
Setelah kejadian saat ia tanpa sengaja bertemu dengan Evan di sebuah rumah makan, Genevia menyadari satu hal bahwa pernikahan mereka disepakati tanpa harus melibatkan perasaan.
Sang Daddy yang tidak menginginkan jati dirinya terbongkar, tentu saja juga tidak ingin keselamatan dirinya terancam dengan terbongkarnya pernikahan mereka kelak.
Apalagi tidak sedikit yang mengincar Sanders untuk dijadikan partner, bagaimana reaksi mereka jika mengetahui hubungan dirinya dan Evan. Tentu saja selain nyawanya, bisnis Albert juga akan terancam.
Ia mencoba mengenyahkan segala rasa ketertarikan atau kekaguman yang sempat bersemayam di dalam hatinya. Ia rasa kedua orangtuanya juga tidak menginginkan jika nyawanya terancam karena hubungannya dengan keturunan Sanders.
Maka ia tidak akan melibatkan perasaan apapun dalam hubungan mereka. Setelah kedua pihak sama-sama diuntungkan dengan kerja sama yang telah terjalin, pasti pernikahan mereka juga akan segera diakhiri. Entah oleh Evan sendiri atau orangtuanya yang ikut andil.
...🍇🍇🍇...
Steven yang mendengar perkataan kekasihnya seketika membeku. Darahnya seolah berhenti mengalir, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Ia syok mendengar kenyataan bahwa kekasihnya telah hamil. Setelah mendapatkan kesadarannya, perlahan ia menatap Genivee yang tak berani menatapnya dirinya.
Steven menyentuh dagu Genivee, dengan lembut mengangkat wajah kekasihnya itu.
"Katakan sekali lagi, apa benar yang kau katakan?" Steven masih belum bisa percaya dengan yang ia dengar.
Genivee yang tengah menatap Steven, menangkap dengan jelas keterkejutan dan ketidakpercayaan kekasihnya itu. Melihat hal itu dirinya merasa kecewa, dapat ia tebak kemana arah pembicaraan Steven selanjutnya.
Genivee mengangguk menjawab pertanyaan Steven. "Benar Stev, aku hamil." Tekannya dengan menatap lekat Steven, untuk membuat kekasihnya itu mengerti apa yang tengah ia rasakan saat ini.
Mendengar kebenaran yang ia dengan, seketika Steven berjalan mundur menjauhi Genivee. Ia tak hanya merasa syok, juga merasakan takut. Dirinya tak siap menghadapi kenyataan ini.
Genivee menggeleng dengan perkataan Steven, mengatakan bahwa pemikiran Steven salah. Mereka pernah sekali tidak menggunakannya.
"Pernah sekali kita tidak menggunakannya, saat itu aku menanyakan kemungkinan hal ini terjadi. Tapi kau mengatakan jika sekali, tidak akan membuat ku hamil. Tapi sekarang aku hamil ... hamil Steven." Genivee mulai hilang kesabaran melihat bagaimana Steven yang menyangkal kebenaran.
Tubuh Steven tampak gemetar, kakinya terasa lemas.
"Tapi itu hanya sekali, tidak mungkin. Aku yakin tidak mungkin Vee. Apa kau berniat menipuku, supaya segera aku nikahi?" tanpa beban, Steven menuduh Genivee yang tidak-tidak.
Mendengar perkataan kekasihnya yang menuduh ia melakukan hal sepicik itu, Genivee merasa semakin kecewa. Ia menggeleng tidak menyangka dengan apa yang Steven katakan.
Inikah kekasih yang ia kenal selama ini? Selama ini ia merasa Steven begitu dalam mencintainya. Namun melihat bagaimana respon kekasihnya itu saat ini, membuat segala pemikirannya bahwa Steven sangat mencintainya salah.
Terlebih kekasihnya menuduh ini semua hanya akal-akalan saja, benar-benar membuat harga dirinya sebagai seorang wanita terluka. Untuk apa yang melakukan hal licik untuk segera dinikahi? Apa setidak laku itu dirinya.
"Kelicikan bukanlah keahlianku Stev. Jadi apa kau tidak akan bertanggung jawab atas bayi yang ku kandung?" tanya Genivee masih berharap Steven mau menerima bayinya dan bertanggung jawab atas dirinya.
Namun yang terjadi justru Steven pergi meninggalkan Genivee yang langsung menangis tersedu-sedu melihat kepergian Steven. Setega itu kekasihnya melakukan hal ini padanya.
Genivee membaringkan tubuhnya yang tampak lelah menangis di ranjang. Ia mengelus perlahan perutnya dengan tatapan nanar dan sendu.
"Maafkan Mommy, menghadirkanmu dengan cara yang salah"
NEXT .......