajah Alby. Airmata menetes di pipi Alby!


"Kau mendengarku?aku tau kau mendengarkan ku, By..." Axelle terlihat senang karena airmata di pipi Alby adalah pertanda jika Alby merespon dan mendengarkan apa yang dia bicarakan semenjak tadi.


"AKu tau kau pasti mendengarkanku dan memaafkan semua kesalahanku. Aku tau kau tak akan pernah mau mengecewakanku." Axelle menangis bahagia dengan tangan yang masih menggenggam tangan Alby.


"Kalau kau mendengarku, kau harus bangun secepatnya, By. aku janji aku akan selalu ada untuk mu mulai sekarang. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Aku pasti akan menuruti semua nasehat mu." Axelle benar benar terlihat senang. Dia terus bicara karena dia merasa Alby mendengarkannya.


"Aku menyayangimu, By...." AXelle mencium kening Alby dengan lembut.


Tanpa dia sadari jari Alby bergerak perlahan. Axelle merasakan ada yang menyentuh ujung bajunya, ia pun menoleh dan terkejut melihat jemari Alby memegang ujung bajunya.


"A..Axe..ll.." ucap Alby sangat pelan namun bisa terbaca oleh Axell.


"Al, kau butuh sesuatu?" tanya Axelle seraya mendekatkan wajahnya di wajah Alby.


"Di..setiap doaku..namamu sela,lu..aku aminkan..biarpun..bersamamu..bukan lagi..yang..aku..inginkan.." ucap Alby terpatah patah karena menahan sesak di dada.


"Al!" pekik Axelle, bersamaan dengan dua sahabatnya masuk ke dalam ruangan di susul oleh Dirga.


"Dokter!!" panggil Axelle menatap ke arah sahabatnya, lalu Farel menekan tombol memanggil Dokter dan Suster.


"Alby, bertahanlah.." ucap Axelle berkali kali, sementara Dirga malah mundur ke belakang dan duduk di sudut ruangan sambil meremas rambutnya sendiri.


Tak lama kemudian Dokter dan Suster datang, mereka meminta Axelle dan yang lain untuk sedikit menjauh.


Suara nyaring dari monitor membuat suster dan dokter panik, garis lurus jelas terlihat di layar monitor.


Tangan Alby kehilangan tenaganya, ia meneteskan air mata untuk terakhir kalinya.


Dokter sudah berusaha untuk mengembalikan kehidupan Alby, namun Tuhan lebih sayang terhadap Alby.


Alby tidak akan merasakan sakit lagi, tidak akan pernah mendapatkan ketidak adilan sepanjang hidupnya.


Dokter meminta Suster untuk mencabut semua alat medis di tubuh Alby.


Axelle langsung mendekati mereka, dan dua sahabatnya.


"Dokter, kenapa semuanya di lepas?" tanya Axelle dengan tubuh gemetar.


"Maaf, Non Alby sudah tiada." Kata Dokter.


"Tidak mungkin!!" teriak Axelle mendekati ranjang, lalu membangunkan Alby. Berharap matanya terbuka dan tersenyum padanya.


"Al, bangun Al! Bangun!!"


Axelle terus mengguncang tubuh Alby sambil menangis.


"Al banguuunn...jangan tinggalin aku...."


Raymond dan Farel berpelukan dan menangis terisak.


"Alby bangun!!"


Axelle terus berteriak hingga suaranya serak dan akhirnya memeluk tubuh Alby untuk yang terakhir kalinya.


ALBY!!!!"