
Alby masih terbaring di atas tempat tidur dengan keadaan yang masih lemah.
Selang inpus masih menempel dengan selang oksigen yang masih menempel di hidung.
Alby menatap langit langit dengan pikiran kosong. Raut wajah yang sedih terlihat jelas di matanya.
Airmata Alby jatuh berlinang, dia menahan semua kesedihan dan kegundahan hatinya saat ini.
Alby merasa terpuruk dengan keadaannya, semua masalah datang bertubi-tubi padanya tanpa ampun sedikitpun.
Selama ini hidupnya penuh dengan penderitaan, dan sekarang Tuhan memberikan penderitaan yang lebih besar kepadanya.
Alby meremas seprei dengan kencang, dia menahan semua perasaan tanpa kata-kata apapun. Hanya airmata yang jatuh tanpa bisa dia tahan.
"Kenapa semua harus terjadi padaku?Apa salahku selama ini?" Pikir Alby.
"Kenapa Tuhan terus menghukumku seperti ini? apa aku tidak pantas bahagia?"
Semua pikiran itu terus muncul di pikirannya. Alby merasa dunia sudah tak adil padanya.
TOK..TOK..
Pintu kamar Alby di ketuk dari luar. Seorang perawat masuk dan menghampiri Alby.
"Nona, Ada yang ingin menemui Nona."' katanya.
Alby langsung memalingkan wajahnya.
"Aku tidak ingin menemui siapapun, suster," jawab Alby.
"Baik.." jawab Perawat tersebut lalu dia keluar ruangan.
Ternyata Farrel dan Raymond yang datang menjenguk. Mereka menunggu di luar karen Alby mengatakan pada suster untuk tidak membiarkan siapapun masuk tanpa seijinnya.
"Gimana, sus?" tanya Farrel.
"Maaf, Mas. Non Alby tidak ingin bertemu siapapun saat ini." jawab uster.
"Tapi kami hanya ingin melihat nya sebentar saja. Masa dia tidak mengijinkan kami melihatnya." Farrel bersikukuh.
"Maaf Mas, saya tidak berani mengijinkan masuk." katanya suster.
Farrel terlihat kesal dan mencoba mengatakan sesuatu lagi pada suster, namun Raymond menahannya.
Walaupun terlihat kesal Tapi Farrel akhirnya diam dan menuruti perkataan Raymond
"Ayo, nanti kita kesini lagi." Raymond mengajak Farrel pergi.
Alby mendengar suara Raymond dan Farrel. Hatinyaa terasa sesak dan sakit saat harus menolak sahabatnya untuk menemuinya.
Rasanya ingin sekali Alby bangun dan langsung memeluk para sahabat yang sangat peduli padanya walaupun selama ini dia sudah membohongi mereka.
Tapi Rasa sakit akan keadaan yang di alaminya sekarang mengalahkan rasa ingin bertemu dengan sahabatnya.
Alby memiringkan tubuh dan menekuknya. Dia terlihat seperti orang yang sudah tak punya semangat dan harapan untuk hidup.
Alby terus menangis meratapi nasib yang menimpanya, semua kenangan buruk terus berputar di kepalanya.
Siang pun berganti malam dan Alby masih menangis di atas tempat tidur. Matanya terlihat bengkak karena terus mengeluarkan airmata dan terus tenggelam dalam pikirannya, dia sampai tak menydari kalau dua sahabatnya terus datang untuk melihat keadaannya namun suster tidak mengijinkannya.
Waktu memperlihatkan pukul 10 malam. Alby pelan-pelan bangun dri tempat tidurnya. Wajahnya terlihat datar namun airmata masih terlihat basah dipipinya.
Dia terdiam sejenak lalu tiba-tiba Alby mencabut selang osigen di hidungnya, kemudian menarik jarum inpus yang ada di tangannya.
Darah segar keluar dari tangan Alby karena inpus yang di paksa dia cabut. Namun sepertinya Alby sama sekali tidak merasa sakit ataupun peduli dengan darah yang menetes dari tangannya.
Alby dengan langkah perlahan berjalan mendekati jendela kamarnya yang berada di lanntai 7 rumah sakit.
Dia membuka jendela dan angin masuk menerpa rambut panjang nya.
Ia berdiri memandang langit yang gelap di depannya dengaan tatapan kosong. Airmata mulai kembali mengalir di pipinya saat dia ingat apa yang sudah terjadi.
Alby berjalan perlahan keluar kamar menuju koridor rumah sakit dan menaiki tangga dengan tertatih menuju lantai terbuka yang berada di lantai paling atas di rumah sakit ini.
Dengan bersusah payah, akhirnya Alby sampai di lantai atas. Angin terasa semakin kencang saat berada di area terbuka.
Alby berjalan menuju pagar pembatas. Dia berdiri sejenak lalu menggenggam pagar dan menaikan kakinya perlahan.
Tatapannya lurus ke depan seolah tak takut dengan ketinggian dan angin yang menerpa yang setiap saat bisa saja menjatuhkkannya.
"Untuk apa lagi aku hidup jika aku sudah tak berarti lagi di dunia ini." gumam Alby dengan airmata yang kembali jatuh di pipinya.
Alby menutup mata dan meyakinkan hatinya untuk melompat dari tempat itu.
Alby menarik nafas dan mulai melepaskan pegangan tangannya namun saat tubuhnya akan terjatuh Tiba-tiba seseorang menarik tangannya ke belakang hingga tubuh Alby terjungkal ke belakang.