
Evan yang sedang mengemudikan kendaraannya menunju lokasi di mana istrinya berada. Tak peduli dengan keberadaan sebuah mobil yang tampak mengikuti kendaraan di belakang.
Fokusnya hanya ingin segera bertemu dengan sang istri, yang belum juga dirinya sadari sudah ia cintai atau belum. Tentu Evan juga sudah menebak siapa yang sedang mengikutinya sejak tadi.
Karena seseorang yang saat ini berusaha membuntuti dirinya itu, memang sejak tadi memaksa untuk ikut dengannya untuk menemui Genevia.
Entah apa tujuan pasti wanita itu, namun Evan tak ingin kedatangan mereka yang bersamaan akan menyebabkan Genevia semakin percaya dengan kebohongan yang telah dibuat oleh wanita itu.
Saat tengah fokus, konsentrasi Evan kembali dibuyarkan okeh sering ponselnya. Saat Evan mencoba mengecek siapa yang menghubunginya, hanya decakan yang keluar dari bibirnya.
Karena rupanya Chelsea yang tengah menghubungi ke nomor Evan. Meski nomor itu tak tersimpan di kontaknya, namun Evan cukup paham dengan deretan angka itu. Karena tak cukup sekali, wanita itu mencoba mengganggu ketenangan hidupnya selama ini.
Hanya dengan alibi agar dirinya segera memberitahu keberadaan David, yang merupakan mantan kekasih wanita itu. Juga merupakan kakak kandungnya.
"Ck wanita itu benar-benar menganggu." Ujar Evan segera menolak panggilan itu.
Karena tak mungkin bagi dirinya untuk mematikan ponsel, karena takut akan kesulitan mendapatkan informasi dari orang-orangnya. Yang sampai saat ini, masih setia mengintai keberadaan Genevia.
Sementara Chelsea menjadi kesal dengan perbuatan Evan yang sejak tadi selalu menolak panggilan darinya.
"Jika bukan karena ingin bertemu David, aku juga tak sudi terus berhubungan dengan pria dingin seperti mu." Ujar Chelsea kesal meremas kasar ponselnya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu, pada akhirnya Evan sampai di lokasi di mana Genevia berada. Sesuai petunjuk yang orang-orangnya berikan. Evan menghentikan kendaraannya dan segera keluar kendaraan nya itu.
Tak lupa, wanita yang sejak tadi mengikuti Evan juga meminta sang pengemudi memberhentikan kendaraan mereka. Chelsea juga ikut turun bersama Evan untuk memastikan tempat yang mereka datangi ini memang tepat.
Mereka sampai di tempat itu, saat hari sudah gelap. Jarak yang lumayan jauh, membuat mereka memakan banyak waktu untuk menempuh perjalanan. Sehingga mereka tiba di sana, saat hari telah malam.
"Apa kau yakin, di sini tempatnya?" tanya Chelsea yang telah berada dekat di samping Evan.
Namun Evan tak menghiraukan sama sekali ucapan wanita itu. Dirinya fokus menatap ke arah balkon bangunan yang Ia yakini sebagai tempat persembunyian Genevia.
Evan tampak menangkap bayangan tubuh seseorang, saat dirinya berusaha memfokuskan pandangannya. Terlihat dengan jelas bahwa yang dirinya lihat, adalah seorang wanita cantik. Benar itu adalah istrinya, Genevia.
"Akhirnya aku menemukanmu." Gumam Evan menatap dengan binar gembira wanita cantik itu. Namun wajah datar dan dinginnya tak pernah tertinggal.
Chelsea yang nampak diabaikan sejak tadi oleh Evan. Ikut menatap di mana pria itu melihat. Karena dirinya juga dapat mendengarkan gumaman pria itu.
Chelsea juga dapat melihat Genevia di sana. Wanita itu tampak tersenyum bahagia menatap bintang atau langit. Dirinya juga tak terlalu paham dengan apa yang ada di pikiran wanita itu.
"Baiknya kita segera menemuinya." Tutur Chelsea memberikan saran.
Supaya dirinya juga segera dapat bertemu dengan David. Tak dapat dipungkiri Chelsea merasa amat bahagia, pada akhirnya dapat menemukan dan bertemu kembali dengan mantan kekasihnya itu.
Pria itu tak ingin ambil resiko jika Chelsea sampai mengikuti dirinya masuk ke dalam untuk menemui Genevia. Karena jelas Genevia tentu saja akan kembali salah paham.
Tanpa menunggu jawaban Chelsea, Evan bergegas melangkahkan kakinya untuk segera menuju bangunan megah itu. Di mana, istrinya sedang terdiam menatap indahnya langit.
Sementara Chelsea yang mendapat ancaman dari Evan, tak sedikitpun melangkahkan kakinya untuk mengikuti pria itu. Wanita itu bahkan diam terpaku, seolah tak mampu untuk bergerak.
Bukan ancaman dari Evan yang membuat dirinya nampak terdiam membeku. Namun pandangan yang saat ini dirinya lihat, yang membuat dirinya tak mampu berucap. Bahkan hanya untuk membuka bibirnya sedikit pun.
Tampak ketidakpercayaannya pada sinar wajahnya. Seolah yang saat ini dirinya saksikan bukanlah hal yang nyata. Dengan mengumpulkan segala kekuatannya, Chelsea berusaha berteriak pada Evan yang sedang melangkah pergi.
"Berhenti Evan!" Teriaknya memanggil Evan.
Evan nampak berhenti dan menoleh ke belakang, tanpa membalikkan badannya. Matanya menatap tajam Chelsea seolah bertanya "ck apa mau mu?!."
Chelsea yang tak mampu berucap apapun lagi, menggerakkan tangannya dengan bergetar. Menunjuk ke arah di mana Genevia berada. Evan juga dapat melihat mata wanita yang berdiri terpaku itu, tampak terlihat sendu.
Tentu hal itu membuat Evan menjadi penasaran dengan apa yang sedang disaksikan oleh Chelsea. Tanpa berlama-lama, Evan segera mendongakkan kepalanya ke atas di mana Chelsea menunjukkan.
Deg
Jantung Evan terasa berhenti berdetak saat itu juga. Kala melihat seseorang yang sedang sejak tadi ingin segera dirinya temui sedang bercumbu mesra bersama seorang pria.
Ya, Evan dapat melihat dengan jelas di atas balkon di mana Genevia berada sejak tadi. Evan juga mengenali siapa pria yang saat ini sedang menikmati bibir wanitanya.
David Sanders, kakak sulungnya yang selama ini tak pernah ada kabar. Yang selama ini mengasingkan diri dari dunia luar. Evan tak menyangka akan melihat saudaranya yang selama ini ingin dirinya temui, sedang bersama istrinya. Seseorang yang tengah mengandung darah dagingnya.
Dada Evan nampak sesak melihat pemandangan tak mengenakkan itu. Evan tak mampu berpikir apapun. Dengan langkah tegas, Evan segera melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam bangunan itu. Demi menghentikan kegiatan dua insan yang tengah bercumbu mesra itu.
Karena saat ini kedua insan yang sejak tadi bermesraan itu, sudah meninggalkan balkon. Tentu Evan paham apa yang akan terjadi selanjutnya dengan mereka. Apa yang akan mereka lakukan di dalam kamar itu.
"David ..." Chelsea tampak meneteskan air mata nya dengan deras.
Merasa tak menyangka, akan melihat pria yang Ia cintai sedang melakukan adegan seintim itu dengan wanita lain. Bahkan dengan adik iparnya sendiri, yang adalah istri dari Evan. Yang merupakan adik kandung David.
Namun tak urung, Chelsea pun juga mengikuti langkah kaki Evan. Untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya. Apa yang dirinya lihat benar nyata, atau hanya bayangan semata.
Evan yang tak sabar untuk menghentikan kegiatan dua insan yang sedang bercumbu itu, segera mendobrak pintu masuk bangunan megah itu.
Tanpa banyak berucap, melangkahkan kakinya menuju ruang kamar di mana keberadaan Genevia dan David berada.
Next .......