WINDING LOVE

WINDING LOVE
MASIH MENCINTAI



Evan pulang dari kantor saat Genevia dan Keiko makan bersama. Jelas hal itu membuat tanda tanya di dalam pikiran Evan. Bagaimana bisa dua wanita yang biasanya saling bermusuhan kini tampak dekat dan akrab.


Evan menatap heran ke arah meraka. Namun ia mencoba tidak peduli, nanti akan ia tanyakan kepada Keiko apa yang terjadi.


"Apa yang terjadi pada kalian? Bukankah dia menganggap mu rival, lalu bagaimana kalian bisa sedekat itu?" Tanya Evan.


"Aku sudah mengakui semuanya bahwa selama ini kau dan aku hanya melakukan sandiwara. Itu alasannya sehingga kami bisa akrab." Jelas Keiko tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Sontak perkataan Keiko membuat Evan menahan kekesalannya. Bagaimana mungkin semua rencana yang dirinya susun harus hancur begitu saja hanya gara-gara pengakuan Keiko yang tak berdasar.


"Kau benar-benar menghancurkan semua rencana ku." Ujarnya melangkah pergi. Namun langkahnya terhenti kala mendengar pertanyaan Keiko.


"Apa kau tidak merasa sedikitpun rasa iba ketika melihat dia terluka saat melihat kebersamaan kita?" tanya Keiko kepada sepupunya.


Evan tampak diam tak menjawab, kemudian meneruskan langkahnya untuk pergi ke kamarnya.


Saat di kamar ia dikejutkan dengan kehadiran Genevia yang berada di dalam kamarnya. Istrinya itu tersenyum manis kepadanya, senyuman yang lama tidak ia lihat. Membuat Evan teringat pertanyaan dari Keiko tadi.


Selama ini dengan sengaja melukai hati Genevia untuk membuat wanita yang berstatus istrinya itu melupakan perasaan kepadanya. Dan semua sandiwara yang Evan ciptakan tanpa ia sadari telah menghilangkan senyuman manis yang sedang ia lihat saat ini.


Selama ini dirinya yang membuat senyuman itu hilang dari wajah cantik yang selalu terlihat ceria kala memandangnya. Namun dua bulan terakhir, wajah ceria, senyuman manis, dan perlakuan hangatnya tak lagi Evan rasakan.


Benarkah, ia begitu tidak berperasaan telah menciptakan semua luka itu? Dengan semua nurani itu Evan mulai menyadari, namun egonya lebih tinggi. Dan akhirnya Evan membenarkan tindakannya. Dan jika Genevia sakit dan terluka semua itu memang kesalahan wanita itu sendiri yang masih kekeh untuk mencintainya.


"Mengapa kau di sini?" tanya Evan mengalihkan pandangannya dari Genevia. Ia sibuk menyiapkan diri untuk segera tidur.


Senyuman Genevia tidak surut, ia masih tersenyum memperlihatkan kehangatan nya kembali pada suaminya itu.


"Aku sudah tahu semuanya. Kei juga pasti telah memberitahu mu. Aku lega karena kalian tidak benar-benar memiliki hubungan." Ujar Genevia kepada Evan.


Mendengar ucapan Genevia, Evan menatap istrinya itu.


"Kau salah Van, perasaanku tak pernah sedikit pun berkurang ataupun pudar. Aku masih mencintaimu sampai saat ini. Meski kau melarang, aku tetap akan melakukannya." Jelas Genevia dengan tegas.


Mendengar perkataan Genevia, sontak rahang Evan mengeras. Ia tidak terima jika Genevia masih memiliki perasaan padanya.


"Apa aku harus mencari kekasih sungguhan untuk membuatmu melupakan perasaanmu padaku? Atau aku harus menikah lagi agar kau mau melepaskan perasaanmu itu."


"Aku yakin kau tidak akan melakukannya." Ujar Genevia dengan tersenyum.


"Apa yang membuatmu yakin aku tak akan melakukannya? Apa yang membuat mu tak menyerah pada perasaanmu itu? Apa kau berpikir aku akan membalas perasaanmu?." Tanya Evan menatap sinis Genevia.


Genevia mengangguk, "Kau akan membalas perasaanku Van, saat ini kau hanya belum menyadari adanya perasaan itu." Ujar Genevia memberitahukan Evan supaya pria itu sadar.


Evan mendekati Genevia dan menatap tajam mata Genevia. "Camkan ini, sampai kapan pun aku tak akan pernah membalas perasaan mu." Tegas Evan.


Genevia hanya mampu menunduk mendengar perkataan Evan. Benarkah dirinya yang salah karena terlalu berharap Evan akan mencintainya? Sedangkan pria itu sendiri yakin tidak akan pernah bisa mencintainya.


Genevia berusaha menghapus air matanya yang berjatuhan membasahi wajahnya. Ia mengangkat wajahnya untuk menatap Evan. Dengan mata sendu dan sayunya, ia menatap pria yang sampai saat ini masih ia cintai.


"Bisakah kau berikan aku waktu, untuk membuatmu jatuh cinta padaku dan membalas perasaanku?" tanya Genevia dengan harap.


Evan tak dapat berkata apa-apa lagi. Melihat Genevia ia merasa tidak tega sebenarnya, namun egonya mengalahkan semuanya.


"Terserah apa yang ingin kau lakukan." Ujar Evan akhirnya.


Dan dibalas senyuman oleh Genevia, menandakan Evan yang memberinya izin.


NEXT .......