WINDING LOVE

WINDING LOVE
TETAP MENCINTAINYA



Setelah Genevia berpamitan dengan Evan untuk pergi ke rumah kedua orangtuanya. Dan rencananya yang akan menginap, akhirnya Genevia dan Keiko berangkat menuju kediaman keluarga Albert.


Keiko terlihat menikmati perjalanan mereka, terlihat dengan jelas pada wajah cantiknya yang tampak ceria memandangi hamparan pepohonan yang sepanjang jalan meraka lewati.


"Sepertinya kau bahagia sekali Kei?" ujar Genevia menoleh pada Keiko yang terlihat fokus memandangi pemandangan lewat jendela mobil.


Keiko menoleh sekilas pada Genevia dan mengangguk pasti. "Benar, selama ini aku tak pernah sebebas ini menikmati alam." Tuturnya menahan kesedihan.


"Benarkah?" Ujar Genevia merasa tak yakin dengan perkataan Keiko.


"He em, begitulah. Nevia bagaimana hubungan mu dengan Evan? Apakah semuanya berjalan dengan baik?" Tanya Keiko mengalihkan topik pembahasan tentang kesedihan Keiko.


Mendengar pertanyaan Keiko, kini Genevia yang tampak sedih. Selama ini ia berusaha membuat Evan luluh padanya, sesuai permintaannya pada pria itu untuk memberinya kesempatan.


Namun sampai saat ini, Genevia belum melihat perubahan sikap Evan sedikitpun padanya. Suaminya masih tampak masih sama dingin, datar, dan acuh kepadanya.


"Entahlah Kei, Evan masih tetap sama. Tidak berubah sama sekali terhadapku." Tutur Genevia nampak rautnya yang sedih.


Meskipun begitu Genevia tidak akan menyerahkan sampai dirinya berhasil meluluhkan perasaan Evan dan memenangkan hati pria itu.


Keiko ikut merasa iba melihat bagaimana perjuangan Genevia yang berusaha memberikan seluruh perhatian dan cintanya kepada Evan. Namun sepupunya itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan sikap apapun.


"Aku yakin Evan akan berubah suatu hari nanti. Dan akan menyadari perasaannya kepadamu Nevia." Tutur Keiko memberikan semangat.


"He em aku harap begitu Kei" Pasrah Genevia dengan yang terjadi kedepannya.


Sebelum mereka memasuki kawasan yang jauh dari pemukiman, Genevia menghentikan mobilnya di sebuah toko besar ternama. Mereka turun untuk membeli sekedar bawaan untuk kedua orangtuanya Genevia.


Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju kediaman Albert. Suasananya kali ini terdengar hening, karena Genevia yang fokus mengemudi dan Keiko yang tertidur.


Namun tak lama kemudian, bunyi ponsel yang berasal dari tas Keiko memecahkan keheningan yang terjadi. Keiko yang tengah tertidur sama sekali tak mendengar ponselnya yang tengah berbunyi.


Genevia menoleh pada Keiko, mengulurkan tangannya untuk membangunkan Keiko supaya mengangkat panggilan pada ponselnya. Namun rupanya Keiko begitu sulit untuk dibangunkan.


Hingga ponselnya berbunyi berulang kali dan begitu berisik di telinga Genevia. Akhirnya Genevia mengambil ponsel Keiko dari tas wanita itu dan membuatnya menjadi mode silent. Supaya tidak menggangu ketenangannya dalam mengemudi.


Setelah lumayan lama menempuh perjalanan, Keiko yang tadinya sibuk terlelap kini terlihat mulai membuka mata. Keiko menoleh pada Genevia yang sedang sibuk mengemudi di sampingnya.


Menyadari hal itu, Genevia mengatakan bahwa sejak tadi ponsel Keiko terus saja berbunyi. Namun saat dirinya sulit dibangunkan hingga Genevia menyerah dan membuat ponselnya dalam mode silent.


"Benarkah?" tanya Keiko seraya mengambil ponselnya, untuk memastikan siapa gerangan yang menghubungi dirinya.


"What!?" Pekik Keiko, yang membuat Genevia terkejut di sampingnya.


"Semua baik-baik saja?" Ujar Genevia yang merasa khawatir.


Terlihat Keiko seperti nya menghubungi kembali nomor yang sejak tadi menghubungi Keiko. Setelah beberapa detik, akhirnya Keiko berhasil menghubungi nomor itu.


Genevia fokus pada kemudinya, namun sesekali melirik pada Keiko yang sedang mengobrol di dalam sambungan seluler. Namun yang dirinya lihat, Keiko hanya mengucapkan kata-kata singkat entah mengiyakan atau menyanggah dengan kata "tidak".


Genevia berpikir seperti nya, seseorang yang berada di seberang sana yang lebih baca berbicara. Entahlah, apa Keiko sedang diberikan ultimatum atau itu hanya terkait pekerjaannya yang kini Keiko tinggalkan. Setelah tinggal bersama dirinya dan Evan.


...🥀🥀🥀...


"Apa seorang David Sanders memiliki watak yang sama dengan Evan, Kei?" tanya Genevia memecah keheningan mereka.


Tiba-tiba Genevia merasa penasaran dengan sosok dibalik David Sanders. Karena mungkin saja, jika David adalah orang yang dapat membantunya meluluhkan hati Evan sang adik.


Selama yang Genevia ketahui, David yang merupakan putra sulung Sanders mengasingkan diri dari muka publik. Tidak satupun orang yang mengetahui wajah maupun watak nya, selain keluarganya tentu saja.


"Tidak, David tidak acuh dan dingin seperti suami mu. Dia pribadi yang hangat dan penuh cinta" jelas Keiko kepada Genevia.


Keiko teringat pada David yang selama ini kerap berkunjung ke negaranya, dan pernah tinggal bersama keluarganya. Bahkan dirinya begitu dekat dengan sepupunya yang satu itu. Kepribadian hangat nan perhatiannya mampu membuat semua orang merasa nyaman berada dekat dengan dirinya.


"Benarkah? Apa aku bisa meminta bantuannya untuk menaklukkan Evan?" ujar Genevia mendapatkan ide.


"Entahlah, aku juga tidak terlalu tahu. Karena sampai saat ini, David belum pernah menampakkan dirinya. Bahkan kami tidak danyang tahu di mana keberadaannya saat ini." Tutur Keiko yang sejujurnya merindukan sepupunya itu.


"Menurut mu apa yang membuat David Sanders memutuskan untuk bersembunyi dari publik? Bukankah suatu kebanggaan menjadi keturunan Sanders yang berkuasa?" tanya Genevia penasaran.


Dirinya dan Genivee juga menyembunyikan identitas. Namun hal itu dilakukan bukan semata-mata tidak ingin dikenal sebagai keturunan Alberto. Melainkan untuk menjaga keamanan akan keberadaan keturunan Albert.


Sedangkan Sanders yang merupakan kekuatan terkuat, tidak ada satupun yang akan berani berurusan mengusik kenyamanan dan keamanannya. Jadi apa yang membuat David Sanders menyembunyikan dirinya?.


"Aku tidak terlalu tahu. Tapi keluarga ku meyakini, sebuah perusahaan game yang kini sedang berkembang pesat. Itu merupakan hasil karya David. Kemungkinan hal itu salah satu alasannya. Terlebih lagi, David tipikal orang yang tidak suka dengan keramaian. Ia cenderung sedikit bicara, dan banyak bertindak. Bisa dikatakan David masuk dalam kategori orang-orang introvert." Jelas Keiko kepada Genevia yang nampak penasaran kepada David.


"Sepertinya David sosok yang menyenangkan." Ujar Genevia menerka bagaimana kemungkinan seorang David.


"Ya, bisa saja kau jatuh cinta padanya jika bertemu dengannya terlebih dahulu sebelum Evan." Keiko terkekeh menggoda Genivee.


"Meskipun aku bertemu Evan setelah bertemu dengan David, aku rasa masih tetap Evan yang aku cintai." Tegas Genevia yakin pada hatinya.


Karena selama ini, yang tidak orang ketahui tentang Evan. Evan senantiasa bersikap lembut & hangat saat sedang melakukan kegiatan bercinta bersamanya. Dan Genevia yakin, Evan tidak akan pernah menunjukkan sikap itu kepada orang lain selain dirinya.


Sepertinya Evan hanya belum menyadari perasaannya kepada Genevia. Karena saat mereka melakukannya, Genevia melihat tatapan penuh cinta itu di mata Evan.


"Ya, aku percaya itu. Kau telah hanyut pada pesona sepupu dinginku itu." Ujar Keiko tertawa kecil.


NEXT .......