
"Jadi Sayang, sekarang kau sudah memaafkan ku ku bukan?" tanya Evan kala mereka tengah di duduk di menikmati udara di depan kamar Genevia yang tampak sejuk dan asri..
Evan tangah memeluk Genevia dengan begitu erat dari arah belakang wanita itu. Mereka terlihat tampak begitu manis dan mesra.
Genevia yang mendengar pertanyaan dari suaminya, menolehkan kepalanya ke arah Evan. Demi melihat ekspresi dan mimik wajah yang sedang Evan tunjukkan pada dirinya.
Rupanya suaminya itu juga tampak menatap ke arahnya. Dengan senyuman manis, Genevia membalas pertanyaan suaminya itu.
"Hm aku sebenarnya sudah memaafkan mu terkait Chelsea. Tapi rasa kecewaku nampaknya masih tersisa atas sikapmu yang begitu acuh dan dingin padaku." Tutur Genevia berujar jujur.
Evan menghela nafasnya berat, karena rupanya sang istri masih belum bisa menerima dirinya sepenuhnya. Evan memakluminya, wajar Genevia seperti itu. Dan semua hal itu disebabkan oleh kesalahannya yang tak memperlakukan Genevia dengan cukup baik.
Bahkan saat mengingat bagaimana dulu dirinya begitu yakin menolah Genevia. Dan tetap bersikap dan berucap teguh, bahwa tak akan membalas perasaan wanita yang tengah mengandung buah hati mereka.
Kini semuanya berbanding terbalik. Seolah Evan telah menjilat ludahnya sendiri. Karena saat ini,sepenuhnya dirinya menyadari bagaimana perasaan cintanya yang begitu dalam untuk wanita yang berstatus istrinya itu.
Evan mengecupi pucuk kepala Genevia, seolah menyalurkan perasaan sayang dan cintanya yang begitu dalam. Mencoba mengungkapkan meski terasa berat dan menyiksa, dirinya akan tetap berusaha.
"It's ok. AKu tetap akan menunggu kau bisa menerima ku dengan sepenuhnya." Jawab Evan menanggapi perkataan Genevia yang masih sulit melupakan rasa kecewanya.
"Kau tak marah?" tanya Genevia takut-takut. Bahkan untuk sekedar menatap wajah suaminya, Genevia tak memiliki keberanian.
Evan tersenyum mendengar perkataan Genevia. Ia membawa tangan sebelahnya untuk merangkum wajah Genevia. Dan dibawanya untuk menatap mata tajamnya.
"Apa aku terlihat marah? Bagaimana mungkin aku bisa marah wanita yang ku cintai." Tutur Evan menatap manik mata Genevia.
Dada Genevia terasa berdebar-debar mendengar perkataan Evan yang terdengar manis. Dirinya serasa dibuat jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada Evan. Sehingga membuat Genevia mengalihkan tatapannya tertunduk, pipinya tampak bersemu merah karena tersipu.
Saat tengah menikmati waktu bersama, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel. Dan rupanya ponsel Evan yang tengah mendapat panggilan dari seseorang.
Tanpa banyak kata, Evan segera mengangkat panggilan itu setelah melihat siapa yang menghubunginya. Tanpa beranjak dari posisinya, Evan menerima panggilan itu tetap dengan memeluk istrinya di depannya.
"Ada apa Kei?" tanya Evan to the point.
Rupanya Keiko yang tengah menghubungi Evan. Sepupu Evan dan David itu upanya menghubungi Evan untuk memastikan tentang hubungan Evan dan Genevia yang telah dikabarkan sudah mulai membaik.
Bagaimana Keiko tahu? Tentu saja informasi itu datangnya dari Chelsea. Karena wanita itu saat ini memang benar-benar kembali ke Jepang setelah berpamitan waktu itu.
"Ya, dia ada di sampingku." Ujar Evan kala Keiko menanyakan keberadaan Genevia.
Evan pun memberikan ponselnya pada Genevia. Hingga dua wanita itu saling bertukar kabar dan juga cerita. Dan Evan hanya dapat memeluk Genevia erat dan menyandarkan kepalanya pada pundak terbuka Genevia. Karena istrinya itu tengah memakai baju dengan tali spaghetti.
Setelah beberapa saat melakukan panggilan, Genevia juga telah banyak berceloteh ria dengan Keiko. Akhirnya mereka mengakhiri panggilan yang sedang berlangsung.
Dengan ucapan selamat pada Genevia. Juga ucapan ambigu dari Genevia tentang Keiko yang sedang diperjuangkan oleh seseorang. Keiko yang tak paham hanya mampu mengiyakan. Karena mungkin Genevia hanya sedang bercanda dan menggodanya.
"Apa maksud mu, Sayang? Siapa yang sedang mengejar Keiko?" tanya Evan dengan penasaran.
Genevia terdiam, mencoba untuk bungkam. Karena dirinya sempat lupa bahwa Evan juga tengah berada di dekatnya. Genevia tak begitu memiliki nyali untuk mengungkapkan kebenarannya.
Genevia khawatir Evan tak akan menyetujui hubungan Keiko dengan Frans kelak. Meski belum tentu mereka memang akan memiliki hubungan, mengingat Frans yang rupanya sampai saat ini belum terbang ke Jepang untuk memperjuangkan Keiko.
Genevia memiliki kekhawatiran jika Evan tak akan mengizinkan Frans untuk mendekati Keiko. Tapi bisa saja Evan mengizinkan, karena Frans adalah sahabatnya.
Namun mengingat tragedi Frans, Chelsea, dan David membuat Genevia menjadi ragu kalau Evan akan mengizinkannya. Genevia baru mengetahui kisah tragedi itu dari Genivee.
"Kau yak ingin menceritakannya padaku?" tanya Evan dengan penuh penekanan. Seolah mempertegas bahwa dirinya harus tahu terkait masalah sepupunya yang berasal dari Jepang itu.
Genevia ragu-ragu untuk menceritakan kebenarannya pada Evan. Namun melihat Evan yang nampak berbicara dengan penuh penekanan, membuat Genevia khawatir Evan akan marah padanya.
Padahal Evan tak akan mungkin bisa marah pada Genevia. Namun Genevia yang dilanda rasa cemas sekaligus gugup, tanpa sadar telah melupakan hal itu.
"Ba ... baiklah, Ada seorang pria yang ingin menyatakan perasaanya pada Keiko dan mengejarnya. Pria itu datang padaku dan meminta bantuanku. Dia adalah sahabatmu Van, Frans." Jelas Genevia dengan pelan dan hati-hati. Demi melihat respon suaminya itu. Takut saja, bila Evan akan murka dan malah mengamuk padanya.
Nampaknya dirinya masih terbayang-bayang dengan segala perlakuan Evan yang selama ini telah menorehkan luka di hatinya. Hingga Genevia merasa begitu khawatir dan memiliki ketakutan tersendiri, bila Evan akan berlaku sama seperti sebelum-sebelumnya.
Evan menghela nafas lega, dan hal itu tak luput dari pendengaran Genevia. Hingga membuat wanita itu menoleh pada suaminya, untuk melihat ekspresi prianya saat mendengar informasi darinya.
"Aku sudah menduganya, pria itu rupanya benar-benar menyukai Keiko?" Ujar Evan dengan terkekeh.
Semenjak mengungkap perasaannya pada Genevia, Evan yang berniat meluluhkan hati Genevia selalu berusaha mengikuti dan melakukan apa yang wanitanya inginkan. Termasuk untuk sering menampilkan senyuman pada bibirnya yang selama ini terasa kaku untuk melakukan hal itu.
Hingga kini usahanya itu perlahan membawa perubahan. Karena saat ini Evan juga sering terkekeh atau tertawa kecil jika menyangkut hal-hal yang terasa lucu. Seperti saat ini, saat mengetahui tebakannya selama ini benar. Bahwa Frans, sahabatnya rupanya menyukai sepupunya dari Jepang itu.
...*******...
Sementara di tempat yang sama, namun ruangan yang berbeda. Genivee dan David tampak mengintai Evan dan Genevia yang berada di luar. Mereka ingin tahu bagaimana perkembangan hubungan mereka.
Bukan untuk hanya sekedar kepo, melainkan demi kebahagiaan mereka semua. Karena mereka juga akan menjadi piha yang paling bersedih, jika terjadi hal-hal buruk terjadi pada hubungan mereka.
"Sepertinya hubungan mereka sudah membaik" ujar Genivee yang berada di pangkuan David.
Sementara David menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ucapan wanitanya. David tengah duduk memangku Genivee dia atas sofa yang mengarah ke arah di mana Genevia dan Evan sedang bermesraan.
"Ini kabar yang baik. Dan sebentar lagi orang tua kita pasti akan segera menghubungi." Jelas David menebak.
Next .......