
David terkejut dengan suara istrinya yang langsung menyahut. Wanitanya datang dengan tiba-tiba dan mengklaim dirinya, hatinya merasa berbunga-bunga.
Tak hanya David, Chelsea juga terkejut mendengar sahutan wanita yang datang tiba-tiba diantara obrolan dirinya dan David. Rupanya Genevia, dan hal itu membuat Chelsea semakin heran.
Bukankah Evan sedang mengajak Genevia untuk berbicara, lalu mengapa Genevia sudah kembali ke dalam kamar ini lagi. Namun pemikirannya segera hilang, kala mendengar perkataan wanita itu pada David.
David yang hatinya merasa hangat dengan perkataan Genivee yang menyatakan dirinya milik wanitanya. Harus merasa seolah terhempas, kala tatapan tajam dan pertanyaan mematikan itu menusuk gendang telinganya.
"Sa ...sayang, aku tak menanggapinya. Tadi dia ingin mengobati lukaku, tapi aku menolaknya dengan tegas." Jelas David mendekatkan diri pada Genivee yang masih menatapnya dengan tajam.
Setelah berhasil mendekat, David segera membawa Genivee dalam pelukannya. Mood wanitanya memang sensitif setelah kehamilannya. Dan pelukan darinya, merupakan salah satu cara jitu untuk membaut tenang istrinya itu.
"Jangan dekat-dekat dengannya, atau aku dan baby-baby kita akan pergi darimu." Ancam Genivee dalam pelukan David.
Dan semua itu disaksikan dengan jelas oleh Chelsea. Wanita itu memandang jijik ke arah pasangan yang saling berpelukan itu. Bagaimana mungkin mereka menunjukkan kemesraan begitu intens, padahal mereka hanya pasangan yang mengkhianati Evan.
"Kalian sungguh menggelikan. Kau benar-benar berubah Dav, sampai hati kau menyakiti perasaan adik kandung mu? hanya karena wanita tak setia sepertinya?" Sindir Chelsea dengan ketus.
Genivee yang mendengar hinaan wanita itu merasa geram. Namun saat akan melepaskan pelukannya, dan membalas perkataan Chelsea. David menahannya, hingga suara David mengisi keheningan yang terjadi beberapa saat.
"Kau tak berhak mengatakan hal buruk pada wanita ku. Padahal perkataan itu lebih pantas untuk mu." Jawab David dengan kasar.
David sengaja membuat Genivee tetap seolah Genevia, demi membuat Evan segera menyadari perasaannya pada Genevia. Padahal Genevia saat ini sudah terlelap di kamar belakang. Kamar yang terpisah dari bangunan ini, namun masih dalam areanya.
Keinginan Genevia yang memilih kamar di luar, selain karena ingin puas melihat sekeliling pemandangan asri. Rupanya juga berdampak baik pada hal-hal urgent seperti ini.
Dengan keberadaan kamar Genevia yang berjarak, tak akan membuat Genevia mengetahui apa yang saat ini sedang terjadi. Selain itu, dirinya juga bisa dengan mudah untuk menjalankan rencananya menguji perasaan Evan pada adik iparnya itu.
Chelsea menggeleng kan kepalanya lemah. Merasa tak menyangka David akan bersikap seperti itu. Namun ada yang membuat dirinya merasa tercengang sekaligus terkejut.
Dan Chelsea baru menyadari, perkataan baby-baby. Apakah mereka menjalin hubungan telah lama? mengapa seolah janin dalam kandungan Genevia adalah milik David, bukan milik Evan.
"Dav, apakah janin dalam kandungannya adalah milikmu?" tanya Chelsea dengan bibir bergetar. Tak sanggup mendengar kenyataan yang ada.
Tanpa mereka sadari, Evan telah berdiri tegak di belakang pintu yang saat ini tertutup namun tak rapat. Evan dapat mendengar jelas semua perkataan mereka. Tentang ancaman wanita yang Ia pikir Genevia, juga perkataan Chelsea yang merasa curiga.
Evan bisa saja masuk ke dalam untuk kembali memberikan bogem mentah pada saudaranya itu. Namun mendengar dan melihat Genevia yang begitu terlihat mencintai David, membuat Evan mengurung kan niat.
Bukan karena tak ingin, namun langkahnya serasa tak sanggup setelah mendengar kemungkinan besar janin dalam kandungan Genevia adalah milik saudaranya. Bukan miliknya. Evan mengepalkan tangannya erat, bahkan buku-buku tangannya sampai tampak memutih.
Evan berpikir sejak kapan mereka menjalin hubungan. Jika benar janin itu milik David, berarti selama ini, Genevia telah bermain di belakangnya. Rasanya Evan ingin menampik hal itu, karena Genevia sepertinya sering di rumah atau pergi ke kampus. Jarang keluar ke tempat lain.
Mungkin mereka tak saling mengetahui, jika ada hubungan ipar diantara mereka. Mengingat pernikahan mereka yang dirahasiakan. Juga Genevia pasti tak mengetahui wajah kakak sulungnya, karena David selama ini cukup lama mengasingkan diri.
Namun apapun alasannya, mereka tetap melakukan pengkhianatan. Genevia dan David telah bermain di belakangnya, baik mereka saling mengenal atau tidak. Kenyataan nya memang seperti itu.
Evan merasa dadanya sesak mengingat pengkhianatan yang mereka lakukan. Dirinya tampak diam dan menatap ke atas, guna menahan sesuatu yang seakan ingin mendobrak keluar dari matanya.
Mengingat segala kilas masa lalu setelah pernikahan nya bersama Genevia. Evan menyesali setiap hal yang membuat Genevia terluka atas sikap-sikapnya. Apa mungkin Genevia melakukan hal itu, karena sikapnya yang tampak acuh dan dingin selama ini.
Rasanya Evan ingin mengulang kembali kisah mereka sejak awal. Tak perlu dipertemukan dengan cara mengikat status seperti ini. Karena nyatanya kini status mereka membuat kedua dari mereka sama-sama merasa terluka.
Kini Evan menyadari sepenuhnya perasaan nya pada Genevia. Ia telah jatuh pada pesona dan kehangatan yang Genevia berikan padanya selama ini. Wanita yang senantiasa tersenyum lembut dan bersikap hangat padanya itu. Evan menyadari, dirinya telah jatuh cinta pada wanitanya.
Namun perasaannya seakan terhempas, karena perasaannya kini tak lagi berguna untuk diungkapkan dan diakui. Karena wanitanya telah berpaling pada orang lain. Dan Evan dapat melihat dengan jelas mereka saling mencintai begitu dalam.
"Tentu saja, mereka adalah milikku." Tegas David yang membuat Chelsea maupun Evan yang berada di luar nampak kecewa.
"Kau ..." belum sempat selesai berucap, David sudah memotong perkataan Chelsea.
"Lebih baik kau segera tinggalkan tempat ini. Wanita ku tak nyaman dengan kehadiran mu!" tegas David mengusir Chelsea.
"Tidak, aku tak akan membiarkan mu menyakiti perasaan adik mu seperti ini Dav." Tutur Chelsea yang juga merasa iba dengan Evan.
"Benar apa yang David katakan, pergilah dan tinggalkan tempat ini. Aku bisa mengurus semuanya sendiri." Tegas Evan yang melangkah masuk ke dalam, mengejutkan mereka semua.
Tanpa berucap apapun, Chelsea segera meninggalkan tempat itu dengan berderai air mata. Sejak tadi dirinya sudah tak sanggup berada di sana sebenarnya. Namun demi membantu Evan, juga kembali mendapatkan David. Chelsea berusaha menahan. Namun nyatanya dirinya semakin tak kuat.
Sementara Evan tak ingin melihat pemandangan di depannya, yang tentunya membuat mata dan hatinya terasa panas. Karena saat ini David dan Genivee masih asik saling berpelukan mesra.
"Kau mencintainya?" Tanya Evan pada Genivee yang bersembunyi di dada David.
"Tentu saja dia mencintai ku!" Tegas David menjawab.
"Aku bertanya padanya, karena banyak yang ingin ku tanyakan. Tapi sepertinya dia lebih khawatir padamu dibanding harus menjelaskan semuanya padaku." Tutur Evan bermaksud menyindir.
Genivee bingung dengan apa yang harus dirinya jawab. Namun kemudian David membisikkan sesuatu padanya. "katakan kau mencintaiku, supaya kita bisa segera tahu perasaan Evan pada Genevia." Bisik David dengan pelan.
Next .......