WINDING LOVE

WINDING LOVE
MENGHINDAR



Genevia memutuskan segera masuk ke dalam kamarnya. Dirinya yang masih merasa kesal kepada Evan, merasa malas untuk bertemu dengan suaminya itu.


Pada malam hari saat jam makan malam tiba, Genevia memutuskan untuk tidak turun ke bawah. Selain merasa kesal, ia juga merasa malu atas tindakannya. Dengan percaya dirinya meminta Evan untuk menjemputnya, sedangkan pria itu begitu acuh dan mengabaikan permintaannya.


Baru saja Genevia ingin memulai membuat hubungan mereka lebih dekat, namun kini rasanya ia tak lagi berniat. Ia merasa menyerah dengan sikap dingin, datar, dan acuhnya Evan. Kemungkinan dirinya tak akan mampu menembus benteng pertahanan Evan.


Evan yang selalu bersikap acuh kepada Genevia tampak tidak peduli. Meskipun saat ini ia sedang makan malam sendirian. Ia tidak ingin memikirkan alasan Genevia tidak turun ke bawah untuk makan malam bersamanya.


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Saat tengah malam, Genevia keluar dari kamarnya untuk mengisi perutnya yang merasa lapar karena belum diisi. Matanya yang masih mengantuk membuatnya tak fokus, hingga tak menyadari ada seseorang di ruang keluarga saat ia melewatinya.


Saat sampai di ruang makan, ia langsung mengambil menu yang masih tersisa untuk segera menghilangkan rasa lapar.


Sedangkan seseorang yang berada di ruang keluarga tengah menyaksikan Genevia yang begitu lahap mengabiskan makanannya.


...πŸ‡πŸ‡πŸ‡...


Di tempat yang berbeda ...


Genivee masih menangis di dalam kamarnya meratapi nasibnya yang dinyatakan telah mengandung anak Steven. Ia takut dengan penolakan Steven kelak, bagaiman jika pria itu tidak mau menerima kehamilannya.


Atau bagaimana jika Steven justru malah meninggalkannya. Ia teramat mencintai pria itu, ia tidak akan sanggup bila Steven meninggalkannya.


Steven yang baru pulang dari kampusnya, sayup-sayup mendengar suara orang menangis. Perlahan suara itu ia dengar dari kamarnya dan Genivee, ia pun membuka handle pintu dan membukanya.


Genivee adalah jiwanya, jika Genivee merasa sakit seperti itu hatinya juga ikut merasa sakit. Ia bergegas berlari mendekati Genivee dan segera merengkuhnya dalam pelukan.


Ia membawa kepala wanitanya untuk bersandar di dadanya. Ia kecup berulang kali pucuk kepalanya guna menyalurkan ketenangan. Seolah mengatakan semua akan baik-baik saja ada aku di sini.


Genivee yang nampak kaget direngkuh oleh seseorang tersentak diam membeku. Namun saat menghirup bau parfum Steven, ia segera membalas pelukan kekasihnya itu. Ketenangan ini yang ia butuhkan dari tadi, kini ia tak lagi memikirkan kemungkinan buruk.


Yang ia ingin saat ini hanya menumpahkan seluruh tangisnya di pelukan Steven, daddy dari baby yang ia kandung.


Setelah cukup lama menangis dalam pelukan sang kekasih, Genivee sudah merasa tampak lega. Ia melepaskan diri dari rengkuhan Steven dan menatap kekasihnya itu dengan mata sembabnya.


Steven yang melihatnya tampak tidak tega, ia mengangkat kedua tangannya untuk menghapus jejak airmata di wajah Genivee.


Dibelainya wajah Genivee dengan sayang.


β€œApa yang terjadi Sayang?” tanyanya dengan lembut kepada Genivee yang justru menunduk saat ia tatap.


Genivee berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya kepada kekasihnya itu.


β€œStev, aku hamil” Genivee akhirnya mengungkapkan kebenarannya setelah berhasil mengumpulkan keberaniannya.


Genivee hanya mampu terdiam untuk melihat bagaimana respon kekasihnya setelah mendengar kabar kehamilannya. Bahkan dirinya tak berani menatap Steven dan hanya menuduk melihat ujung kakinya.


NEXT .......