
Bukan tak ingin membantu Genevia, Evan, ataupun wanitanya yang ia cintai. Namun David merasa tidak berhak untuk ikut campur dengan urusan pernikahan sang asik. Terlebih, saat ini pernikahannya juga tidak tampak begitu baik.
Karena Genivee masih belum memberikan dirinya kepercayaan kembali. Di satu sisi dirinya masih harus memperjuangkan kepercayaan ibu dari anaknya, namun di sisi lain ia juga ingin membantu namun tidak memiliki hak. Setelah berpikir sebentar, David telah memutuskan apa yang harus dirinya lakukan.l
“Aku tidak bisa membantu mereka untuk saat ini Kei, aku juga sedang ada masalah dengan Genivee. Lagi pula, biarkan Genevia berusaha untuk saat ini. Kemungkinan dia mampu meluluhkan hati adikku, melihat bagaimana watak keras kepalanya.” Jelas David dengan tegas.
Dirinya memahami watak keras kepala Genevia melalui Genivee yang selama ini senantiasa menceritakan bagaimana kakak dari istrinya itu.
“Baiklah, aku setuju dengan keputusanmu. Hanya saja aku harap bantuan mu tak akan terlambat.” Ujar Keiko.
...🥀🥀🥀...
“Apa kau tak merindukan kakakmu Vee?” tanya Genevia yang masih tampak mengerucutkan bibirnya, yang sedang merasa badmood.
Genivee menoleh pada Genevia dan memeluk kakaknya lagi, ia terisak di pelukan kakaknya. Sedih dan terharu, antara masih kesal dan sedih karena perbuatan David namun juga haru dan bahagia dengan kedatangan kakak kembarnya itu.
Setelah berhasil membujuk calon ibu yang sedang merajuk untuk membukakan pintu, akhirnya Genevia berhasil masuk kedalam kamar Genivee dan David.
Pasangan yang baru kemarin resmi menjadi pasangan suami-istri. Genevia mencoba mendekati Genivee yang berubag sensitiv seperti ucapan kedua orangtuanya dan David. Dirinya akan membantu menjelaskan hubungan darah antara David dan Keiko.
“Apa kau tahu Vee hubungan diantara David dan Keiko?” tanya Genevia mencoba menenangkan adiknya dengan mengusap lembut punggung wanita yang saat ini sedang berbadan dua itu.
Meski awalnya kecewa setelah kedua orang tuanya menjelaskan bahwa Genivee hamil sebelum menikah, namun tidak ada hal yang dapat di ulang kembali.
Genevia hanya dapat berharap, adiknya dapat menjadi seorang ibu yang baik untuk bayinya kelak yang saat ini masih dalam kandungan Genivee.
Mendengar pertanyaan kakaknya, Genviee hanya mampu menggelngkan kepalanya, tanda bahwa dirinya tidak mengetahui hubungan aa yang terjalin oleh suaminya dan wanita yang datang bersama kakaknya.
Yang ia tahu, hatinya merasa sedih dan tidak rela David dipeluk oleh wanita lain. Terlebih wanita itu begitu cantik dan terlihat seksi. Meski sebenarnya Genivee tak kalah cantik, namun rasa cemburunya seolah menepis segala yang ada pada dirinya.
“Mereka hanya saudara sepupu Vee, Keiko dan David telah lama tidak bertemu. Wajar jika melihat David yang lama tidak Keiko lihat, kemudian berada di hadapannya secara nyata. Keiko tentu reflek melakukan hal itu, karena merindukan kakak sepupunya.” Jelasnya pada Genivee yang masih terisak pelan mendengar penjelasan darinya.
Dalam hati, Genivee merasa lega karena pada kenyataannya David dan Keiko merupakah sepupu. Bukan seperti yang dirinya pikirkan, memiliki hubungan spesial atau teman wanita David.
Namun tetap saja hatinya tidak rela melihat Keiko yang memeluk David, membuat sisi lain pada hatinya merasa sesak dan panas.
“Tenanglah Vee, kasihan kepnakanku kalau kau tidak berhenti menangis. Bukankah dia juga akan ikut merasa sedih?” Ujar Genevia mengusap lembut perut adiknya, di mana tempat keponakannya berada.
Mendengar ucapan kakaknya mengenai bayi dalam kandungannya, Genevia nampak tersentak dan mulai menghentikan isakannya. Dirinya ikut mengarahkan tangannya untuk mengusap di mana bayinya tengah bersemayam, seolah menenangkan bayinya dan menyesal karena telah bersedih tanpa memikirkan anak dalam kandungannya.
Genevia meminta adiknya itu untuk duduk di samping David yang telah menyambutnya dengan senyuman manis di bibirnya. Dan mereka memulai makan malam dengan binar bahagia dengan berkumpulnya mereka semua membuat suasana tampak ramai dan ceria.
Tapi tiba-tiba terlintas bayangan Evan dalam pikiran Genevia. Padahal masih berjarak beberapa jam, dirinya tak bertrmu dengan suaminya itu. Namun kini hatinya merasa rindu kepada Evan yang sedang berada di rumah.
Ingin rasanya Genevia pulang untuk menemani Evan tidur malam ini, dan tak jadi menginap. Namun hal itu sunggguh tidak mungkin, karena dirinya terlihat berlebihan jika melakukan hal itu.
Menepis segala pikiran-pikirannya tentang Evan, Genevia kembali menikmati makanannya dengan melihat bagaimana lucunya Genivee yang sedang dibujuk oleh David.
“Baby ingin makan apa?” tanya David mendekatkan wajahnya di depan perut Genivee.
Wanitanya yang baru saja merajuk sepertinya telah berhenti marah. Kini ia mencoba mendekati Genivee dengan sikap-sikap hangatnya.
Sontak hal itu membuat Genivee merasa malu dengan semua orang yang menyaksikan tindakan David.
Sedangkan yang lainnya tersenyum dan terkekeh melihat bagaimana kelakuan David yang membuat Genivee menjadi tersipu.
“Dav berhentilah, aku malu.” Bisiknya dengan pelan untuk membuat David berhenti melakukan hal-hal yang membuatnya tersipu di depan keluarganya.
“No, mereka akan maklum melihat bagaimana keromantisan kita.” Ujar David kepada Genivee. Dan hanya dapat ditanggapi Genivee dengan helaan nafas pasrah.
Melihat interaksi Genivee dan David, Genevia kemabli teringat Evan. Benar apa yang Keiko katakan, David memiliki sifat yang jauh berbeda dari Evan. David terlihat hangat dan perhatian terhadap Genivee, berbeda dengan Evan yang dingin dan tampak acuh terhadap dirinya.
Namun satu hal yang membuatnya seakan tertampar oleh kenyataan. David dapat bersikap hangat dan penuh pehatian karena pria itu sangat mencintai adiknya. Bahkan setiap saat, Genevia dapat melihat bagaimana tatapan David yang penuh cinta dan memuja.
Kini ia sadar, Evan bukan tak bisa bersikap hangat padanya. Tapi pria itu tidak mencintainya, hingga tak ada alasan untuk membuat Evan harus bersikap hangat pada dirinya.
Entah mengapa untuk detik ini, segala kepercayaan dirinya yaang merasa Evan sungguh mencintai dirinya hancur seketika. Selama ini Genevia percaya Evan mencintainya karena perlakuan hangat nan lembut pria itu saat mereka sedang bercinta.
Namun kini setelah ia pikirkan, itu artinya Evan hanya mencintai tubuhnya dan kenikmatan yang mereka raih. Bukan karena cinta pada dirinya, cinta pada seorang Genevia.
Memikirkan hal itu, tiba-tiba membuat hatinya sakit. Genevia kembali terluka dengan cinta sepihak yang dialaminya.
Jika boleh memilih, Genevia ingin perasaannya pada Evan hilang sehingga dirinya tak perlu merasa sakit dan terluka seperti ini karena lelah selalu berharap pada hal yang hampir mustahil.
Mendapatkan hati seorang Evan Sanders rupanya tak semudah dalam pikirannya. Dirinya ingin menyerah, namun hatinya tidak siap jauh dari Evan.
NEXT .......