
Genivee membawa Steven ke kamarnya untuk diobati lukanya. Hatinya merasa sakit melihat bagaimana ayah dari anaknya dipukuli. Meski ia membenci Steven, namun hatinya tidak dapat berbohong. Nama Steven masih melekat kuat di dalam hatinya.
Suasana di dalam kamar Genivee terasa sunyi. Baik Genivee maupun Steven tidak da yang membuka bibirnya untuk mengeluarkan suara.
Steven yang mulai merasakan Genivee mulai memberikan obat pada lukanya, merasa tersentuh. Dadanya terasa sesak mengingat dirinya telah pergi meninggalkan wanita di hadapannya sebelumnya.
Wanita yang telah ia sakiti masih bersedia membela dan memberikan perhatian kepada dirinya. Benar apa yang ayahnya katakan, mengapa dirinya bisa melakukan hal yang sangat menyakiti perasaan kekasihnya itu.
"Vee" panggilnya untuk membuat Genivee menatap padanya.
Karena sejak tadi ia menyadari Genivee sama sekali tidak berniat menatap ke arahnya. Ia tahu Genivee pasti sengaja agar tidak bersitatap dengan dirinya.
Genivee yang mendengar Steven memanggilnya hanya diam tak berniat membuka bibirnya sedikitpun. Ia tetap fokus mengobati luka luka Steven yang tampak memar dan membiru.
Steven yang tidak mendapat tanggapan dari Genivee sama sekali merasa sakit. Dirinya menyadari telah menyakiti Genivee, ia kembali menyesal telah meninggalkan Genivee sebulan yang lalu.
Perlahan ia mengamati Genivee yang masih fokus mengobati luka pada tubuhnya. Tidak ada sikap manja atau senyuman yang Genivee tunjukkan. Tidak seperti selama ini jika saat bersamanya, Genivee selalu tersenyum dan bersikap manja.
Kemudian perhatiannya teralihkan pada perut Genivee di mana ada anaknya yang tengah bersemayam di sana. Steven ingin menyentuh perut itu walau hanya sesaat, namun dirinya tak memiliki cukup keberanian.
"Vee maafkan aku" ujarnya dengan lembut dan tulus. Steven menatap lekat Genivee yang memalingkan wajah darinya. "Aku tidak bermaksud meninggalkanmu saat itu." Ucapnya mencoba menjelaskan.
"Lalu maksudmu apa? pergi meninggalkan seorang wanita yang tengah mengandung anakmu, saat mengetahui bahwa ia hamil? Apa kau pikir aku begitu bodoh, hingga harus mengartikan kepergian mu sebagai rasa syok atau apa menurutmu? Apakah itu maksudmu David?" Ujar Genivee dengan lantang menatap tajam Steven. Dengan menekankan jati diri Steven yang sebenarnya.
Genivee merasa tidak terima dengan alasan Steven yang mengatakan tidak bermaksud meninggalkannya. Bahkan nafasnya memburu merasa emosi, Genivee menggebu-gebu.
Steven yang mendapatkan perkataan tegas dan tatapan tajam dari wanitanya merasa tidak menyangka. Ini adalah pertama kalinya, dirinya melihat wanitanya marah.
Selama mereka bersama, Genivee tidak pernah sekalipun marah dan berkata lantang padanya. Jika marah, Genivee hanya akan merajuk dan dirinya akan merayu Genivee.
Steven merasa Genivee memang telah pada puncak kesabarannya. Steven segera turun dari ranjang dan bersimpuh pada Genivee. Ia memeluk erat kaki ibu dari anaknya, dan m seketika menangisi menumpahkan penyesalannya.
"Maaf Sayang, Aku benar-benar menyesal karena meninggalkanmu. Jangan tinggalkan aku, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku mohon" ujar Steven dengan mengiba.
Genivee yang mendengar suara kekasihnya yang bergetar merasa tidak tega sebenarnya. Namun rasa sakit karena David yang pergi meninggalkan dirinya saat sedang membutuhkan pria itu, mengalahkan rasa tidak teganya.
Genivee masih diam tidak menanggapi David yang tetap setiap memeluk kakinya. Ia tahu seberapa dalam David dan dirinya saling mencintai.
Namun sejak kejadian pria itu pergi begitu saja meninggalkannya. Bahkan berhari-hari ia masih mengharapkan kedatangan pria itu, namun tetap tak kunjung datang.
NEXT .......