
Mereka tengah makan malam, Genevia cukup tahu diri untuk tidak duduk di samping Evan karena kursi itu akan Keiko yang menempati. Ia juga tak lagi mengambilkan makanan untuk Evan karena sudah ada Keiko yang menggantikannya.
Mereka makan dengan hening, rupanya sifat dingin Evan juga berlaku untuk kekasihnya itu.
“Aku akan tidur di kamar yang dulu ku tempati. Silahkan kalian tidur satu kamar, aku tidak akan menganggu.” Ujar Genevia memecah keheningan mereka, kemudian berlalu pergi meninggalkan dua insan yang Genevia tahu sepasang kekasih.
Evan yang mendengar perkataan Genevia merasa terkejut, meski ia ingin Keiko tinggal di sini bukan berarti mereka satu kamar. Jelas Evan tidak akan mau, karena Evan jadi tak bisa menyentuh Genevia. Menyentuh tubuh yang telah menjadi candunya.
Jika Genevia bisa tak melibatkan perasaan, mungkin Evan tidak akan melakukan drama menjijikkan ini.
Jika mereka bisa saling bekerja sama menjadi suami-istri tanpa rasa, pernikahan mereka akan berjalan baik-baik saja. Dan ketika mereka memutuskan untuk berpisah, dapat dipastikan mereka berdua tidak akan ada yang terluka.
Evan tidak membiarkan apa yang istrinya minta menjadi sebuah kenyataan. Dirinya tidak mau tidur terpisah dari Genevia. Karenanya ia memaksa Keiko untuk menempati kamar yang Genevia tiduri dahulu.
Supaya Genevia tidak bisa menempati tempat itu, dan akhirnya tidur bersama dengannya di kamar yang mereka tempati.
Mau tidak mau Genevia menuruti kemauan Evan itu, karena Keiko sudah lebih dulu memasuki kamar yang niatnya akan ia tiduri. Meski awalnya ia menolak, namun Evan tetap memaksa karena bagaimanapun para pelayan tahunya, Genevia sebagai istrinya. Maka dia yang lebih pantas tidur dengan Evan.
Jika terus berjuang meluluhkan Evan, rasanya tidak akan mungkin. Evan rupanya memiliki kekasih, bahkan kekasihnya tinggal bersama mereka saat ini. Genevia merasa tidak ada sedikitpun rasa Evan menghargainya sebagai istri dengan mengizinkan kekasihnya tinggal bersama mereka.
Kecewa sudah pasti, namun apalah yang dapat dikata. Jika Evan sebagai tuan rumah mengizinkan, dirinya tidak berhak untuk menolak. Meskipun ia sebagai istri Evan, namun pernikahan mereka memang hanyalah sebatas hubungan bisnis. Jadi dirinya tidak berhak atas apapun terkait Evan.
Genevia juga merasa belum yakin jika harus menyerah. Ia merasa perasaannya kepada Evan akan membuat Evan luluh suatu hari nanti. Namun tidak tahu hal itu kapan akan terjadi.
Lagi pula kesepakatan pernikahan itu baru bisa diakhiri jika bisnis mereka sama sama berhasil dan sukses. Maka jika ia harus menyerah, dirinya pun tidak bisa pergi dari Evan untuk sekarang.
Meskipun ia akan merasa sakit saat melihat kemesraan Evan dan Keiko nantinya, ia akan berusaha untuk tidak perduli dan acuh terhadap mereka. Biarlah waktu yang menjawab bagaimana nasib pernikahan mereka kedepannya.
Jika Evan memang bukan jodoh yang Tuhan kirimkan untuknya, ia hanya berharap hatinya dapat merelakan Evan bersama kekasihnya. Kini ia tak akan banyak berharap, cukup dirinya mencintai Evan meski Evan tak membalas cintanya. Biarlah dirinya mencintai Evan sendiri.
NEXT .......