WINDING LOVE

WINDING LOVE
BUTUH WAKTU



Keesokan harinya, seperti biasanya Evan akan selalu bangun lebih dulu dibanding Genevia. Meski Genevia sempat bangun lebih awal dibandingkan Evan, demi melayani kebutuhan pria itu.


Namun rupanya kebiasaan bangun siangnya begitu sulit diubah. Karena sampai saat ini pun, kebiasaan nya kembali pada awal, dirinya yang sering bangun siang.


Perlahan Evan mendekatkan wajahnya pada Genevia, Ia memberikan kecupan hangat di kening, bibir, dan perut Genevia. "Morning Baby" Sapanya pada calon anaknya dalam perut Genevia.


Kemudian Evan beranjak dari ranjang menuju bathroom untuk segera membersihkan diri. Meninggalkan Genevia yang masih asik mengarungi alam mimpi, bahkan tak terusik sama sekali dengan gerakan ataupun kecupan yang Evan berikan.


Setelah beberapa saat, Evan akhirnya keluar dari bathroom. Karena dirinya sama sekali tak membawa pakaian ganti, akhirnya Evan keluar dari kamar Genevia. Untuk meminjam pakaian pada saudaranya.


Evan melangkahkan kakinya untuk memasuki bangunan megah yang selama ini menjadi tempat persembunyian istrinya. Dengan langkah santai, akhirnya Evan sampai di depan kamar yang Ia yakini milik David dan kembaran Genevia.


Yang Evan belum tahu siapa namanya, dan apa hubungannya dengan saudaranya. Karena semalam dirinya lebih fokus pada Genevia karena begitu bahagia. Kala mendapati Genevia bukanlah wanita yang sedang bercumbu dengan David.


Memikirkan kejadian semalam, Evan teringat dengan bentuk tubuh kembaran istrinya. Dapat dirinya lihat dengan jelas, bahwa wanita itu juga sedang mengandung. Karena hal itu juga semalam Evan tak merasa curiga sama sekali jika wanita itu bukanlah Genevia.


Tak ingin terlalu memikirkan hal-hal yang kurang berguna untuknya. Evan segera mengetuk pintu kamar David dengan keras. Supaya orang yang berada di dalam mendengarkan ketukannya.


Tok tok tok


Bahkan Evan tak memiliki rasa bersalah pun atas kejadian semalam yang membuat David babak belur. Karena baginya apa yang dirinya lakukan sudah cukup benar.


Toh dirinya tak mengetahui bahwa semuanya hanya salah paham. David sendiri pula yang salah, karena tak menjelaskan malah semakin membuat keadaan semakin rumit. Seolah semaunya memang begitu kejadiannya.


Karena tak mendapat jawaban, Evan kembali mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu lagi.


Tok tok tok


"Dav ..." Perkataan Evan terpotong kala David membuka pintu menampilkan wajahnya yang penuh lebam.


"Ada apa?" tanya David yang masih mengantuk.


"Aku tak membawa pakaian, pinjamkan milikmu." Ujar Evan dengan datar.


"Ck pagi-pagi sekali kau mengganggu hanya untuk meminjam pakaian." Kesal David, namun tak urung dirinya kembali masuk untuk mengambilkan pakaian untuk adiknya itu.


Jika Evan tak merasa bersalah atas perbuatannya memukuli David. David pun sama juga tak menyimpan dendam atau kemarahan pada adiknya. Karena dari awal dirinya tahu konsekuensi jika memancing kemarahan Evan.


"Ini, ingat jangan ganggu aku lagi." Peringat David pada Evan.


"Hem." Jawab Evan kemudian berlalu pergi. Tanpa mengucapkan terimakasih pada kakaknya.


Nampaknya sifat dinginnya sama sekali tak hilang dari dirinya. Namun sepertinya Evan akan bisa berlaku hangat pada Genevia. Kemudian Evan melangkahkan kakinya untuk kembali ke kamar Genevia.


Sementara Genevia yang mulai merasa terusik dalam tidurnya, karena tak lagi merasakan dekapan hangat Evan. Dekapan yang selama ini dirinya rindukan sejak lama, apalagi setelah dirinya mengandung.


Genevia mengerjakan matanya perlahan, kemudian menatap sekelilingnya untuk mencari keberadaan Evan. Saat netranya menangkap ruangan bathroom, Genevia menghembuskan nafas kecewa.


"Ternyata masih tetap sama. Sepertinya semalam hanya angan semata." Gumam Genevia tampak kecewa.


Hingga setelah beberapa saat, Genevia mendapati pintu kamarnya terbuka dari luar. Dan menampilkan wajah tampan suaminya yang nampak segar. Rupanya pemikiran salah yang mengira Evan telah pergi.


"Sudah bangun?" tanya Evan pada istrinya.


Genevia hanya menjawab dengan anggukan. "Kau dari mana pagi-pagi begini?" tanya Genevia yang penasaran.


"Meminjam pakaian David." Tutur Evan menjawab.


Kemudian Evan mendekati ke arah Genevia, merengkuh tubuh istrinya yang mulai berisi karena kehamilannya. Kemudian mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pucuk kepala Genevia.


Evan melakukan karena sempat melihat raut kecewa pada wajah istrinya. Tentu dirinya tahu apa yang membuat Genevia memegang raut itu. Pasti karena tak mendapati dirinya berada di samping istrinya itu.


Genevia memejamkan matanya kala mendapati perlakuan manis dari Evan. Genevia menikmati setiap momen seperti ini, yang selama ini selalu dirinya impikan. "Sedikit aneh kau berubah hangat seperti ini." Ujar Genevia berkata jujur.


Evan melepas pelukannya dari Genevia. Kemudian membawa kedua tangan istrinya untuk dirinya kecup. "Mungkin memang akan terasa aneh, tapi aku akan terus berusaha. Agar kau selalu nyaman dan yakin bahwa aku memang mencintaimu."


Genevia terenyuh mendengar perkataan Evan. Sepertinya Evan memang benar mencintai dirinya. Namun tak akan semudah itu untuk memaafkan kesalahan Evan yang lalu. Maka Genevia masih ingin melihat usaha Evan untuk meluluhkan hatinya.


"Boleh aku menyapa baby kita?" tanya Evan meminta izin.


"Tentu saja." Ujar Genevia dengan tersenyum. Senyuman yang selalu Evan rindukan, yang selalu membuat Evan berdebar melihatnya.


"Baby, maafkan Daddy yang baru menerima kehadiran mu. Maaf karena pernah tak terima dengan kehadiran mu. Juga maafkan Daddy karena telah menyakiti perasaan Mommy." Ucap Evan dengan tulus. Kemudian berakhir dengan kecupan di perut Genevia.


Evan tak merubah posisinya, justru Ia merebahkan kepalanya di atas pangkuan Genevia yang sedang duduk di atas ranjang. Pemandangan yang langka untuk dilakukan oleh seorang Evan Sanders.


Meski awalnya Genevia tampak tak percaya dengan tindakan Evan. Namun tak urung, Genevia mengangkat tangannya untuk memberikan usapan pada pucuk kepala Evan yang sedang berada di pangkuannya.


"Apa kau masih belum memaafkan ku?" tanya Evan menikmati usapan lembut tangan Genevia.


"Aku butuh waktu untuk menyembuhkan hatiku Van. Lagipula aku juga belum mendengar kebenaran tentang perkataan Chelsea yang hanya kebohongan." Jelas Genevia yang memang tak bisa memaksakan hatinya.


"Baiklah, nanti kita akan mendengarkan penjelasan dari mereka. Apa kau mau ikut pulang bersama ku?" tanya Evan lagi.


"Sepertinya aku mulai nyaman di sini. Bolehkah aku tetap di sini? Aku juga ingin bersama saudara kembar ku di sini, menikmati masa kehamilan bersama." Tutur Genevia mengingat keseruan mereka saat olahraga dan menghabiskan waktu bersama.


Evan memaklumi keinginan istrinya. Dirinya juga tak akan memaksa, Karen saat ini memang dirinya harus bisa memenuhi keinginan apa yang wanitanya inginkan.


"Baiklah, aku juga akan tinggal di sini. Bersama kalian." Ujar Evan tak ingin jauh dari Genevia juga calon anaknya.


Next .......