WINDING LOVE

WINDING LOVE
RENCANA PENGUNGKAP IDENTITAS



Dan tebakan David benar. Karena saat ini dirinya tengah sibuk menerima panggilan dari Tuan Sanders. Di mana Daddy dari David dan Evan itu sedang meminta mereka berempat untuk segera bersiap-siap membuka identitas mereka di hadapan publik.


Tuan Sanders juga telah berdiskusi bersama Tuan Albert sebelumnya. Karena setelah mendengar kabar hubungan putra bungsu dan menantunya yang sempat rusak, berangsur membaik. Tuan Sanders segera menghubungi Tuan Albert untuk mendiskusikan identitas mereka, juga pernikahan putra putri mereka itu.


"Apa Daddy yakin saat ini waktu yang tepat?" tanya David nampak masih belum siap. Mengingat kehamilan istrinya dan Genevia. David khawatir akan ada musuh yang memanfaatkan situasi lemah itu.


"Rupanya kau masih belum mengenal Daddy mu ini Dav?" ujar Tuan Sanders terkekeh yang berada di seberang.


Jelas Tuan Sanders merasa putra sulungnya itu sedang meremehkan dirinya. Bagaimana mungkin dirinya merasa takut pada siapapun. Sedangkan seluruh dunia tahu bahwa dirinya adalah kepala dari kekuatan terbesar di dunia.


Namun sepertinya, putranya itu tak mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Bukan salah Tuan Sanders jika David tak mengetahui, karena selama David yang memilih pergi dan mengasingkan diri dari keluarganya. Hingga mengetahui seberapa kuat kekuatan Sanders, David pun tampak kurang mengetahui.


David mengernyitkan keningnya kala mendengar perkataan sang ayah. David tak paham dengan maksud yang Tuan Sanders katakan. Seberapa besar kekuatan Sanders sebenarnya, sampai ayahnya begitu yakin dengan keputusan untuk mempublikasikan identitas mereka juga pernikahan mereka.


Namun setelah dipertimbangkan David memilih lebih baik menuruti perintah ayahnya. Lagipula jika benar nama Sanders dapat melindungi wanitanya juga Genevia, itu akan lebih baik. Daripada terus-menerus bersembunyi bagaikan pengecut.


"Baiklah Dad, aku akan menyampaikan informasi ini pada Evan dan juga istri kami. Aku percayakan semua tentang keamanan dan keselamatan kami pada Daddy." Tutur David mencoba percaya pada orangtuanya.


"Akhirnya kau mempercayai Daddy mu ini Dav. Tunggulah sejenak, aku dan mertuamu yang akan mencari waktu yang tepat. Kalian hanya perlu mempersiapkan diri saja." Tutur Tuan Sanders di seberang, sebelum menutup panggilannya.


"Bagaimana Sayang?" tanya Genivee yang masih berada di pangkuan David.


Meski jarak mereka begitu dekat, namun Genivee tak dapat mendengar sama sekali ucapan ayah dari suaminya itu. Hingga membuat dirinya merasa penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


Genivee hanya mengetahui tentang publikasi indentitas mereka, selebihnya dirinya tak mengetahui apa yang tengah mereka bicarakan. Hingga membuat Genivee begitu penasaran dengan apa yang sudah mereka bicarakan.


Apalagi setelah mendengar perkataan David yang mengatakan orangtua mereka akan segera menghubungi setelah melihat perkembangan hubungan kakak kembarnya dan suami kakaknya itu.


"Kita harus segera mempersiapkan diri. Orangtua kita sudah memutuskan untuk membuka identitas kita." Jelas David kepada istrinya.


Genivee tidak terlalu terkejut mendengar perkataan dan penjelasan David. Karena sejak awal dirinya yakin, bahwa sang ayah akan segera membuka identitas kedua putri mereka. Hanya menunggu waktu yang tepat saja. Dan sepertinya saat ini, adalah waktu yang tepat untuk mereka.


"Hm baiklah, kita hanya perlu menunggu saja bukan? Lagipula apa yang mesti dipersiapkan Dav?" Ujar Genivee merasa tak mengerti dengan persiapan apa yang dimaksud.


David menatap istrinya lekat, wanita di pangkuannya ini selalu bisa membuatnya gemas sendiri dengan segala tingkahnya.


"Sayang, yang dimaksud Daddy mempersiapkan diri kita hanya perlu siap dengan keadaan yang akan terjadi setelah identitas kita terungkap." Jelas David dengan mencium pipi Genivee dengan gemas.


Genivee hanya mampu terdiam dengan segala tingkah David yang nampak gemas padanya. "Ya ya kau saja yang mempersiapkan semuanya." Ujar Genivee.


Genivee merasa tak memiliki kekhawatiran atau ketakutan sama sekali. Karena di sisinya akan selalu ada David, prianya yang akan selalu melindungi dirinya. So tak ada yang bisa membantu Genivee takut. Dan Genivee tak perlu mempersiapkan apapun bukan.


Hingga tanpa aba-aba, David menegakkan tubuhnya dengan tubuh Genivee yang kini berada di dalam gendongannya. "Saatnya kita yang menikmati kebersamaan, Sayang." Goda David membawa Genivee ke kamar mereka.


"Dav!" teriak Genivee yang terkejut dengan tindakan tiba-tiba suaminya.


"Apa Sayang? Biarkan kita juga bersenang-senang." Ujar David dengan terkekeh.


Mereka melangkahkan kaki meninggalkan tempat di mana mereka sedang asik menyaksikan kebersamaan Genevia dan Evan.


Sementara di tempat Genevia dan Evan berada, mereka tampak mengalihkan pandangan ke arah di mana tempat David dan Genivee berada saat mengintai mereka.


Tentu saja mereka dapat mendengar teriakan Genivee yang cukup keras itu. Genevia merasa sedikit khawatir. "Bukankah kita harus memastikan mereka?" tanya Genevia yang akan bangkit dari duduknya.


"Mereka baik-baik saja, Sayang. Mereka hanya tengah bersenang-senang." Jelas Evan yang paham dengan kelakuan kakak dan istri kakaknya itu.


Apalagi Evan juga mengetahui bahwa sejak tadi mereka tengah diawasi oleh kedua pasangan ipar itu. Namun Evan memilih mengabaikan, karena menurutnya juga tak begitu penting. Biarlah mereka melihat dan menyaksikan bagaimana keromantisan dirinya dan Genevia.


Genevia yang mendengar perkataan Evan merasa masih belum percaya. Terlihat jelas pada mimik wajahnya, bahwa dirinya sedang menghawatirkan adiknya. "Apa kau yakin Van?" tanya Genevia.


"Tentu saja, Sayang. Apa perlu kita datangi kamar mereka?" tanya Evan menatap menggoda pada istrinya.


Genevia tampak merona mendengar perkataan Evan yang sengaja menggoda dirinya. Genevia bukan wanita polos yang tak mengerti apa yang dimaksud Evan dalam ucapannya. Tentu saja tentang kegiatan yang kemungkinan dilakukan oleh adik dan iparnya itu.


"Ti ...tidak, tak perlu memastikan apa-apa. Aku yakin Genivee baik-baik saja." Tegas Genevia dengan nada gugup.


Entahlah, berpisah sejenak dengan Evan membuka Genevia merasa sedikit perasaan malu ketika membahas hal-hal berbau intim seperti itu. Terlebih memang mereka cukup lama belum melakukan hal-hal intim itu.


Evan yang menyadari perubahan mimik wajah istrinya, tersenyum geli. Rupanya Genevia sedang malu-malu terhadapnya. Hingga membuat Evan merasa bersemangat untuk menggoda Genevia lebih lagi.


"Apa kita perlu melakukan hal yang sama seperti mereka, Sayang?" tanya Evan menatap lekat Genevia.


Jantung Genevia terasa semakin berdebar kencang mendengar perkataan Evan. Pria yang berstatus suaminya ini, nampaknya memang sengaja menggoda dirinya.


"Berhentilah Van, aku belum melupakan semua rasa kecewa ku." Tutur Genevia demi menutupi kegugupannya.


Dan perkataan Genevia membuat Evan semakin tersenyum geli. Evan menyadari perkataan Genevia hanya untuk menutupi kegugupan yang tengah istrinya rasakan. Meski sebenarnya Evan juga sadar, jika Genevia memang masih belum bisa melupakan rasa kecewa pada dirinya.


Next .......