
Genivee mendengus mendengar gombalan yang David lontarkan. Pria nya itu selalu bisa membuat mood nya kembali membaik juga tak urung menjadi buruk.
"Dav, jika aku tak bisa selamat saat memperjuangkan anak kita. Apa kau akan mencari pengganti ku nantinya?" tanya Genivee yang tiba-tiba merasa takut dengan takdirnya di masa yang akan datang.
Usia kehamilan nya semakin membesar, membuat dirinya semakin merasa takut juga cemas. Takut jika tak bisa selamat, tak bisa melihat bayi yang selama sembilan bulan dirinya kandung. Juga takut jika David akan mencari orang lain kala dirinya harus pergi meninggalkan mereka.
David yang mendengar perkataan Genivee merasa terkejut, detik kemudian tampak kemarahan dalam ekspresi nya. Namun sebisa mungkin David tak menunjukkan nya, karena dirinya mengerti.
Istrinya hanya sedang cemas menjelang persalinan. Karena David yakin Genivee bisa berjuang melahirkan anak mereka dengan selamat. Kalaupun tidak, David juga kan ikut Genivee kemanapun wanita itu pergi. Sekalipun ke alam lain.
Namun David tak mau memikirkan hal itu sama sekali. Genivee harus terus bersamanya selamanya. Tak boleh Genivee pergi dari sisinya meskipun hanya sekejap saja.
"Kita akan berjuang bersama, Sayang. Anak-anak kita sangat menyayangi mu, jadi tak akan membuat Mommy nya merasa kesulitan." Jelas David berusaha memberikan motivasi untuk istrinya.
"Ya aku harap juga begitu. Tapi jika benar terjadi, apa kau akan melupakan ku dan mencari pengganti ku Dav?" tanya Genivee merasa penasaran sekaligus takut dengan jawaban David nantinya.
"Tentu saja ..." David sengaja menjeda ucapannya.
Genivee tampak murung mendengar jawaban yang David berikan. Pikirannya tampak berkelana kemana-mana membayangkan David berdampingan dengan orang lain. Hatinya merasa sakit dan nyeri. Dan David menyadari hal itu.
Genivee begitu mencintai David, tak sanggup bila membayangkan pria itu dimiliki oleh orang lain. Sekalipun David pernah menyakiti hatinya, namun tak membuat perasaan nya pada David hilang atau pudar.
Begitupun juga sebaliknya. David juga tak sanggup bila harus kehilangan Genivee. Genivee adalah tempatnya pulang, David merasa tak memiliki rumah lagi jika Genivee pergi dari sisinya. David juga tak ingin membayangkan hal itu terjadi.
"Tentu saja tidak, Sayang." Jawab David dengan tegas. Membuat Genivee menatap ke arahnya.
"Benarkah?" tanyanya tak percaya.
"Tentu saja, Sayang. Sekalipun hal itu terjadi, aku juga akan ikut menyusul mu. Kita akan pergi bersama kemanapun itu." Tegas David dengan mengunci tatapannya pada netra indah sang istri.
Genivee melebarkan senyumannya. Mendengar jawaban David, cukup membuat hatinya merasa puas. Meski semuanya tak akan berjalan sesuai harapan terkadang, namun Genivee berharap yang terbaik untuk mereka semua.
"Kita masuk ke dalam, di sini terlalu dingin Sayang." Tutur David mengusap lembut perut buncit Genivee. Dan meninggalkan kecupan di pipi mulus istrinya itu.
"Baiklah, aku jga merasa mengantuk." Ujar Genivee dengan jujur.
Mereka memasuki kamar, David menutup kembali pintu ke arah balkon supaya udara dingin dari luar tak sampai masuk ke dalam kamar mereka. Kemudian dirinya bergabung bersama istri nya yang telah terbaring lelah di ranjang mereka.
Memposisikan diri di samping Genivee, David menelusup kan tangannya untuk memeluk perut buncit Genivee dan memberi usapan lembut di sana. "Tidur yang nyenyak, kesayangan-kesayangan Daddy." Gumamnya berakhir mendaratkan kecupan di pelipis Genivee.
...***...
Sementara Evan dan Genevia tengah berkutat di dapur. Genevia yang tiba-tiba ingin memakan masakan Evan, membuat mereka akhirnya bergegas bangkit dari tempat tidur.
Genevia tengah duduk termenung menyaksikan bagaimana seksinya Evan saat tengah serius memasak untuknya. Evan Sanders, pengusaha terkenal dan tersohor, tengah berkutat di dapur demi istri dan anaknya yang masih dalam kandungan.
"Van, apa David dan Genivee sudah tidur?" tanya Genevia memecah keheningan diantara mereka.
Membuat Genevia menjadi bingung. "Lebih dari tidur?" tanya nya penasaran.
"Hem Genivee sedang marah karena David menjadi pusat perhatian para wanita." Jelas Evan dengan santainya.
Jawaban Evan membuat Genevia mendelik, begitu santainya Evan berucap. Padahal Evan pun juga sama menjadi perhatian banyak wanita saat acara berlangsung. Namun Genevia tak mempermasalahkan hal itu.
Namun mendengar Genivee rupanya mempermasalahkan, membuat Genevia menjadi berpikir kembali. Tiba-tiba dirinya merasa ingin melakukan hal yang sama seperti apa yang Genivee lakukan. Marah pada suami nya.
"Kau juga sama, para wanita itu juga begitu intens memperhatikan." Ujar Genevia dengan ketus.
Dan Evan merutuki dirinya sendiri, mengapa harus memberikan info konyol seperti itu pada istrinya. Jika seperti ini, dirinya juga yang akan merasa kesulitan. Apalagi mood ibu hamil benar-benar diluar nalar. Tak dapat dirinya terka.
"Sayang, itu urusan mereka. Yang terpenting aku dan seluruh atensi ku hanya milik mu dan terarah padamu." Tutur Evan membujuk istrinya.
Evan mendekati Genevia dengan membawa makanan hasil karya nya. Kemudian tangannya merengkuh Genevia dari samping, supaya bumil satu ini bisa tenang tak lagi berniat merajuk seperti saudara kembar nya.
"Terserah kau saja. Jika kau berpaling dari ku, aku juga akan mencari yang jauh lebih baik darimu." Ujar Genevia tak ingin memusingkan hal-hal yang tidak-tidak.
Tentu saja itu hanya ucapan di lidah saja. Dalam hatinya tak akan mau Evan digantikan oleh siapapun. Evan, satu-satunya pria yang dirinya cintai selamanya.
Justru Evan yang naik tensi mendengar jawaban Genevia. Tak akan dirinya biarkan wanita nya mencari pengganti dirinya. "Sayang, jangan bicara macam-macam. Kau hanya milikku selamanya. Begitupun sebaliknya." Tegas Evan merasa tak rela Genevia memikirkan hal-hal seperti itu.
Genevia tak lagi menanggapi perkataan Evan. Mulutnya tengah sibuk menikmati makanan yang telah Evan buatkan. Rupanya enak juga suaminya memasak. Meskipun harus melihat panduan resep tadi, namun rasanya cukup menjamin untuk pemula.
"Apakah enak?" tanya Evan penasaran.
"Ehm" jawab Genevia bergumam dengan mengangguk kan kepalanya. Mulutnya penuh dengan makanan, hingga tak mampu menjawab pertanyaan suaminya.
"Baiklah, habiskan Sayang. Supaya baby kita juga sehat dan kenyang." Tutur Evan.
Setelah beberapa menit, Genevia akhirnya menyelesaikan acara makannya. Kemudian mereka membereskan perlengkapan masak yang sudah mereka gunakan.
"Sayang, apa setelah melahirkan kita juga akan pindah ke Amerika?" Tanya Genevia yang merasa ingin tahu.
Sejujurnya dirinya tak ingin, karena kedua orangtuanya berada di Eropa. Lagipula David dan Genivee juga akan pindah ke sana.
"Ada apa Sayang, apa kau tak ingin?" tanya Evan, tangannya masih sibuk membersihkan bekas peralatan yang dirinya pakai tadi.
"Iya. Aku ingin di sini saja dengan kedua orangtua ku." Ujar Genevia.
Dan Evan mengangguk mengerti, dirinya memang tetap akan tinggal di Eropa bersama istrinya itu. Karena bisnis Evan berada di sini, bukan di Amerika.
...-Selesai-...