
"Benarkah kau tak mengenalku?" Akhirnya, wanita itu mengeluarkan suaranya.
Genevia tampak menatap heran dan bingung pada wanita di depannya. Apakah perkataan yang dirinya ucapkan kurang jelas, bahwa tak mengenal sama sekali. Namun wanita itu bersikap seolah-olah dirinya mengenal wanita itu.
"Tentu saja, aku tak pernah bertemu denganmu sebelumnya." Tutur Genevia.
Wanita itu tertawa kecil. "Kita memang tak pernah bertemu. Tapi pernah saling bicara. Paa kau ingat?" tanyanya tersenyum sinis.
Sontak Genevia membelalakkan mata. Dirinya merasa terkejut dengan perkataan wanita itu. Apa wanita yang menghubungi Evan di pagi buta itu adalah wanita ini.
"Ap ... apa kau Chelsea?" tanah Genevia dengan terbata.
Genevia merasa dadanya tiba-tiba sesak. Baru semalam dirinya berpikiran buruk tentang wanita bernama Chelsea. Dan saya ini, wanita itu datang dan berdiri tepat di hadapannya.
"Rupanya ingatanmu masih baik." Ujar Chelsea masih tersenyum tipis.
Genevia menekan segala rasa tidak nyaman di hatinya. Demi mendapatkan informasi siapa wanita ini sebenarnya. "Katakan, kau siapa sebenarnya? menghubungi suami wanita lain di pagi buta? Mengganggu orang lain saja."
Chelsea justru tertawa mendengar perkataan Genevia. "Benarkah aku mengganggu? Rasanya Evan tak terganggu dengan yang ku lakukan." Tuturnya dengan angkuh.
Mendengar jawaban Chelsea, membawa Genevia semakin berpikir hal-hal negatif. Apa wanita itu adalah kekasih Evan, atau seseorang yang spesial di hati Evan. Dan lain sebagainya.
Namun Genevia berusaha menepis pemikiran itu. Karena selama ini yang dirinya tahu, baik dari rumor yang beredar maupun dari cerita Keiko dan David. Bahwa Evan tak pernah memiliki teman dekat wanita sama sekali.
Jadi rasanya tidak mungkin jika wanita di depannya ini adalah kekasih Evan. Namun entah mengapa dirinya merasa begitu takut, jika kenyataan itu benar adanya. Genevia tak sanggup melihat atau mendengarnya.
"Mungkin saja begitu. Lagi pula fakta Evan yang tak pernah memiliki taman wanita, bukankah cukup meyakinkan. Aku adalah wanita satu-satunya yang berada di sekitar Evan." Tutur Chelsea.
Mendengar hal itu, Genevia semakin merasa sesak. Benar apa yang Chelsea katakan, dirinya bahkan tak mengetahui hal itu. Mengapa wanita ini tiba-tiba harus hadir saat ini, dan menganggu ketenangannya.
"Mengapa kau hanya berbelit-belit sejak tadi. Katakan, apa hubungan mu dengan suamiku?" tanya Genevia semakin tak sabar untuk mengetahui hubungan mereka.
Dengan menekankan kata suami pada Chelsea. Supaya wanita itu sadar, bahwa Evan adalah suaminya.
"Suami sementara? suami dalam pernikahan kesepakatan maksudmu?" Ucap Chelsea menertawakan Genevia.
Seketika Genevia membeku mendengar perkataan Chelsea. Sedekat apa hubungan mereka, hingga masalah pernikahan saja sampai wanita itu mengetahuinya.
"Kau .. kau tahu dari mana tentang hal itu?" tanya Genevia dengan bibir bergetar.
Rasanya kakinya terasa lemas mendengar bahwa Chelsea mengetahui tentang pernikahannya dan Evan. Sejauh mana hubungan mereka, sampai harus berbagi rahasia yang selama ini Evan sembunyikan dari siapapun. Namun ia buka pada wanita itu.
Chelsea tersenyum smirk melihat Genevia yang mulai goyah. "Apa aku harus menjelaskannya, apa hatimu akan kuat?" tanyanya masih dengan seringai tipis.
Genevia nampak berkaca-kaca mendengar jawaban Chelsea. Benar, dirinya tak akan sanggup bila mendengar langsung fakta yang tengah bersarang di kepalanya. Lebih baik dirinya tak mengetahui hal itu, daripada akan bertambah sakit.
Next .......